Penyakit kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Anda bisa mengenali ciri-ciri orang yang mempunyai penyakit kusta dengan bercak kulit yang menebal, kaku, dan kelemahan otot.

Penyakit Hansen atau kusta adalah penyakit menular yang menyerang bagian tubuh tertentu, seperti mata, kulit, selaput lendir dan sarah. Kondisi ini termasuk salah satu penyakit tertua yang tercatat dalam sejarah, yaitu muncul sekitar tahun 600 sebelum masehi (SM).
Sampai saat ini, penyakit kusta masih tersebar di beberapa negara, termasuk negara beriklim tropis atau subtropis. Dilansir dari World Health Organization, sebagian besar kasus penyakit ini terjadi di Asia dan Afrika.
Apa Itu Kusta?
Kusta merupakan jenis penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Jenis penyakit ini dapat menular melalui percikan droplet hidung dan mulut dari penderita kusta dalam waktu lama.
Biasanya, anak-anak lebih mudah tertular penyakit Hansen daripada orang dewasa karena memiliki daya tahan tubuh rendah. Jika mengalami kondisi ini, sebaiknya segera periksakan ke dokter untuk mencegah risiko terjadinya komplikasi serius.
Baca Juga: Jenis Penyakit Endemik, Waspadai Saat Pergi Liburan!
Jenis Kusta
Penyakit kusta terbagi atas 3 jenis utama, yaitu:
1. Kusta Tuberkuloid
Orang yang mengidap jenis kusta ini biasanya memiliki gejala ringan, seperti muncul beberapa luka. Hal ini dikarenakan tubuh memiliki daya tahan tubuh yang baik.
Dalam istilah medis, kusta tuberkuloid memiliki sebutan kusta pausibasiler. Meskipun umum terjadi pada semua kalangan usia, penyakit ini cenderung menyerang anak usia 5-15 tahun atau usia di atas 30 tahun.
2. Kusta Lepromatosa
Salah satu gejala kusta lepromatosa adalah memiliki luka dan lesi yang menyebar luas dan memengaruhi saraf, kulit, dan organ tubuh lainnya. Jenis penyakit ini cenderung mudah menular akibat respons imun yang buruk.
Dalam istilah medis, kusta lepromatosa disebut sebagai kusta multibasiler. Penderita dapat menjalani pengobatan antibiotik untuk meredakan gejala yang terjadi.
3. Kusta Borderline
Jenis penyakit ini melibatkan gejala kusta tuberkuloid dan kusta lepromatosa. Kusta borderline sering kali disebut sebagai kusta dimorfus.
Setelah terinfeksi bakteri, gejala penyakit ini dapat muncul sekitar 3-5 tahun kemudian. Pada stadium lanjut, penyakit Hansen bisa menimbulkan kelumpuhan, kehilangan penglihatan, kerusakan permanen pada tangan dan kaki.
Penyebab Kusta
Penyebab kusta utama adalah kontak dekat dengan bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini cenderung tumbuh lambat sehingga gejalanya baru muncul beberapa tahun kemudian.
Bakteri Mycobacterium leprae mudah menyebar dari satu orang ke orang lain melalui droplet/ percikan. Hal ini bisa terjadi ketika penderita batuk atau bersin dan orang di dekatnya menghirup percikan air yang mengandung bakteri tersebut.
Meskipun begitu, penyakit Hansen tidak mudah menular. Orang lain biasanya membutuhkan kontak dekat dalam waktu lama dengan penderita untuk tertular penyakit ini.
Studi memperkirakan 9 dari 10 orang memiliki sistem imun yang kuat terhadap penyakit Hansen. Oleh sebab itu, sebagian besar orang yang melakukan kontak dekat dengan penderita cenderung tidak tertular karena perkembangan bakteri ini sangat lambat.
Gejala Kusta
Gejala kusta yang paling utama adalah bercak kulit yang mati rasa (hipoestesi), warna bercak kulit yang lebih terang atau kemerahan dibanding kulit normal (hipopigmentasi/ eritema), dan penebalan saraf tepi yang disertai nyeri, gangguan fungsi, dan kelemahan otot. Adapun ciri-ciri penyakit kusta lainnya, di antaranya:
- Kulit menebal atau kaku
- Kelemahan otot
- Mati rasa di tangan, lengan, kaki, atau tungkai
- Saraf tepi membesar
- Kehilangan bulu mata atau alis
- Hidung tersumbat
- Mimisan
Diagnosis Penyakit Kusta
Dokter atau ahli medis profesional dapat melakukan pemeriksaan fisik dan dikonfirmasi melalui pemeriksaan kerokan kulit (biopsi) untuk mengetahui tanda dan gejala penyakit Hansen. Pada tes biopsi, dokter bisa mengambil jaringan kecil kulit, lalu mengujinya di laboratorium.
Selain itu, terdapat uji lepromin yang penting untuk menentukan bentuk dan jenis penyakit Hansen. Pada pemeriksaan ini, tim medis dapat menyuntikkan sejumlah kecil bakteri Mycobacterium leprae yang telah mati ke dalam kulit lengan atas.
Umumnya, pengidap Hansen tuberkuloid dapat mengalami hasil positif (muncul nodul kemerahan) di tempat suntikan dalam waktu 3-4 minggu (Reaksi Mitsuda). Setelah mendapatkan diagnosis, dokter dapat merekomendasikan beberapa perawatan untuk mengobati gejala yang terjadi.
Baca Juga: 15 Jenis Penyakit Kulit: Penyebab dan Gejalanya
Komplikasi Kusta
Jika mendapatkan pengobatan segera mungkin, penyakit ini bisa mengakibatkan komplikasi serius. Komplikasi yang terjadi dapat berupa:
- Gagal ginjal
- Gangguan kesuburan atau infertilitas
- Disfungsi ereksi
- Glaukoma, yaitu penyakit mata yang disebabkan oleh kerusakan pada saraf optik
- Hidung tersumbat kronis
- Peradangan pada iris mata
- Kerusakan saraf permanen di lengan dan kaki
- Kelumpuhan tangan dan kaki
Cara Mengatasi Kusta
Berikut ini adalah beberapa mengobati penyakit kusta:
1. Pemberian Antibiotik
Dokter dapat merekomendasikan obat penyakit kusta berupa antibiotik untuk membunuh bakteri penyebabnya. Jenis obat ini dapat berupa dapson (Aczone), rifampisin (Rifadin), dan klofazimin (Lamprena).
Pada beberapa kasus, pasien bisa mendapatkan lebih dari satu antibiotik pada saat bersamaan. Pemberian obat ini akan berlangsung selama berbulan-bulan hingga 1-2 tahun lamanya.
2. Konsumsi Obat Antiradang
Antibiotik tidak mampu mengatasi kerusakan saraf yang terjadi akibat penyakit Hansen. Dokter dapat meresepkan obat antiradang, seperti steroid untuk mengatasi nyeri saraf.
Selain mengurangi rasa sakit, steroid mampu mengatasi peradangan dan menenangkan sistem kekebalan tubuh yang bekerja secara berlebihan. Dosis obat dapat disesuaikan, bergantung pada gejala dan jenis penyakit yang dialami oleh penderita.
Cara Mencegah Kusta
Salah satu cara terbaik untuk mencegah penyakit Hansen adalah menghindari kontak dekat dengan penderita dalam waktu lama. Segera lakukan deteksi dan pengobatan dini agar mengurangi risiko penularan yang terjadi.
Jika ada orang di rumah yang pernah kontak dengan penderita, Anda dapat mengunjungi layanan kesehatan terdekat dan menjalani pemeriksaan lanjutan selama 5 tahun. Hal ini sangat penting untuk menghindari penularan dengan penderita, meskipun risiko tertularnya penyakit Hansen cenderung rendah.
Perlu diketahui bahwa tidak ada vaksin yang tersedia untuk mencegah penyakit Hansen secara khusus. Namun, jenis vaksin BCG untuk melawan tuberkulosis dapat memberikan perlindungan terhadap kusta dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Hal ini karena bakteri penyebab penyakit Hansen masih satu rumpun dengan bakteri tuberkulosis. Sebelum menjalani vaksin BCG, Anda dapat berdiskusi dengan dokter terlebih dahulu.
Pengobatan Kusta ke Dokter
Ciri-ciri kusta sudah sembuh cenderung bervariasi pada setiap orang. Kondisi ini biasanya ditandai dengan bercak kulit yang lebih terang atau kemerahan dari kulit sekitar dan mati rasa.
Apabila gejala penyakit Hansen, seperti kulit menebal, kelemahan otot, dan kesemutan di kaki atau tangan yang dirasakan tidak kunjung membaik setelah perawatan rumahan dan bahkan semakin parah, sebaiknya segera berkonsultasi pada dokter.
Baca Juga: 11 Penyebab Kulit Bersisik, Kering, Gatal & Pengobatan
Anda bisa kunjungi rumah sakit Ciputra Hospital terdekat untuk konsultasi kesehatan. Cek layanan rumah sakit Ciputra Hospital mulai dari rawat jalan hingga Medical Check Up (MCU).
Yuk, jaga dan cek kondisi kesehatan Anda sekeluarga bersama Ciputra Hospital!







