Ditulis oleh Tim Konten Medis
Jumlah zat pengawet dalam makanan kemasan terus meningkat dan kekhawatiran tentang keamanan zat ini menjadi bahan perbincangan. Namun, Anda tidak perlu khawatir karena ada beberapa bahan pengawet makanan yang aman dikonsumsi.

Bahan pengawet makanan yang aman dikonsumsi, seperti asam askorbat, asam nitrat, garam, gula, dan rempah-rempah.
Bahan pengawet makanan terdiri atas beberapa jenis, mulai dari jenis pewarna, perasa kimia, dan pemanis buatan. Zat ini berperan penting untuk meningkatkan rasa, warna, atau tekstur produk makanan agar meningkatkan daya tarik pembeli.
Meskipun aman, bahan pengawet makanan kemasan sebaiknya tidak dikonsumsi secara berlebihan untuk mencegah risiko gangguan kesehatan. Mari simak pembahasan seputar jenis bahan pengawet di bawah ini.
Jenis Bahan Pengawet Makanan yang Aman Dikonsumsi
Berdasarkan jenisnya, bahan pengawet dikategorikan sebagai zat alami dan buatan. Bahan pengawet alami berasal dari bahan organik, seperti tumbuhan atau melalui proses dekomposisi. Misalnya, gula, garam, asam sitrat.
Sementara itu, bahan pengawet buatan terbuat dari beberapa zat kimia yang disintesis di laboratorium. Dilansir dari Encyclopedia of Food Safety, beberapa contoh pengawet makanan yang aman dikonsumsi, antara lain:
1. Asam Askorbat
Salah satu pengawet makanan alami adalah asam askorbat atau vitamin C. Bahan pengawet ini digunakan sebagai suplemen makanan untuk melindungi sel-sel tubuh dari paparan radikal bebas.
Asam askorbat mudah ditemukan pada buah-buahan, seperti leci, stroberi, dan jeruk. Anda disarankan untuk mengonsumsi zat ini sebanyak 90 miligram untuk pria dan 75 gram untuk wanita per kebutuhan harian.
Baca Juga: 10 Pantangan Makanan dan Minuman Penderita GERD
2. Asam Sitrat
Meskipun terlihat mirip, asam askorbat dan asam sitrat merupakan dua zat yang berbeda. Perbedaan ini dapat terlihat dari fungsi dan kandungannya.
Asam sitrat berperan penting untuk mengatasi masalah kesehatan, seperti batu ginjal. Bahan alami ini terdapat pada sari lemon dan jeruk nipis.
3. Garam
Garam merupakan pengawet makanan yang paling aman bagi kesehatan tubuh. Bahan alami ini bekerja dengan dua cara, yaitu membuat makanan menjadi kering dan membunuh mikroba.
Sebagai contoh, garam pada mentega dapat menarik air keluar dan meninggalkan lemak sehingga tidak mudah rusak. Bahan alami ini juga sering ditemukan pada selai dan jeli untuk membunuh mikroba pada makanan tersebut.
4. Gula
Penggunaan gula sebagai bahan pengawet alami telah dilakukan sejak dulu kala. Gula yang ditambahkan ke makanan mampu menciptakan efek osmotik atau penyerapan air yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
Pada beberapa makanan, bahan alami ini mampu menghasilkan zat lain sebagai pengawet, seperti alkohol dan asam. Sebagai contoh, ragi mengubah gula menjadi etanol dalam bir.
5. Rempah-Rempah
Rempah-rempah merupakan sumber pengawet makanan alami yang aman dan efisien. Bahan alami ini mudah ditemukan pada kayu manis, cengkeh, dan lada.
Rempah-rempah sering digunakan untuk penyedap makanan, pengubah warna makanan, dan proses pengawetan. Efek pengawetannya pun telah terbukti melebihi bahan tambahan sintetis yang saat ini digunakan.
Pengawet Makanan yang Berbahaya
Berikut ini adalah sejumlah bahan pengawet makanan yang berbahaya bagi kesehatan tubuh dan perlu dihindari:
1. Boraks
Bahan pengawet berbahaya selanjutnya adalah boraks. Anda mungkin sudah akrab dengan bahan ini karena sering menjadi bahan perbincangan dan ditambahkan ke berbagai makanan tertentu. Misalnya, nugget, bakso, dan sosis.
Boraks adalah zat putih berbentuk bubuk yang digunakan sebagai pembersih rumah tangga dan penambah deterjen cucian. Bahkan, zat ini sering dipakai untuk bahan pestisida dan membunuh serangga. Penggunaan boraks pada makanan telah dilarang oleh pemerintah karena bisa membahayakan kesehatan tubuh.
2. Formalin
Bukan hanya boraks, tetapi formalin juga digunakan sebagai bahan pengawet makanan. Padahal, formalin mengandung zat berbahaya dan tidak diizinkan untuk penggunaan makanan.
Penelitian membuktikan bahwa makanan yang mengandung formalin bisa menyebabkan gejala akut, seperti nyeri perut, muntah, dan cedera ginjal. Pada kasus tertentu, zat ini bisa memicu penyakit kanker hingga mengancam nyawa.
Baca Juga: 15 Makanan untuk Infeksi Paru-Paru agar Cepat Sembuh
3. Natrium Benzoat
Natrium benzoat digunakan sebagai bahan pengawet untuk mencegah makanan berjamur. Zat ini dapat ditemukan pada mayones, margarin, dan minuman bersoda.
Mengonsumsi natrium benzoat yang berlebihan bisa meningkatkan efek samping pada tubuh. Misalnya, kanker, timbul reaksi alergi, dan gangguan pencernaan.
4. Natrium Nitrat
Natrium nitrat termasuk pengawet yang umum digunakan pada produk daging olahan, seperti bacon, dendeng, dan kornet. Zat ini sering kali dikaitkan dengan perkembangan penyakit jantung dan diabetes.
Oleh sebab itu, sebaiknya batasi konsumsi makanan yang mengandung natrium nitrat agar terhindar dari penyakit kronis. Anda bisa mengonsumsi daging segar yang terjual di pasaran untuk meningkatkan kesehatan tubuh secara optimal.
5. Tertiary Butylhydroquinone (TBQH)
TBHQ adalah pengawet makanan buatan yang digunakan untuk memperpanjang umur simpan produk makanan. Penelitian membuktikan bahwa mengonsumsi pengawet ini dalam jangka panjang dengan dosis 0,7 milligram per kilogram berat badan memiliki efek samping yang mengganggu kesehatan tubuh. Misalnya, pertumbuhan sel kanker, menyebabkan mutasi sel, dan menghambat perkembangan sel sehat.
Bahkan, TBQH bisa menyebabkan gangguan gizi dan masalah kesehatan kronis, seperti kanker. Zat ini mudah ditemukan pada beberapa makanan tertentu, sebagai berikut:
- Keripik kentang
- Donat
- Popcorn
- Makanan beku siap saji.
Bahaya Pengawet Makanan pada Tubuh
Meskipun bahan pengawet digunakan untuk mencegah makanan cepat kadaluarsa, zat ini bisa berbahaya bagi kesehatan tubuh apabila dikonsumsi secara berlebihan. Berikut ini adalah dampak pengawet makanan sintetis yang perlu diwaspadai:
1. Memicu Gejala GERD
Salah satu bahaya pengawet makanan adalah bisa memicu gejala penyakit asam lambung (GERD). Kondisi ini menyebabkan refluks asam berulang kali dan mengiritasi lapisan esofagus.
Gejala GERD ditandai dengan rasa terbakar di dada, nyeri di bagian perut atas, dan muncul benjolan di tenggorokan. Kondisi ini memerlukan pengobatan medis agar terhindar dari komplikasi serius.
2. Meningkatkan Risiko Penyakit Kronis
Dampak bahan pengawet makanan selanjutnya, yaitu dapat memicu penyakit kronis, seperti kanker dan penyakit kardiovaskular. Penelitian membuktikan bahwa daging olahan dan makanan yang diasinkan berisiko tinggi terkena jenis kanker tertentu.
Misalnya, kanker lambung, kanker nasofaring, dan kanker kolorektal. Sebaiknya, kurangi konsumsi makanan daging olahan untuk menurunkan risiko kanker.
3. Terjadinya Obesitas
Bahan pengawet makanan bisa memicu tanda dan gejala obesitas. Kondisi ini terjadi akibat ketidakseimbangan antara jumlah energi masuk dan keluar pada tubuh.
Bisanya, makanan yang mengandung bahan pengawet cenderung tinggi kalori sehingga perlu dibatasi porsinya. Selain makanan, penderita obesitas juga jarang melakukan aktivitas fisik sehingga memicu masalah kesehatan di kemudian hari.
4. Perilaku Hiperaktif pada Anak
Perilaku hiperaktif pada anak dapat disebabkan oleh bahan pengawet makanan, seperti natrium benzoat, glukosa, dan laktosa. Kondisi ini bisa memicu anak mudah teralihkan dan membuat anak dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) sulit konsentrasi.
Oleh sebab itu, para ahli menyarankan kepada orang tua untuk membatasi asupan makanan dan minuman kemasan untuk mengurangi perilaku hiperaktif. Perilaku ini ditandai dengan beberapa gejala, seperti sulit diam, mudah marah, dan tidak mau mendengarkan.
Baca Juga: 12 Makanan Tinggi Gula Ini Buruk bagi Kesehatan
5. Meningkatkan Risiko Kanker
Meningkatkan risiko penyakit kanker juga menjadi dampak pengawet makanan terhadap kesehatan bila asupannya tidak dibatasi. Walaupun jarang terjadi, senyawa seperti kalium bromat, BHA, BHT, dan PFAS semuanya telah dikaitkan dengan potensi karsinogen bagi manusia, beberapa di antaranya telah dilarang di negara lain (Brasil, Kanada, UE, dan Inggris), seperti kalium bromat.
Selain itu,konsumsi daging olahan yang mengandung nitrat dan nitrit secara berlebihan dapat memicu pembentukan senyawa nitrosamin yang bersifat karsinogenik dan meningkatkan risiko kanker lambung, esofagus, dan mungkin otak dan tiroid.
Itulah pembahasan seputar bahan pengawet makanan yang aman serta berbahaya. Jika Anda mengalami masalah kesehatan tertentu akibat konsumsi bahan pengawet, seperti diare, muntah, dan sakit kepala, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat.
Anda bisa kunjungi rumah sakit Ciputra Hospital terdekat untuk konsultasi kesehatan. Yuk, jaga kesehatan tubuh dengan rutin melakukan medical check up di Ciputra Hospital.
Anda juga bisa konsultasi dan buat janji dengan dokter di Ciputra Hospital terdekat. Cek layanan rumah sakit Ciputra Hospital mulai dari rawat jalan hingga Medical Check Up (MCU) selengkapnya sekarang juga.
Telah direview oleh dr Monica
Source:
- Better Health Channel. Food Additives. Diakses 2024.
- Everyday Health. How Safe Are Food Preservatives?. Diakses 2024.
- Healthline. 12 Common Food Additives — Should You Avoid Them?. Diakses 2024.
- Rupa Health. Exploring the Relationship Between Food Additives and Cancer Risk. Diakses 2024.