Bakteri yang menyebabkan penyakit sifilis adalah Treponema pallidum. Infeksi bakteri ini dapat menular dari satu orang ke orang lainnya melalui kontak langsung dengan penderita. Hubungan seksual yang tidak aman bisa meningkatkan risiko seseorang terinfeksi sifilis.

Treponema Pallidum: Bakteri Penyebab Sifilis
Bakteri yang menyebabkan penyakit sifilis adalah Treponema pallidum. Infeksi penyakit ini dapat menular dari satu orang ke orang lainnya, dan paling banyak melalui aktivitas seksual.
Bakteri Treponema pallidum tidak bisa menular lewat benda perantara, seperti gagang pintu, peralatan makan, maupun dudukan toilet. Penularan umumnya terjadi melalui kontak langsung dengan luka sifilis saat melakukan hubungan seksual vaginal, anal, maupun oral.
Infeksi bakteri yang menyebabkan penyakit sifilis dapat menyerang area kulit, mulut, dan alat kelamin. Awalnya, infeksi akan menyebabkan luka kecil yang tidak terasa nyeri. Banyak penderita tidak menyadari kemunculan luka ini karena dapat hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu. Padahal, bakteri masih tetap berada di dalam tubuh dan dapat berkembang ke tahap berikutnya.
Gejala penyakit sifilis dibedakan berdasarkan beberapa tahapan, yaitu tahap primer, tahap sekunder, tahap laten, dan tahap tersier. Pada tahap sekunder, penderita bisa mengalami ruam pada kulit, demam, pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri otot, hingga penurunan nafsu makan. Sementara pada tahap laten, penderita mungkin tidak mengalami gejala apa pun meskipun infeksi masih berlangsung.
Saat sudah masuk tahap tersier, gejala akan semakin parah. Infeksi dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh, seperti gangguan saraf, kerusakan pembuluh darah, gangguan otak, kerusakan katup jantung, bahkan munculnya benjolan jaringan lunak yang disebut gumma. Oleh karena itu, sifilis perlu segera ditangani sejak dini agar tidak menimbulkan komplikasi berbahaya.
Karakteristik Treponema Pallidum
Treponema pallidum merupakan bakteri berbentuk spiral yang termasuk ke dalam kelompok spirochete. Bakteri ini bergerak dengan cara berputar sehingga dapat masuk dan menyebar melalui jaringan tubuh manusia dengan lebih mudah.
Bakteri penyebab sifilis ini berkembang sangat lambat dibandingkan bakteri lain. Masa inkubasi infeksi umumnya sekitar 10–90 hari setelah seseorang terpapar. Karena gejalanya sering tidak langsung terlihat, banyak penderita tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi dan tanpa sadar dapat menularkan penyakit kepada pasangan seksualnya.
Selain itu, Treponema pallidum hanya dapat hidup di dalam tubuh manusia dan tidak mampu bertahan lama di luar tubuh. Inilah sebabnya penularan sifilis lebih sering terjadi melalui kontak langsung, terutama hubungan seksual tanpa pengaman maupun dari ibu hamil ke janin selama kehamilan.
Bakteri ini juga dikenal sulit dideteksi tanpa pemeriksaan medis tertentu. Dokter biasanya memerlukan tes darah atau pemeriksaan sampel cairan dari luka untuk memastikan diagnosis sifilis. Jika tidak segera diobati, infeksi dapat berlangsung selama bertahun-tahun dan menyebabkan kerusakan permanen pada organ tubuh.
Hal lain yang perlu Anda ketahui adalah Treponema pallidum sangat sensitif terhadap antibiotik, terutama penisilin. Pengobatan yang tepat dan Anda lakukan sedini mungkin dapat membantu menyembuhkan sifilis sekaligus mencegah komplikasi serius.
Baca juga: Apakah Penyakit Sifilis Bisa Sembuh?
Tahapan Infeksi Sifilis
Sifilis berkembang melalui beberapa tahapan dengan gejala yang berbeda-beda. Berikut penjelasannya:
1. Sifilis Primer
Tahap primer biasanya ditandai dengan munculnya luka kecil yang disebut chancre pada area kelamin, anus, atau mulut. Luka ini umumnya tidak terasa sakit sehingga sering diabaikan oleh penderita. Gejala dapat muncul sekitar 3 minggu setelah infeksi terjadi.
Meskipun luka bisa sembuh sendiri, bakteri penyebab sifilis masih tetap berada di dalam tubuh. Karena itu, penderita tetap membutuhkan pengobatan medis agar infeksi tidak berkembang menjadi lebih parah.
2. Sifilis Sekunder
Pada tahap sekunder, penderita dapat mengalami ruam kulit yang muncul di telapak tangan, telapak kaki, atau bagian tubuh lainnya. Selain ruam, gejala lain meliputi demam, sakit tenggorokan, rambut rontok, nyeri otot, dan pembengkakan kelenjar getah bening.
Tahap ini menunjukkan bahwa bakteri telah menyebar ke seluruh tubuh. Gejala bisa hilang dengan sendirinya, tetapi infeksi tetap berlangsung apabila tidak Anda obati.
3. Sifilis Laten
Sifilis laten adalah fase ketika penderita tidak mengalami gejala apa pun. Pada tahap ini, bakteri masih berada di dalam tubuh dan dapat bertahan selama bertahun-tahun.
Karena tidak menimbulkan keluhan, banyak penderita tidak menyadari dirinya masih terinfeksi. Oleh sebab itu, pemeriksaan kesehatan secara rutin sangat penting, terutama bagi orang yang aktif secara seksual.
4. Sifilis Tersier
Tahap tersier merupakan kondisi paling berbahaya. Infeksi dapat menyebabkan kerusakan pada otak, saraf, mata, jantung, dan organ tubuh lainnya.
Beberapa komplikasi yang bisa terjadi antara lain gangguan penglihatan, kelumpuhan, gangguan mental, hingga kerusakan pembuluh darah besar. Pada kondisi tertentu, sifilis tersier bahkan dapat mengancam nyawa.
Infeksi Bakteri Penyebab Sifilis Lewat Hubungan Seksual
Orang yang aktif secara seksual berisiko lebih tinggi mengalami dan menularkan bakteri sifilis. Beberapa faktor yang meningkatkan penularan bakteri sifilis lewat hubungan seksual adalah:
1. Hubungan Seks Tanpa Pengaman
Melakukan hubungan seks tanpa pengaman dapat meningkatkan risiko mengalami infeksi bakteri penyebab sifilis. Terutama mereka yang sering bergonta-ganti pasangan seks.
Penggunaan kondom saat akan berhubungan seksual sangat efektif untuk menurunkan risiko tertular penyakit sifilis. Sebab, kondom dapat menutupi kulit atau permukaan yang luka pada alat kelamin.
2. Berhubungan Seks Dengan Banyak Pasangan
Penyakit sifilis sangat mudah menyebar melalui hubungan seksual. Mereka yang sering berganti-ganti pasangan seks lebih mudah mengalami infeksi bakteri penyebab sifilis.
Oleh karena itu, setia dengan satu pasangan seksual akan menurunkan risiko Anda tertular penyakit ini. Selain menyebabkan sifilis, sering berganti pasangan juga dapat meningkatkan risiko terkena penyakit menular seksual lainnya seperti gonorrhea, infeksi jamur hingga HIV/AIDS.
3. Berhubungan Seksual Dengan Sesama Jenis
Hubungan seks anal tanpa pengaman memiliki risiko penularan sifilis yang lebih tinggi karena mukosa rektum lebih tipis dan mudah mengalami mikro-luka, sehingga Treponema pallidum lebih mudah masuk ke aliran darah. Menurut CDC, pria yang berhubungan seks dengan pria (MSM) memang termasuk kelompok dengan prevalensi sifilis yang lebih tinggi, namun faktor risiko utamanya adalah jenis kontak dan tidak menggunakan pengaman, bukan orientasi seksual itu sendiri.
Baca juga: Apa Akibat dari Penyakit Sifilis pada Tubuh?
4. Terinfeksi HIV
Terinfeksi HIV atau Human Immunodeficiency virus akan membuat daya tahan tubuh melemah. Akibatnya, kondisi tubuh Anda akan rentan mengalami berbagai penyakit, termasuk bakteri penyebab penyakit sifilis.
Sebuah penelitian yang terbit dalam jurnal BMC Infectious menunjukkan bahwa mereka yang menderita HIV biasanya juga akan didiagnosis mengalami sifilis.
Dilansir dari CDC, bahwa penyakit sifilis dan HIV adalah adalah dua kondisi berbahaya yang dapat menyerang pria dengan orientasi homoseksual atau biseksual. Infeksi bakteri penyebab sifilis bisa berbahaya jika tidak segera dilakukan pengobatan sifilis (raja singa) dengan antibiotik yang tepat.
Oleh karena itu, setelah mengetahui apa saja faktor yang bisa membuat Anda mengalami infeksi bakteri penyebab sifilis, mulailah untuk memiliki hubungan seksual yang sehat. Hal tersebut untuk mencegah Anda tertular dan menularkan bakteri penyebab penyakit menular seperti sifilis.
Jika Anda ingin berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter terkait penyebab sifilis dan penularannya, Anda bisa mengunjungi rumah sakit Ciputra Hospital terdekat. Ciputra Hospital mempunyai layanan kesehatan lengkap, mulai dari rawat jalan hingga rawat inap.
Yuk, cek jadwal dokter Ciputra Hospital dan buat janji dokter dengan mudah lewat aplikasi WhatsApp.
Disclaimer: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan medis. Konsultasikan keluhan Anda dengan dokter.





