Ditulis oleh Tim Konten Medis
Program bayi tabung atau IVF sebenarnya aman. Namun, ada beberapa risiko yang perlu Anda pahami terlebih dahulu sebelum memulai program ini. Risiko program bayi tabung termasuk reaksi alergi terhadap obat-obatan, kehamilan ektopik, keguguran, hingga Sindrom Hiperstimulasi Ovarium.

Meskipun aman, prosedur bayi tabung juga memiliki beberapa efek samping dan kemungkinan reaksi yang merugikan.
In vitro fertilization (IVF) atau bayi tabung adalah serangkaian prosedur kompleks yang dapat menghasilkan kehamilan pada pasien infertilitas. Prosedur ini juga dapat digunakan untuk mengurangi risiko masalah genetik pada anak.
Selama prosedur IVF, dokter dapat mengambil sel telur matang dari ovarium, lalu sperma akan membuahinya di laboratorium. Meskipun bermanfaat, penting untuk mengetahui risiko yang akan dihadapi orang yang menjalani program bayi tabung. Hal ini sangat diperlukan untuk mempersiapkan diri saat prosedur berlangsung.
Risiko Program Bayi Tabung
Berikut ini adalah beberapa risiko dan dampak negatif dari bayi tabung:
1. Reaksi Terhadap Obat-Obatan
Banyak wanita mengalami reaksi dan efek samping terhadap obat-obatan yang digunakan selama prosedur bayi tabung. Kondisi ini menimbulkan efek ringan dan berlangsung sementara, seperti:
- Sensasi panas yang luar biasa
- Mudah merasa sedih dan tersinggung
- Nyeri di bagian kepala
- Merasa gelisah
Segera hubungi layanan kesehatan terdekat apabila efek samping yang terjadi berlangsung terus-menerus dan tidak kunjung sembuh dalam waktu lama. Dokter dapat memberikan pengobatan yang tepat untuk mengurangi risiko masalah kesehatan yang parah.
Baca Juga: 6 Manfaat Bayi Tabung (IVF) untuk Program Kehamilan
2. Kehamilan Kembar
Kehamilan kembar adalah kondisi ketika tubuh memiliki dua janin di dalam rahim. Kondisi ini termasuk kejadian langka yang terjadi karena banyak faktor, seperti riwayat keluarga, perawatan kesuburan, atau faktor lainnya.
Dokter dapat mendeteksi adanya bayi kembar sejak dini dengan menggunakan alat USG. Namun, kehamilan ini bisa meningkatkan risiko komplikasi serius bagi ibu hamil dan janin.
Ibu hamil dapat mengalami gejala kehamilan kembar berupa nyeri payudara, mudah merasa lelah, dan mual di pagi hari. Meskipun hampir serupa dengan kehamilan tunggal, hamil kembar cenderung memiliki gejala yang lebih parah.
Prosedur IVF dapat meningkatkan kemungkinan memiliki anak kembar. Sebab, prosedur ini memerlukan perawatan kesuburan yang dibutuhkan oleh pasien.
Umumnya, kehamilan tunggal berlangsung selama 37 minggu, tetapi hamil kembar cenderung jarang terjadi selama ini. Kondisi ini kerap berlangsung sekitar 35-36 minggu, bahkan banyak orang yang melahirkan lebih awal.
3. Sindrom Hiperstimulasi Ovarium
Risiko program bayi tabung selanjutnya adalah mengalami sindrom hiperstimulasi ovarium. Pada kondisi ini, tubuh akan mengalami pembengkakan ovarium dan cairan bocor ke dalam perut.
Sindrom hiperstimulasi ovarium (OHSS) termasuk komplikasi yang biasanya terjadi pada orang yang memperoleh perawatan kesuburan untuk merangsang ovarium dan memproduksi sel telur dalam jumlah banyak. Kondisi ini kerap dialami oleh pasien infertilitas atau kesulitan hamil.
Jenis OHSS dapat bersifat ringan, sedang, atau parah. Dokter dapat mengategorikan jenis sindrom ini berdasarkan tingkat keparahan gejala yang terjadi pada pasien.
Sebagian besar kasus OHSS cenderung ringan dan menyebabkan rasa tidak nyaman sementara. Pada kasus yang jarang terjadi, kondisi ini bisa mengancam nyawa.
4. Kehamilan Ektopik
Jika menjalani IVF, Anda memiliki risiko lebih tinggi mengalami kehamilan ektopik. Jenis kehamilan ini dapat terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi menempel di luar rahim dan paling sering di tuba falopi.
Kehamilan ektopik bisa mengancam nyawa, terutama saat tuba falopi pecah atau ruptur. Kondisi ini dapat memicu pendarahan hebat dan infeksi pada organ intim.
Tanda dan gejalanya dapat berupa pendarahan vagina, kepala pusing, badan lemas, dan nyeri pada perut bagian bawah. Dokter dapat mengatasi kehamilan ektopik dengan pengobatan medis atau tindakan pembedahan.
Hal ini sangat penting untuk mencegah risiko infeksi semakin parah. Tidak ada cara mencegah kehamilan ektopik.
Namun, Anda bisa mengurangi risikonya dengan menjalani kebiasaan pola hidup sehat. Kebiasaan ini meliputi tidak merokok, menjaga berat badan ideal, dan mencegah infeksi menular seksual.
5. Keguguran
Prosedur bayi tabung dapat mengalami penurunan keberhasilan seiring dengan bertambahnya usia seseorang. Kondisi ini juga meningkatkan risiko keguguran yang perlu diwaspadai.
Keguguran biasanya terjadi sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu dan saat trimester pertama. Masalah kromosom menjadi salah satu penyebab keguguran paling umum.
Tanda dan gejala yang terjadi saat mengalami keguguran meliputi pendarahan dari ringan hingga berat, kram dan nyeri perut, serta sakit punggung di bagian bawah. Dokter dapat melakukan tes USG untuk memastikan keguguran terjadi pada wanita.
Baca Juga: Rincian Biaya Program Bayi Tabung
6. Kelahiran Prematur
IVF dapat meningkatkan risiko komplikasi tertentu pada janin, termasuk kelahiran prematur. Kondisi dapat terjadi ketika bayi lahir sebelum usia mencapai 37 minggu.
Semakin dini kelahiran, semakin serius juga risiko kesehatan yang terjadi pada bayi. Kondisi ini dapat terjadi secara tiba-tiba dan tanpa penyebab yang jelas.
Terkadang, dokter perlu menginduksi atau memulai persalinan lebih awal karena alasan medis. Anda bisa mengurangi risiko kondisi ini dengan mengonsumsi makanan gizi seimbang selama kehamilan dan menjalani perawatan prenatal pada trimester pertama.
7. Mengalami Torsi Ovarium
Torsi ovarium adalah kondisi darurat medis yang terjadi saat salah satu ovarium terpelintir pada jaringan yang menopangnya. Kondisi ini menimbulkan gejala, seperti nyeri perut secara tiba-tiba dan parah.
Setiap orang dapat merasakan nyeri berbeda-beda ketika mengalami torsi ovarium. namun, rasa sakitnya cenderung terasa tajam dan menusuk atau tumpul dan kram.
Penyebab torsi ovarium cenderung bervariasi, salah satunya adalah risiko komplikasi karena situmulasi dan pengambilan sel telur pada prosedur IVF. Jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat, kondisi ini bisa mengurangi aliran darah ke ovarium dan menyebabkan jaringan mati.
8. Mengalami Plasenta Previa
Risiko komplikasi kehamilan dapat meningkat pada pasien yang hamil dengan IVF, termasuk plasenta previa. Kondisi ini dapat terjadi ketika plasenta menutupi sebagian atau seluruh pembukaan serviks.
Plasenta previa biasanya tidak menimbulkan gejala apa pun pada wanita hamil sehingga sering kali tidak disadari oleh pasien. Namun, kondisi ini bisa menyebabkan pendarahan pada trimester kedua kehamilan atau setelahnya.
Darah akibat plasenta previa cenderung berwarna merah terang dan tidak menimbulkan rasa sakit. Gejalanya juga meliputi kontraksi rahim, meningkatnya denyut jantung, dan tekanan darah rendah.
Baca juga: Posisi Tidur yang Baik Setelah Embrio Transfer dalam Program IVF
Apa yang Perlu Dipersiapkan untuk Meminimalisir Risiko?
Ada sejumlah cara mengurangi risiko dan efek samping yang terjadi pada prosedur bayi tabung, antara lain:
- Rutin melakukan pemeriksaan TSH atau hormon perangsang tiroid
- Menjaga berat badan tetap sehat
- Jika memiliki riwayat keguguran, pastikan untuk memeriksa kadar antibodi
- Menjalani histeroskopi sebelum siklus IVF berikutnya
- Mengurangi konsumsi alkohol
- Menghentikan kebiasaan merokok
- Mengonsumsi makanan gizi seimbang
- Lakukan olahraga dengan intensitas sedang, hindari olahraga secara berlebihan dan terlalu berat
- Melakukan pemeriksaan genetik apabila terjadi beberapa kali keguguran
Jika Anda mengalami gangguan kesehatan yang berhubungan dengan prosedur IVF, seperti perut kembung, kram, atau rasa nyeri yang tidak kunjung sembuh dalam waktu lama, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter untuk memperoleh penanganan yang tepat. Anda bisa kunjungi rumah sakit Ciputra Hospital terdekat untuk konsultasi kesehatan.
Cek layanan rumah sakit Ciputra Hospital mulai dari rawat jalan hingga Medical Check Up (MCU). Anda juga bisa konsultasi program IVF atau bayi tabung di Ciputra IVF. Di sini, Anda dan pasangan bisa menikmati layanan pemeriksaan kesuburan hingga konsultasi program hamil.
Source:
- Mayo Clinic. In Vitro Fertilization (IVF). Oktober 2024.
- NHS. Risk: IVF. Oktober 2024.
- WebMD. Infertility and In Vitro Fertilization. Oktober 2024.