Aterosklerosis dan arteriosklerosis terkadang sering disamaratakan sebagai penyakit yang sama. Padahal, keduanya memiliki kondisi yang berbeda. Aterosklerosis adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan tentang penumpukan plak di dalam atau dinding pembuluh arteri. Arterosklerosis merupakan jenis tertentu dari arteriosklerosis. Sedangkan, arteriosklerosis merupakan istilah yang lebih luas untuk menjelaskan tentang penyempitan arteri dan pengerasan pembuluh arteri.

Perbedaan Arteriosklerosis dan Aterosklerosis
Arteriosklerosis adalah pengerasan dan penebalan dinding arteri yang membuat pembuluh darah kehilangan elastisitasnya. Akibatnya aliran darah dan oksigen ke organ menjadi berkurang.
Pada usia yang masih muda, arteri biasanya bersifat fleksibel. Namun, seiring bertambahnya usia, arteri menjadi lebih keras dan tebal.
Arteri pada mereka yang berusia masih muda dapat menahan turbulensi sirkulasi darah karena sifatnya yang masih elastis. Ketika tekanan darah naik, arteri yang sehat tersebut dapat mengatur aliran darah ke seluruh tubuh dengan baik.
Sebaliknya, saat arteri mengeras dan menebal, maka pembuluh darah akan melemah dan tidak tahan terhadap tekanan darah yang sedang naik. Akibatnya, aliran darah akan tersumbat dan dapat menyebabkan berbagai penyakit yang berhubungan dengan jantung.
Aterosklerosis merupakan salah satu jenis dari arteriosklerosis. Aterosklerosis adalah penyakit yang ditandai dengan adanya penumpukan lemak, kolesterol, dan zat lainnya pada dinding pembuluh arteri. Penumpukan zat tersebut akan menyebabkan plak pada dinding pembuluh darah yang akhirnya menyumbat aliran darah.
Aliran darah yang menyempit dan tersumbat tidak dapat mengedarkan darah ke organ tubuh lainnya. Akibatnya, dapat menyebabkan penyakit jantung. Aterosklerosis dapat terjadi karena beberapa faktor seperti, obesitas, konsumsi rokok yang ekstensif, genetika, dan hipertensi.
Kedua istilah ini memang sering dipakai bergantian dalam percakapan sehari-hari, tetapi secara medis maknanya berbeda. Arteriosklerosis merujuk pada pengerasan dan hilangnya elastisitas arteri, sedangkan aterosklerosis merujuk pada penumpukan plak yang mempersempit pembuluh darah.
Baca Juga: Punya Penyakit Jantung? Ikuti Saran Gaya Hidup Sehat Ini
Gejala Arteriosklerosis
Pada tahap ringan, arteriosklerosis biasanya tidak menimbulkan gejala apa pun sehingga sering tidak disadari. Gejala baru akan muncul ketika penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah sudah cukup parah hingga mengganggu aliran darah ke organ dan jaringan tubuh, dengan jenis gejala yang berbeda-beda tergantung pada arteri mana yang terkena.
- Arteri jantung: Muncul rasa nyeri atau tertekan di dada dengan istilah angina.
- Arteri menuju otak: Timbul gejala seperti mati rasa atau lemas mendadak pada lengan dan kaki, bicara pelo atau sulit bicara, gangguan penglihatan sementara pada satu mata, hingga wajah yang terkulai sebelah, yang jika tidak segera Anda tangani dapat berkembang menjadi stroke.
- Arteri di lengan dan kaki: Timbul nyeri saat berjalan yang dikenal sebagai klaudikasio, disertai tekanan darah yang lebih rendah pada lengan atau kaki yang terkena.
- Arteri menuju ginjal: Dapat menyebabkan tekanan darah tinggi hingga gagal ginjal.
Diagnosis Arteriosklerosis dan Aterosklerosis
Arteriosklerosis dan aterosklerosis merupakan penyakit yang sama-sama menyerang pembuluh darah. Oleh karena itu, untuk mendiagnosisnya dokter akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.
Setelah memeriksa gejala dari penyakitnya, misalnya kondisi arteri, tekanan darah, denyut nadi. Selanjutnya, dokter akan menyarankan melakukan tes diagnostik untuk mendapatkan hasil pastinya. Tes diagnostik yang direkomendasikan dokter antara lain:
1. USG doppler
USG doppler akan menggunakan perangkat ultrasound khusus untuk mengukur aliran darah di beberapa bagian tubuh. Hasil dari USG akan membantu dokter untuk menganalisis daerah yang terindikasi mengalami penyumbatan.
2. Tes darah
Tes darah dokter sarankan untuk menentukan apakah ada penyakit di dalam darah. Selain itu, tes darah juga untuk mengukur kadar kolesterol dan gula dalam darah.
Pemeriksaan profil lemak darah kini umumnya dapat Anda lakukan tanpa puasa. Dokter hanya akan meminta Anda berpuasa sekitar 8 hingga 12 jam bila ada indikasi khusus, misalnya kadar trigliserida yang sangat tinggi atau bila sekaligus diperiksa gula darah puasa.
3. Elektrokardiogram
Elektrokardiogram atau EKG adalah sebuah alat medis yang untuk merekam sinyal listrik di dalam jantung Anda. Kegunaannya untuk merekam aktivitas listrik jantung dan dapat membantu menemukan gangguan irama jantung yang berkaitan dengan risiko stroke.
Beberapa gangguan irama jantung, terutama fibrilasi atrium yang terdeteksi lewat EKG. dapat meningkatkan risiko terbentuknya gumpalan darah di serambi jantung yang kemudian dapat menuju otak dan menyebabkan stroke.
4. Analisis stres
Uji latih jantung (stress test), misalnya tes treadmill, berfungsi untuk menilai respons dan kemampuan jantung saat beraktivitas fisik serta mendeteksi tanda kekurangan aliran darah ke otot jantung. Tes ini akan mengungkapkan seberapa baik jantung Anda saat melakukan beberapa aktivitas seperti berolahraga.
5. Indeks pergelangan kaki-brakialis (ABI)
Tes indeks pergelangan kaki-brakialis membandingkan tekanan darah di pergelangan kaki dan lengan untuk membantu mendeteksi penyakit arteri perifer pada tungkai. Selama tes ini Anda lakukan, dokter akan membandingkan tekanan darah di pergelangan kaki dan tangan Anda. Ketika Anda temukan perbedaan abnormal bisa menjadi tanda adanya penyakit pembuluh darah perifer.
6. Kateterisasi jantung dan angiogram
Tes diagnostik kateterisasi jantung dan angiogram akan menunjukkan bagaimana kondisi arteri koroner Anda, apakah menyempit atau tersumbat. Prosedur ini dengan cara memasukkan tabung tipis dan fleksibel di dalam pembuluh darah yang mengarah ke jantung Anda.
Baca Juga: Puasa Dapat Mengurangi Risiko Penyakit Jantung
Risiko Komplikasi Arteriosklerosis dan Aterosklerosis
Komplikasi yang timbul akibat arteriosklerosis dan aterosklerosis sangat bergantung pada lokasi arteri yang mengalami penyempitan atau penyumbatan. Semakin lama kondisi ini Anda biarkan tanpa penanganan, semakin besar risiko gangguan serius yang bisa terjadi pada organ-organ vital tubuh. Berikut risiko komplikasi yang dapat terjadi:
- Penyakit jantung koroner: Penyempitan pembuluh darah di sekitar jantung dapat memicu penyakit jantung koroner, yang bisa menimbulkan nyeri dada, serangan jantung, hingga gagal jantung.
- Penyakit arteri karotis: Kondisi ini terjadi pada arteri di sekitar otak dan dapat menyebabkan serangan iskemik sementara (TIA) atau bahkan stroke.
- Penyakit arteri perifer: Terjadi pada arteri di lengan atau kaki, yang dapat mengganggu atau menghambat aliran darah ke area tersebut. Dalam kasus yang jarang terjadi, kondisi ini bisa memicu kematian jaringan atau yang dikenal sebagai gangren.
- Aneurisma: Penumpukan plak akibat aterosklerosis terkadang membentuk tonjolan pada dinding arteri yang disebut aneurisma. Kondisi ini bisa muncul di bagian tubuh mana pun dan umumnya tidak menimbulkan gejala, namun jika pecah dapat menyebabkan perdarahan hebat yang mengancam nyawa.
- Penyakit ginjal kronis: Penyempitan arteri menuju ginjal dapat menghambat suplai darah kaya oksigen ke organ tersebut, padahal aliran darah ini sangat dibutuhkan ginjal untuk membuang cairan dan zat sisa dari tubuh.
Baca Juga: 12 Tanda Kemungkinan Penyakit Jantung
Pencegahan Arteriosklerosis
Meskipun beberapa faktor arteriosklerosis tidak dapat Anda cegah, seperti faktor usia dan genetik. Masih terdapat beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk membantu mencegah arteriosklerosis, yaitu:
- Memiliki pola hidup sehat. Dengan hidup sehat seperti mengatur pola makan, rutin berolahraga, dan tidak merokok akan membantu Anda terhindar dari penyakit arteriosklerosis.
- Mengonsumsi obat. Jika Anda sudah didiagnosis mengalami penyakit seperti darah tinggi, stroke, kolesterol atau diabetes. Pastikan untuk mengonsumsi obat yang telah diresepkan oleh dokter.
Perbedaan arteriosklerosis dan aterosklerosis terletak pada bagaimana kondisi arteri. Jika elastisitas arteri menurun, kondisi tersebut bernama arteriosklerosis. Sedangkan, jika penumpukan plak terjadi di pembuluh darah, itu adalah aterosklerosis.
Kapan Harus ke Dokter
Jika Anda mencurigai adanya gejala arteriosklerosis, segera buat janji untuk pemeriksaan kesehatan agar kondisi dapat Anda deteksi dan tangani sejak dini. Penanganan yang tepat waktu dapat mencegah kondisi semakin memburuk sekaligus menghindarkan Anda dari risiko serangan jantung, stroke, atau kondisi darurat medis lainnya.
Segera cari pertolongan medis darurat jika Anda mengalami nyeri dada atau gejala serangan iskemik sementara maupun stroke, seperti:
- Mati rasa atau lemas mendadak pada lengan atau kaki.
- Kesulitan berbicara.
- Bicara menjadi tidak jelas.
- Kehilangan penglihatan secara tiba-tiba atau sementara pada satu mata.
- Otot wajah menjadi kendur
Jika Anda masih mengalami kebingungan, ada baiknya jika Anda melakukan pemeriksaan secara menyeluruh ke dokter untuk dilakukan diagnosis. Sekian ulasan mengenai perbedaan arteriosklerosis dan aterosklerosis. Semoga bermanfaat.
Segera hubungi 119 atau 112, atau pergi ke IGD terdekat apabila mengalami gejala-gejala tersebut. Segera kunjungi Ciputra Hospital. Dapatkan kemudahan untuk konsultasi dan membuat janji dengan dokter pilihan Anda.
Cek informasi lengkap mengenai layanan Ciputra Hospital, mulai dari rawat jalan hingga Medical Check Up (MCU), hanya di situs resmi atau kunjungi langsung fasilitas terdekat sekarang juga.



