Kanker endometrium adalah jenis kanker yang terjadi ketika sel-sel kanker berkembang pada lapisan dalam rahim (endometrium), yaitu dinding rahim tempat menempelnya sel telur setelah dibuahi. Kanker ini bisa terjadi pada siapa saja, namun paling berisiko pada wanita menopause, mengalami ketidakseimbangan hormon, hingga obesitas atau berat badan berlebih.

Kanker endometrium adalah jenis kanker yang tumbuh di lapisan dalam endometrium. Penyakit ini paling sering terjadi pada wanita yang sudah menopause, namun bisa juga sebelum masa tersebut.
Meskipun termasuk salah satu kanker ginekologi yang cukup umum, kanker endometrium dapat Anda atasi dengan baik jika terdeteksi lebih awal. Mengenali gejala, seperti perdarahan tidak normal, dan memahami fungsi endometrium sangat penting dalam proses diagnosis dan pengobatan.
Apa Itu Kanker Endometrium?
Kanker endometrium adalah jenis kanker yang muncul dari pertumbuhan sel abnormal pada lapisan dalam rahim, yang bernama endometrium. Endometrium adalah jaringan tipis yang melapisi bagian dalam uterus (rahim), organ berbentuk seperti buah pir terbalik yang terletak di area panggul wanita.
Lapisan ini berperan penting dalam siklus menstruasi dan kehamilan karena menjadi tempat menempelnya sel telur yang telah terbuahi. Namun, jika sel-sel pada lapisan ini tumbuh secara tidak terkendali, dapat berkembang menjadi kanker endometrium.
Penyakit ini sering kali terdeteksi lebih awal karena gejalanya yang cukup jelas, terutama berupa perdarahan vagina yang tidak normal di luar siklus menstruasi atau setelah menopause.
Baca Juga: Waspadai 6 Gejala Kanker Rahim Stadium 1 Awal
Gejala Kanker Endometrium
Kanker endometrium terjadi ketika sel-sel sehat di lapisan rahim mengalami perubahan atau mutasi. Sel-sel abnormal tersebut berkembang biak dengan cepat, tidak mati seperti sel normal, dan dapat membentuk tumor yang kemudian menyebar ke jaringan di sekitar rahim.
Mengetahui gejala kanker endometrium sejak dini sangat penting agar penanganan dapat dokter lakukan lebih cepat dan efektif. Beberapa gejala kanker endometrium yang perlu Anda waspadai antara lain:
- Perdarahan vagina yang tidak normal, seperti perubahan signifikan pada siklus menstruasi atau perdarahan di luar waktu haid.
- Nyeri pada area panggul yang muncul secara terus-menerus tanpa sebab yang jelas.
- Perdarahan atau flek setelah menopause, meskipun hanya sedikit, tetap perlu periksa karena bisa menjadi tanda awal adanya masalah pada rahim.
Jenis Kanker Endometrium
Kanker endometrium dapat Anda bedakan menjadi beberapa jenis utama berdasarkan asal dan karakteristik sel kanker. Pembagian ini penting untuk menentukan pengobatan yang sesuai dan memperkirakan prognosis, termasuk stadium kanker endometrium yang pasien alami.
Berikut ini adalah tipe-tipe utama kanker endometrium yang perlu Anda ketahui:
1. Endometrial Carcinomas
Endometrial carcinomas adalah jenis kanker endometrium yang paling umum, mulai dari sel-sel yang melapisi bagian dalam rahim. Tipe ini mencakup beberapa variasi histologis yang ditetapkan oleh WHO, seperti endometrioid carcinoma, serous carcinoma, clear cell carcinoma, dan lainnya.
Penentuan jenis histologis sangat penting karena masing-masing memiliki tingkat keganasan dan kemungkinan penyebaran yang berbeda.
2. Endometrioid Adenocarcinoma
Merupakan bentuk paling sering ditemukan dari endometrial carcinomas. Kanker ini berasal dari sel kelenjar yang membentuk jaringan endometrium normal.
Karena karakteristik selnya yang menyerupai jaringan rahim sehat, endometrioid adenokarsinoma umumnya terdeteksi lebih awal dan memiliki prognosis yang lebih baik, terutama jika stadium kanker endometrium masih rendah saat terdiagnosis.
3. Uterine Carcinosarcoma
Karsinosarkoma uterus adalah jenis kanker yang unik karena memiliki ciri-ciri gabungan antara karsinoma (kanker dari sel epitel) dan sarkoma (kanker dari jaringan ikat atau otot). Meski berasal dari endometrium, sel kanker ini telah berubah sangat abnormal sehingga tidak lagi menyerupai jaringan asalnya.
Jenis ini tergolong agresif dan sering kali ada dalam stadium kanker endometrium yang lebih lanjut.
Penyebab Kanker Endometrium
Hingga saat ini, penyebab penyakit ini secara pasti belum diketahui. Namun, para ahli memahami bahwa kanker endometrium karena adanya perubahan genetik (mutasi DNA) pada sel-sel yang melapisi rahim atau endometrium.
Perubahan ini membuat sel-sel tersebut tumbuh dan berkembang secara tidak normal, membelah diri lebih cepat dari seharusnya, dan tidak mati sesuai siklus alami tubuh. Akibatnya, sel-sel abnormal menumpuk dan membentuk massa atau tumor yang bisa menyerang jaringan sehat di sekitarnya.
Sel-sel kanker tersebut tidak hanya bisa merusak jaringan di sekitarnya, tetapi juga dapat menyebar ke bagian tubuh lain. Dalam kasus tertentu, penyakit ini bisa berkembang bersamaan dengan penyakit lain pada sistem reproduksi wanita, seperti kanker ovarium.
Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor risiko yang bisa meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kondisi ini.
Faktor Risiko Kanker Endometrium
- Ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron. Kondisi seperti obesitas, diabetes, atau sindrom ovarium polikistik dapat meningkatkan kadar estrogen tanpa Anda imbangi progesteron, yang menjadi salah satu penyebab kanker endometrium.
- Menstruasi dalam rentang waktu panjang. Menstruasi terlalu dini (sebelum usia 12 tahun) atau menopause terlambat meningkatkan paparan estrogen, sehingga berisiko lebih tinggi.
- Belum pernah hamil. Wanita yang belum pernah mengalami kehamilan memiliki risiko lebih tinggi daripada mereka yang pernah hamil.
- Usia lanjut. Penyakit ini lebih sering ada pada wanita yang sudah menopause atau berusia lanjut.
- Obesitas. Lemak tubuh yang berlebih dapat mengganggu keseimbangan hormon dan memicu pertumbuhan sel abnormal di endometrium.
- Terapi hormon kanker payudara. Penggunaan tamoxifen, obat terapi hormon untuk kanker payudara, dapat meningkatkan risiko kanker endometrium meskipun manfaatnya sering kali lebih besar dari risikonya.
- Kanker ovarium jenis tertentu. Tumor ovarium langka yang menghasilkan hormon estrogen dapat meningkatkan risiko kanker endometrium.
- Sindrom Lynch (sindrom kanker turunan). Merupakan kelainan genetik yang meningkatkan risiko beberapa jenis kanker, termasuk kanker usus besar dan kanker endometrium.
Baca Juga: Ini 5 Jenis Kanker Paling Ganas dan Mematikan di Indonesia
Cara Mendeteksi Kanker Endometrium
Berikut beberapa cara diagnosis kanker endometrium yang biasa dokter gunakan:
1. Riwayat Kesehatan dan Pemeriksaan Fisik
Jika mengalami gejala kanker endometrium, segera periksakan ke dokter. Dokter akan menanyakan keluhan, faktor risiko, dan riwayat kesehatan sebelum melakukan pemeriksaan panggul.
Dalam pemeriksaan panggul, dokter memeriksa rahim, vagina, ovarium, dan rektum untuk mencari adanya kondisi yang tidak biasa. Tes pap smear biasanya bersamaan dengan pemeriksaan panggul dan digunakan untuk skrining kanker serviks. Namun, pada beberapa kasus, tes ini juga bisa menemukan sel kelenjar abnormal akibat kanker endometrium
2. USG
USG sering menjadi salah satu pemeriksaan awal untuk melihat kondisi rahim, ovarium, dan tuba falopi saat muncul masalah pada organ reproduksi. Pemeriksaan ini menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambaran bagian dalam tubuh.
Pada USG panggul, alat bernama transduser atau probe dokter gerakkan di atas kulit bagian bawah perut. Agar rahim, ovarium, dan tuba falopi terlihat lebih jelas, kandung kemih biasanya dalam keadaan penuh.
Ada juga USG transvaginal (TVUS) yang sering memberikan gambaran rahim dengan lebih jelas. Alat USG dokter masukkan melalui vagina untuk melihat kondisi di dalam rahim, termasuk kemungkinan adanya massa atau tumor serta lapisan endometrium yang lebih tebal dari biasanya.
Temuan tersebut bisa menjadi tanda kanker endometrium. TVUS juga membantu melihat apakah kanker sudah tumbuh ke lapisan otot rahim (miometrium).
Dalam pemeriksaan tertentu, dokter bisa memasukkan air garam (saline) ke dalam rahim agar lapisan rahim terlihat lebih jelas.
3. Pengambilan Sampel Jaringan Endometrium
Untuk mengetahui secara pasti perubahan pada jaringan endometrium, dokter perlu mengambil sampel jaringan untuk diperiksa di bawah mikroskop. Jaringan tersebut bisa diambil melalui biopsi endometrium atau dilatasi dan kuretase (D&C) dengan atau tanpa histeroskopi.
Prosedur ini biasanya dilakukan oleh dokter spesialis kandungan. Berikut penjelasannya lebih lanjut:
- Biopsi Endometrium: Pemeriksaan ini paling sering untuk mendiagnosis kanker endometrium dan sangat akurat pada wanita yang sudah menopause. Dokter akan memasukkan selang tipis dan lentur melalui leher rahim, lalu mengambil sedikit jaringan dengan bantuan alat pengisap. Prosesnya berlangsung sekitar satu menit atau kurang dan dapat menimbulkan rasa tidak nyaman seperti kram menstruasi. Obat seperti ibuprofen dapat Anda minum sebelum tindakan untuk mengurangi rasa tidak nyaman. Dokter juga bisa memberikan anestesi lokal pada leher rahim sebelum prosedur.
- Histeroskopi: Memasukkan alat kecil berbentuk teropong melalui leher rahim ke dalam rahim. Rahim dokter iisi cairan saline agar bagian dalamnya terlihat lebih jelas sehingga dapat mencari kelainan seperti kanker atau polip. Prosedur ini bisa dilakukan dengan anestesi lokal.
- Dilatasi dan Kuretase (D&C): D&C dilakukan jika sampel biopsi tidak cukup atau hasil biopsi menunjukkan kemungkinan kanker tetapi belum jelas. Leher rahim dilebarkan, kemudian dokter mengambil jaringan dari dalam rahim menggunakan alat khusus. D&C merupakan prosedur singkat yang dapat dilakukan sebagai tindakan rawat jalan dengan jenis anestesi yang disesuaikan oleh tim medis.
4. Pemeriksaan Sampel Jaringan Endometrium
Sampel jaringan yang diambil melalui biopsi atau D&C akan diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat ada tidaknya kanker. Jika ditemukan kanker, laporan laboratorium biasanya mencantumkan jenis dan tingkat kanker.
Laporan tersebut juga bisa mencantumkan pemeriksaan awal untuk sindrom Lynch serta klasifikasi molekuler lainnya. Sel tumor juga bisa diperiksa untuk melihat perubahan pada protein dan gen.
Pemeriksaan ini membantu mengetahui risiko sindrom Lynch sekaligus melihat karakteristik molekuler tumor yang dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan pengobatan.
Perubahan yang dapat diperiksa meliputi:
- Berkurangnya protein perbaikan ketidakcocokan DNA (MMR)
- Kelainan pada gen perbaikan ketidakcocokan DNA (dMMR)
- Perubahan DNA berupa microsatellite instability tingkat tinggi (MSI-H)
Jika ditemukan perubahan pada protein atau DNA tersebut, dokter akan menyarankan pemeriksaan genetik untuk melihat gen yang berkaitan dengan sindrom Lynch.
Sel kanker juga dapat diperiksa untuk mengetahui apakah imunoterapi bisa menjadi pilihan pengobatan, terutama pada kanker endometrium yang sudah lebih lanjut.
5. Pemeriksaan untuk Melihat Penyebaran Kanker Endometrium
Bila dokter mencurigai kanker sudah berkembang lebih lanjut, beberapa pemeriksaan lain mungkin diperlukan untuk melihat apakah kanker telah menyebar ke bagian tubuh lain.
- Rontgen Dada: Dilakukan untuk melihat apakah kanker sudah menyebar ke paru-paru.
- CT Scan: Menggunakan sinar-X untuk menghasilkan gambar bagian dalam tubuh secara lebih detail. CT scan bukan untuk mendiagnosis kanker endometrium, tetapi membantu melihat apakah kanker sudah menyebar ke organ lain atau kembali setelah pengobatan.
- MRI: Membantu melihat seberapa jauh kanker endometrium tumbuh ke dalam dinding rahim. MRI juga bisa menemukan kelenjar getah bening yang membesar dengan teknik khusus menggunakan partikel besi oksida berukuran sangat kecil.
- PET Scan: Pasien diberikan glukosa radioaktif untuk membantu menemukan sel kanker. Sel kanker menggunakan lebih banyak glukosa dibandingkan jaringan normal sehingga zat radioaktif cenderung terkumpul di area kanker. PET scan dapat membantu menemukan kumpulan sel kanker berukuran kecil dan bisa digabungkan dengan CT scan untuk mengetahui lokasi penyebaran kanker dengan lebih tepat.
- Sistoskopi dan Proktoskopi: Jika ada tanda kanker mungkin sudah menyebar ke kandung kemih atau rektum, dokter dapat melihat bagian dalam organ tersebut menggunakan alat berbentuk selang dengan lampu. Pada sistoskopi, alat dimasukkan melalui uretra hingga ke kandung kemih, sedangkan pada proktoskopi alat dimasukkan ke dalam rektum. Sampel jaringan juga bisa diambil untuk diperiksa.
6. Pemeriksaan Darah
- Tes Hitung Darah Lengkap (CBC): Mengukur jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Kanker endometrium menyebabkan perdarahan sehingga jumlah sel darah merah menurun dan menyebabkan anemia.
- Tes darah CA-125: CA-125 merupakan zat yang dilepaskan ke dalam aliran darah oleh sebagian kanker endometrium dan kanker ovarium. Tes ini tidak digunakan untuk mendiagnosis kanker endometrium, tetapi beberapa dokter menggunakannya untuk melihat respons terhadap pengobatan. Misalnya, kadar CA-125 bisa tinggi sebelum operasi atau pengobatan dan kemudian menurun setelahnya.
Stadium Kanker Endometriosis
Stadium kanker endometrium menunjukkan seberapa jauh kanker telah menyebar di dalam tubuh. Kanker endometrium dibagi menjadi stadium I hingga IV berdasarkan lokasi dan luas penyebarannya.
1. Stadium I
Kanker masih terbatas di rahim. Stadium ini terbagi menjadi IA dan IB, tergantung seberapa jauh kanker masuk ke miometrium atau lapisan otot rahim.
Stadium IA berarti kanker masih berada di endometrium atau sudah masuk ke miometrium, tetapi belum mencapai setengah bagian lapisan tersebut. Sementara itu, stadium IB menunjukkan kanker sudah mencapai setengah atau lebih dari miometrium.
2. Stadium II
Kanker telah menyebar ke jaringan ikat pada serviks atau leher rahim, tetapi masih berada di dalam rahim dan belum mencapai bagian tubuh di luar rahim.
3. Stadium III
Kanker sudah melewati rahim dan serviks, hanya saja penyebarannya masih berada di area panggul. Stadium III terbagi menjadi IIIA, IIIB, dan IIIC berdasarkan lokasi penyebarannya.
Pada stadium IIIA berarti kanker telah mencapai lapisan luar rahim atau menyebar ke tuba falopi, ovarium, atau ligamen rahim. Stadium IIIB menunjukkan penyebaran ke vagina atau parametrium, yaitu jaringan ikat dan lemak di sekitar rahim dan serviks.
Stadium IIIC berarti kanker telah mencapai kelenjar getah bening di area panggul atau kelenjar getah bening di sekitar aorta.
4. Stadium IV
Kanker sudah menyebar ke luar area panggul. Stadium ini terbagi menjadi IVA dan IVB sesuai lokasi penyebarannya.
Stadium IVA berarti kanker telah mencapai kandung kemih atau dinding usus. Sedangkan, stadium IVB menunjukkan kanker telah menyebar ke bagian tubuh lain di luar panggul, termasuk area perut atau kelenjar getah bening di selangkangan.
Cara Mengatasi Kanker Endometrium
Penanganan kanker endometrium biasanya sesuai dengan stadium, tingkat keganasan, serta kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh. Mengingat fungsi endometrium yang penting dalam sistem reproduksi wanita, pengobatan bertujuan untuk mengangkat sel kanker sekaligus mencegah penyebarannya.
Beragam metode terapi dapat Anda gunakan, mulai dari operasi hingga terapi berbasis kekebalan tubuh. Berikut ini beberapa pilihan pengobatan kanker endometrium:
1. Operasi (Surgery)
Operasi merupakan metode utama untuk mengangkat kanker endometrium dan menentukan sejauh mana penyebarannya. Tindakan ini bisa berupa histerektomi total (pengangkatan rahim dan leher rahim), salpingo-ooforektomi bilateral (pengangkatan ovarium dan tuba falopi), hingga diseksi kelenjar getah bening.
Dalam beberapa kasus, melakukan histerektomi radikal jika kanker telah menyebar ke jaringan sekitarnya.
2. Terapi Radiasi (Radiation Therapy)
Terapi ini menggunakan sinar energi tinggi untuk membunuh sel kanker. Bisa dari luar tubuh melalui external beam radiation, atau dari dalam menggunakan brachytherapy.
Biasanya melakukan setelah operasi atau sebagai alternatif jika pasien tidak dapat menjalani pembedahan.
3. Kemoterapi (Chemotherapy)
Kemoterapi menggunakan obat-obatan untuk menghancurkan atau menghambat pertumbuhan sel kanker. Dapat memberikan tunggal atau kombinasi tergantung tingkat penyebaran dan kecepatan pertumbuhan kanker.
4. Terapi Hormon (Hormone Therapy)
Jika kanker bergantung pada hormon untuk tumbuh, terapi ini bertujuan untuk menghambat kerja hormon tersebut. Obat-obatan seperti progestin, tamoxifen, atau aromatase inhibitor berguna untuk mengurangi atau memblokir efek hormon terhadap sel kanker.
5. Terapi Target (Targeted Therapy)
Jenis terapi ini bekerja dengan cara menyerang molekul atau gen tertentu yang berperan dalam pertumbuhan dan penyebaran sel kanker. Targeted therapy untuk bekerja secara spesifik pada sel kanker tanpa terlalu merusak sel normal.
6. Imunoterapi (Immunotherapy)
Imunoterapi membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan melawan sel kanker dengan lebih efektif. Terapi ini sangat berguna terutama pada kasus kanker endometrium yang sudah tidak merespons pengobatan konvensional.
Baca Juga: Kenali 3 Jenis Kanker Darah dan Gejalanya
Jika Anda mengalami gejala kanker endometrium, segera kunjungi Ciputra Hospital, dapatkan kemudahan untuk konsultasi dan membuat janji dengan dokter pilihan Anda.
Cek informasi lengkap mengenai layanan Ciputra Hospital, mulai dari rawat jalan hingga Medical Check Up (MCU), hanya di situs resmi atau kunjungi langsung fasilitas terdekat sekarang juga.
FAQ
Apakah Kanker Endometrium Bisa Sembuh?
Ya. Kanker endometrium sering kali dapat disembuhkan, terutama jika penyakit ditemukan dan ditangani sejak stadium awal.
Perbedaan Kanker Endometrium dan Kanker Serviks
Kanker endometrium dan kanker serviks merupakan dua jenis kanker pada organ reproduksi wanita yang berbeda. Kanker endometrium terdapat di lapisan dalam rahim, sedangkan kanker serviks berasal dari sel-sel yang melapisi serviks atau leher rahim, yaitu bagian bawah rahim.
Disusun oleh dokter Ciputra IVF
Ingin tahu langkah selanjutnya untuk Anda?
Cek Kesuburan gratis dari Ciputra IVF — rekomendasi disesuaikan dengan jawaban Anda
Cek Kesuburan Saya






