Klebsiella pneumoniae adalah bakteri yang secara alami hidup di saluran pencernaan dan pernapasan manusia, tetapi dapat menyebabkan infeksi serius ketika masuk ke bagian tubuh lain. Bakteri ini menjadi penyebab di beberapa infeksi seperti pneumonia, infeksi saluran kemih, dan infeksi aliran darah yang umumnya terjadi melalui kontak langsung atau penggunaan alat medis yang terkontaminasi.

Infeksi Klebsiella pneumoniae dapat menimbulkan berbagai gejala tergantung organ yang terdampak, seperti demam, menggigil, batuk berdahak, sesak napas, nyeri saat buang air kecil, hingga sakit kepala dan leher kaku pada kondisi yang lebih serius. Pada kasus tertentu, infeksi juga bisa menyebabkan komplikasi berat seperti bakteremia, meningitis, atau abses hati jika tidak segera ditangani.
Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan tangan secara rutin, terutama sebelum makan, setelah dari toilet, dan setelah menyentuh permukaan di fasilitas kesehatan. Selain itu, penggunaan alat medis seperti kateter atau ventilator harus diawasi dengan ketat serta menerapkan protokol kebersihan yang baik untuk menurunkan risiko penularan.
Apa Itu Klebsiella Pneumoniae?
Klebsiella pneumoniae adalah bakteri yang secara alami dapat ditemukan di saluran pencernaan (tinja) dan saluran pernapasan manusia, serta di lingkungan seperti tanah dan air. Dalam kondisi tertentu, bakteri ini dapat berpindah dan menyebabkan infeksi serius, terutama pada orang dengan daya tahan tubuh lemah atau yang menjalani perawatan medis.
Infeksi akibat bakteri ini bisa menyerang berbagai organ tubuh dan menimbulkan komplikasi bila tidak segera ditangani. Beberapa jenisnya juga kebal terhadap antibiotik tertentu sehingga pengobatannya menjadi lebih menantang.
Infeksi yang dapat disebabkan oleh Klebsiella pneumoniae meliputi:
- Infeksi perut, seperti abses hati dan peritonitis
- Infeksi aliran darah (bakteremia)
- Meningitis
- Pneumonia
- Infeksi kulit, seperti selulitis
- Infeksi saluran kemih
- Infeksi pada luka atau bekas operasi
Jenis Klebsiella pneumoniae sebagai berikut:
- Tipe klasik (classic): Dapat hidup di dalam tubuh tanpa menimbulkan gejala, tetapi berisiko menyebabkan infeksi di rumah sakit atau fasilitas perawatan jangka panjang. Biasanya menyerang pasien dengan alat medis seperti kateter atau yang memiliki penyakit penyerta.
- Tipe hipervirulen (hypervirulent): Lebih agresif dan berisiko menimbulkan infeksi berat. Jenis ini dapat menyerang orang di luar fasilitas kesehatan dan menyebabkan infeksi yang didapat dari komunitas.
Baca Juga: Bagaimanakah Cara Bakteri Menimbulkan Penyakit? Ketahui Infeksi Bakteri dan Lama Waktu Sembuh
Penyebab Infeksi Bakteri Klebsiella Pneumoniae
Bakteri Klebsiella pneumoniae bisa menyebabkan penyakit ketika masuk ke dalam tubuh melalui kontak langsung, misalnya saat tangan yang terkontaminasi menyentuh luka terbuka. Penularannya tidak melalui udara, melainkan melalui sentuhan atau paparan benda yang telah terkontaminasi bakteri.
Penyebab Klebsiella pneumoniae paling sering berkaitan dengan lingkungan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit atau panti jompo, terutama di tempat dengan banyak pasien. Penularan dapat terjadi melalui tangan tenaga kesehatan yang tidak dibersihkan dengan baik atau melalui alat medis yang terpasang pada tubuh pasien. Penyebaran juga dapat terjadi melalui penggunaan alat medis seperti:
- Selang infus (IV tubes) yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah untuk memberikan cairan atau obat
- Selang endotrakeal dan ventilator yang membantu proses pernapasan
- Kateter urine yang digunakan untuk mengalirkan urine saat pasien tidak dapat buang air kecil sendiri
Gejala Infeksi Klebsiella Pneumoniae
Infeksi Klebsiella pneumoniae dapat menyerang berbagai organ tubuh, mulai dari paru-paru hingga aliran darah, tergantung lokasi masuknya bakteri. Gejalanya bisa muncul secara tiba-tiba dan memburuk dengan cepat, sehingga penting untuk mengenal tanda-tandanya sejak awal.
1. Infeksi Aliran Darah (Bakteremia)
Infeksi aliran darah terjadi ketika Klebsiella pneumoniae masuk ke dalam darah dan berkembang biak. Kondisi ini bisa berasal langsung dari darah (bakteremia primer) atau menyebar dari infeksi di organ lain (bakteremia sekunder).
Gejala biasanya muncul mendadak dan dapat berkembang menjadi kondisi serius seperti sepsis jika tidak segera ditangani. Berikut tanda-tandanya:
- Demam
- Menggigil
- Tubuh gemetar atau meriang hebat
2. Pneumonia (Infeksi Paru-Paru)
Bakteri ini sering menyebabkan pneumonia bakteri ketika masuk ke saluran pernapasan dan menginfeksi paru-paru. Infeksi bisa terjadi di lingkungan umum (community-acquired) maupun di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit (hospital-acquired).
Gejala pneumonia akibat Klebsiella pneumoniae dapat memengaruhi sistem pernapasan secara signifikan dan menimbulkan keluhan berikut:
- Demam
- Menggigil
- Batuk
- Dahak berwarna kuning atau bercampur darah
- Sesak napas
- Nyeri dada
3. UTI (Infeksi Saluran Kemih)
Jika bakteri masuk ke saluran kemih, infeksi dapat terjadi pada uretra, kandung kemih, ureter, hingga ginjal. Risiko lebih tinggi pada pengguna kateter urine, penderita gangguan ginjal, dan perempuan karena faktor anatomi. Sebagian kasus tidak menimbulkan gejala, tetapi jika muncul, keluhannya bisa berupa:
- Sering ingin buang air kecil
- Nyeri atau sensasi terbakar saat buang air kecil
- Urine keruh atau bercampur darah
- Volume urine sedikit
- Nyeri punggung atau panggul
- Tidak nyaman di perut bagian bawah
- Demam
Jika infeksi mencapai ginjal (UTI bagian atas), gejalanya dapat lebih berat, seperti:
- Demam tinggi
- Menggigil
- Mual
- Muntah
- Nyeri di punggung bagian atas atau samping
4. Infeksi Kulit dan Jaringan Lunak
Infeksi kulit biasanya terjadi ketika bakteri masuk melalui luka terbuka akibat cedera atau prosedur operasi. Kondisi ini dapat berkembang menjadi infeksi jaringan lunak yang lebih dalam.
Jenis infeksi yang dapat terjadi meliputi selulitis, fasciitis nekrotikan, atau infeksi otot. Gejala yang mungkin muncul antara lain:
- Demam
- Kemerahan atau perubahan warna kulit
- Pembengkakan
- Nyeri
- Gejala mirip flu
- Kelelahan
- Luka atau ulkus
5. Meningitis
Dalam kasus yang jarang, bakteri dapat menyebar ke cairan di sekitar otak dan sumsum tulang belakang sehingga menyebabkan meningitis bakteri. Kondisi ini termasuk serius dan memerlukan penanganan medis segera. Gejala meningitis biasanya muncul tiba-tiba dan dapat meliputi:
- Demam tinggi
- Sakit kepala
- Leher kaku
- Mual
- Muntah
- Sensitif terhadap cahaya
- Kebingungan
- Kejang (jarang terjadi)
6. Endophthalmitis
Jika bakteri menyebar melalui darah ke mata, dapat terjadi infeksi serius yang disebut endophthalmitis. Kondisi ini menyebabkan peradangan pada bagian dalam mata dan berisiko mengganggu penglihatan. Gejala yang dapat dirasakan antara lain:
- Nyeri mata
- Mata merah atau perubahan warna lainnya
- Keluar cairan putih atau kuning dari mata
- Kornea tampak keruh atau keputihan
- Sensitif terhadap cahaya
- Penglihatan kabur
7. Abses Hati Piogenik
Abses hati piogenik terjadi ketika bakteri menginfeksi jaringan hati dan membentuk kantong berisi nanah. Kondisi ini lebih sering terjadi pada individu dengan diabetes, riwayat konsumsi alkohol berlebihan, atau penggunaan antibiotik jangka panjang. Gejala umum yang dapat muncul meliputi:
- Demam
- Nyeri di perut kanan atas
- Mual
- Muntah
- Diare
Baca Juga: Mengenal Bakteri Escherichia coli (E. Coli) dan Penyakitnya
Pengobatan Infeksi Klebsiella Pneumoniae
Pengobatan utama infeksi Klebsiella pneumoniae adalah pemberian antibiotik yang disesuaikan dengan hasil pemeriksaan laboratorium, seperti tes darah, urine, dahak, atau cairan tubuh lainnya. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui jenis antibiotik yang paling efektif, misalnya golongan sefalosporin seperti cefepime, fluoroquinolone seperti ciprofloxacin, atau kombinasi dengan aminoglikosida, tergantung tingkat keparahan dan lokasi infeksi.
Durasi pengobatan umumnya berlangsung sekitar 10–14 hari dan harus dihabiskan sesuai anjuran dokter agar infeksi tidak kambuh atau menjadi kebal antibiotik. Infeksi Klebsiella pneumoniae pada dasarnya bisa sembuh jika ditangani sejak dini dan dengan terapi yang tepat, tetapi pada kasus yang resisten antibiotik, dokter mungkin akan mengganti atau mengombinasikan obat untuk memastikan bakteri dapat teratasi dengan optimal.
Cara Mencegah Infeksi Klebsiella Pneumoniae
Menjaga kebersihan tangan merupakan langkah sederhana namun sangat efektif untuk mencegah penyebaran Klebsiella pneumoniae, terutama di lingkungan rumah sakit atau saat merawat orang sakit. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer berbasis alkohol dapat membantu menurunkan risiko penularan bakteri. Pasien disarankan untuk rutin membersihkan tangan, terutama pada waktu-waktu berikut:
- Sebelum menyiapkan atau mengonsumsi makanan
- Sebelum menyentuh mata, hidung, atau mulut
- Sebelum dan setelah mengganti perban atau balutan luka
- Setelah menggunakan toilet
- Setelah membuang ingus, batuk, atau bersin
- Setelah menyentuh permukaan di rumah sakit, seperti pagar tempat tidur, meja samping tempat tidur, gagang pintu, remote televisi, atau telepon
Baca Juga: Pahami Bagaimana Cara Mencegah Penyakit yang Disebabkan oleh Bakteri
Jika Anda atau keluarga Anda mengalami bakteri klebsiella pneumoniae, segera kunjungi Ciputra Hospital. Dapatkan kemudahan untuk konsultasi dan membuat janji dengan dokter pilihan Anda.
Cek informasi lengkap mengenai layanan Ciputra Hospital, mulai dari rawat jalan hingga Medical Check Up (MCU), hanya di situs resmi atau kunjungi langsung fasilitas terdekat sekarang juga.






