Ditulis oleh Tim Konten Medis
Ada sejumlah cara penanganan limbah rumah sakit yang bisa dilakukan, seperti pembakaran, autoklaf, hingga netralisasi dengan bahan kimia. Cara ini penting dilakukan untuk mencegah risiko kerusakan lingkungan dan gangguan kesehatan masyarakat.

Penanganan limbah bisa dengan pembakaran.
Cara mengelola limbah rumah sakit cenderung kompleks dan menantang. Sebab, kondisi ini memerlukan pertimbangan yang tepat untuk menghilangkan sifat bahaya atau racun dari limbah tersebut.
Meskipun begitu, penanganan limbah rumah sakit bukan berarti tidak bisa dilakukan. Anda bisa mengelola limbah ini sesuai dengan prosedur khusus yang sesuai.
Cara Pengolahan Limbah Medis dan Non Medis
Pengolahan limbah medis dan non medis dapat dilakukan melalui beberapa cara berikut:
1. Pembakaran
Meskipun penanganan limbah dengan proses pembakaran sudah banyak dikurangi. Akan tetapi cara ini masih menjadi satu-satunya metode yang digunakan untuk menangani limbah patologis, seperti bagian tubuh dan jaringan.
Baca Juga: Bahaya Tersembunyi Limbah Nuklir bagi Kesehatan Manusia
2. Autoklaf
Autoklaf merupakan metode pengolahan limbah rumah sakit dengan sterilisasi uap yang bertujuan agar limbah biohazard menjadi tidak menular. Setelah disterilkan, limbah tersebut dapat dibuang seperti biasa ke tempat pembuangan sampah padat atau dibakar.
3. Bahan Kimia
Limbah rumah sakit yang terdiri dari bahan kimia dinetralkan menggunakan bahan kimia reaktif yang menjadikannya lembap. Jenis pengolahan ini khusus untuk limbah yang bersifat kimia.
4. Microwave
Cara untuk membuat limbah rumah sakit menjadi tidak berbahaya adalah dengan memasukkannya ke dalam microwave menggunakan peralatan bertenaga tinggi. Sama seperti autoklaf, sisa pengolahan limbah dapat dibuang ke TPA atau dibakar.
Contoh Limbah Rumah Sakit
Limbah rumah sakit terdiri dari beberapa jenis, berikut kategorinya:
1. Limbah Infeksius
Limbah infeksius merupakan jenis limbah yang terkontaminasi dengan darah serta cairan tubuh, agen infeksi dari pekerjaan laboratorium (hasil otopsi dan hewan yang terinfeksi), atau dari pasien yang terinfeksi (misal perban, kapas, dan alat kesehatan sekali pakai lainnya).
Baca Juga: Waspadai Bahaya Mikroplastik untuk Kesehatan Tubuh
2. Limbah Patologis
Jenis limbah patologis terdiri dari jaringan, organ, atau cairan manusia, bagian tubuh, dan bangkai hewan yang telah terkontaminasi. Limbah ini memerlukan pengolahan yang tepat untuk mencegah risiko gangguan kesehatan masyarakat.
3. Limbah Kimia
Bahan-bahan persediaan di laboratorium seperti: pelarut, reagen, disinfektan, bahan sterilisasi, serta logam berat yang terkandung dalam alat-alat kesehatan. Sebagai contoh, merkuri dalam termometer dan bakteri.
4. Limbah Benda Tajam
Tim medis biasanya menggunakan limbah benda tajam, seperti suntik, jarum jahit, pisau beda, atau pisang sekali pakai sesuai dengan kebutuhan di rumah sakit. Jika mereka tidak mengolah limbah benda tajam dengan baik, hal ini bisa melukai masyarakat dan hewan liar.
5. Limbah Farmasi
Jenis limbah farmasi berasal dari obat-obatan serta vaksin yang sudah kadaluarsa, tidak terpakai, dan terkontaminasi. Limbah ini memerlukan pengolahan yang tepat agar tidak merusak lingkungan sekitar.
Baca Juga: Apa Itu Kanker Darah? Kenali Penyebab hingga Gejalanya
5. Limbah Radioaktif
Limbah radioaktif adalah produk yang terkontaminasi radionuklida. Produk ini termasuk bahan diagnostik radioaktif atau bahan radioterapi.
6. Limbah Tidak Berbahaya atau Limbah Umum
Limbah ini tidak menimbulkan dampak bahaya kimia, biologis, radioaktif, atau fisik tertentu. Meskipun begitu, limbah yang tidak berbahaya perlu Anda olah dengan tepat agar tidak mencemari lingkungan.
7. Limbah Sitotoksik
Limbah sitotoksik adalah jenis limbah yang mengandung zat dengan sifat genotoksik. Sifat ini berasal dari zat sangat berbahaya dan bersifat mutagenik, teratogenik, atau karsinogenik. Misalnya, obat sitotoksik sebagai pengobatan kanker dan metabolitnya.
Baca Juga: Macam-Macam Kanker Paling Banyak Ditemukan di Indonesia
Bagaimana Cara Penanganan Limbah Rumah Sakit?
Cara penanganan limbah rumah sakit terdiri dari beberapa hal, sebagai berikut:
1. Ketahui Aturan Hukum Limbah Layanan Kesehatan
Pemerintah telah mengatur pengelolaan limbah medis melalui aturan hukum yang berlaku. Sebelum melakukan proses penanganan limbah rumah sakit, perlu mengetahui seluruh pedoman dari setiap negara maupun lembaga, terkait cara menyiapkan, memindahkan, dan membuang limbah yang berbahaya.
2. Klasifikasikan Jenis Limbah Dengan Benar
Langkah awal penanganan limbah rumah sakit adalah dengan melakukan klasifikasi. Hal ini sangat penting karena limbah biasanya terdiri dari beragam jenis.
Klasifikasi limbah juga bertujuan untuk menentukan jenis penanganan yang sesuai dan memisahkan sampah berdasarkan jenisnya.
3. Pilih Wadah Limbah Rumah Sakit yang Tepat
Tidak semua limbah rumah sakit dapat masuk ke dalam satu wadah yang sama. Sebagai contoh, tim medis harus memasukkan limbah benda tajam ke dalam wadah anti bocor.
Jika memasukkannya ke dalam kantong plastik, hal ini bisa menyebabkan wadah rusak dan limbah tercecer. Pastikan untuk memberi label pada semua limbah yang telah Anda kumpulkan.
Baca Juga: Mengenal 15 Jenis Penyakit Kulit: Penyebab dan Gejalanya
4. Mencari Bantuan Jasa Pembuangan Limbah
Penanganan limbah rumah sakit bisa sangat menantang bagi petugas kesehatan. Penanganan ini membutuhkan mitra atau vendor untuk membantu dalam meringankan pengolahan limbah. Pastikan memilih mitra yang paham mengenai aturan, bahan, dan jenis-jenis limbah.
Mengapa Limbah dari Rumah Sakit Memerlukan Penanganan Khusus?
Terdapat beberapa alasan mengapa penanganan limbah rumah sakit memerlukan penanganan khusus:
1. Risiko Kesehatan
Limbah rumah sakit mengandung berbagai mikroorganisme berbahaya yang dapat menginfeksi pasien, petugas kesehatan, dan masyarakat umum. Beberapa contoh bahaya yang mungkin terjadi:
- Mengalami keracunan dari produk farmasi, khususnya antibiotik dan obat sitotoksis
- Luka bakar kimia yang timbul akibat kegiatan desinfeksi, sterilisasi, atau pengelolaan limbah
- Pencemaran udara akibat pembakaran limbah medis
- Luka bakar radiasi.
Oleh karena itu, penting untuk menyadari dan mengetahui cara pengelolaan yang tepat untuk menghindari risiko tersebut.
2. Risiko Terkait Benda Tajam
Suntik menjadi salah satu alat medis yang menyumbang sebagian besar limbah rumah sakit. Jika tim medis tidak membuangnya dengan aman, hal ini bisa meningkatkan risiko cedera dan infeksi, serta oknum bisa mempergunakannya kembali.
Suntikan yang terkontaminasi dapat menyebar dan memicu penularan penyakit. Selain itu, bahaya tambahan juga terjadi dari pemulungan limbah suntik dari fasilitas kesehatan. Para pemulung, dapat terpapar secara langsung bahan beracun serta mengalami risiko luka dari jarum suntik.
3. Risiko Masalah Lingkungan
Masalah utama dari penanganan limbah rumah sakit yang tidak tepat terhadap lingkungan adalah tercemarnya lingkungan, dengan pelepasan patogen serta polutan beracun.
Pengolahan limbah rumah sakit yang tidak tepat dapat menyebabkan kontaminasi air minum, air permukaan, dan tanah. Hal ini juga serupa apabila pembangunan pembuangan tidak benar.
Selain itu, pembakaran limbah rumah sakit yang tidak memadai atau pembakaran pada bahan yang tidak sesuai dapat menyebabkan pelepasan polutan ke udara dan menghasilkan residu abu. Hal ini berisiko tinggi pada orang-orang yang tinggal di sekitar lingkungan tempat pembakaran.
Itulah pembahasan seputar penanganan limbah rumah sakit yang perlu Anda ketahui. Jika Anda mengalami gangguan kesehatan akibat terpapar racun limbah yang dengan tanda-tanda, seperti mual, muntah, dan sakit perut, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.
Anda bisa kunjungi rumah sakit Ciputra Hospital terdekat untuk konsultasi kesehatan. Cek layanan rumah sakit Ciputra Hospital mulai dari rawat jalan hingga Medical Check Up (MCU).
Yuk, jaga dan cek kondisi kesehatan Anda sekeluarga bersama Ciputra Hospital!
Telah direview oleh dr. Dwi Sheila Amellita
Source:
- Danies Health. How do Hospitals Dispose of their Healthcare Waste. Juni 2024.
- World Health Organization. Health-Care Waste. Juni 2024.