Ditulis oleh Tim Konten Medis
Eklampsia pada ibu hamil terjadi saat tekanan darah tinggi tidak terkontrol dan menyebabkan kejang. Kondisi ini adalah tahap lanjut dari preeklampsia yang ditandai tekanan darah tinggi serta adanya protein dalam urine.

Eklampsia pada ibu hamil bisa menyebabkan stroke hingga kematian.
Melansir Kementerian Kesehatan Indonesia, eklampsia bisa memengaruhi sekitar 1 dari setiap 200 wanita dengan gejala preeklampsia, seperti sakit kepala berat, gangguan penglihatan, dan nyeri di ulu hati. Meskipun jarang terjadi, kondisi ini bisa berakibat buruk apabila tidak mendapatkan penanganan medis segera mungkin.
Eklampsia juga bisa terjadi pada wanita hamil yang tidak memiliki riwayat kejang. Bahkan, kondisi ini mampu memengaruhi otak sebelum, selama, atau sesudah persalinan.
Apa Itu Eklampsia?
Eklampsia adalah masalah serius yang terjadi akibat preeklampsia. Kondisi ini menjadi salah satu gangguan kehamilan yang menyebabkan tekanan darah tinggi dan protein di dalam urine.
Gangguan eklampsia bisa terjadi akibat ibu hamil dengan preeklampsia mengalami kejang yang tidak segera ditangani. Umumnya, kondisi ini berlangsung setelah minggu ke-20 kehamilan dan hanya memengaruhi 3 persen penderita preeklampsia saja.
Meskipun jarang terjadi, dampak eklampsia pada ibu hamil cenderung berbahaya dan memerlukan perawatan medis darurat. Dampak yang terjadi dapat berupa stroke hingga mengancam nyawa.
Baca Juga: Gangguan Sistem Pencernaan pada Ibu Hamil, Apa Saja?
Penyebab Eklampsia
Penyebab eklampsia pada ibu hamil bisa terjadi karena adanya pembentukan dan fungsi plasenta yang tidak normal. Selain itu, terdapat 2 penyebab utama. Di antaranya:
- Tekanan darah tinggi: Ibu hamil yang mengalami preeklampsia muncul dengan tekanan darah yang tinggi sehingga merusak arteri atau pembuluh darah lainnya. Kerusakan ini bisa menyebabkan pembengkakan pada pembuluh darah di otak dan bayi yang sedang tumbuh, serta meningkatkan risiko eklampsia berupa kejang.
- Proteinuria: Kondisi ini adanya peningkatan protein dalam urine. Proteinuria atau albuminuria bukanlah sebuah penyakit, tetapi gejala dari kondisi tertentu yang memengaruhi ginjal.
Jika Anda mengalami atau pernah mengalami preeklampsia, sebaiknya tetap waspada dan lakukan perawatan mandiri di rumah hingga pengobatan medis untuk mencegah timbulnya eklampsia.
Selain itu, terdapat beberapa faktor terbesar yang perlu Anda perhatikan, antara lain:
- Sedang hamil anak kembar
- Memiliki penyakit autoimun
- Pola makan yang buruk atau mengalami obesitas (BMI lebih dari 30)
- Remaja umur di bawah 17 tahun atau orang dewasa umur di atas 35 tahun
- Kehamilan pertama
- Memiliki riwayat penyakit keluarga
Perlu Anda ketahui bahwa preeklampsia dan eklampsia mampu memengaruhi plasenta, yaitu organ yang menyalurkan oksigen dan nutrisi dari darah ibu ke janin. Hal ini dapat meningkatkan risiko terjadinya berat badan lahir rendah dan kesehatan lainnya. Masalah pada plasenta sering kali mengakibatkan bayi lahir prematur dan lahir mati.
Gejala Eklampsia pada Ibu Hamil
Kejang merupakan gejala eklampsia yang paling umum terjadi. Wanita yang sedang hamil atau pascapersalinan dapat mengalami kejang yang berlangsung selama 1-2 menit.
Selama kejang, biasanya ciri-ciri eklampsia pada ibu hamil lainnya bisa berupa:
- Terdapat kedutan di wajah
- Serangkaian kontraksi dan relaksasi otot yang cepat di seluruh tubuh
- Mulut berbusa
- Tidak sadarkan diri selama beberapa saat setelah kejang
- Merasa bingung atau gelisah setelah sadar kembali
- Mengalami hiperventilasi atau pernapasan cepat selama pemulihan kejang
- Tidak memiliki ingatan tentang kejang yang terjadi
Sementara itu, ibu hamil juga bisa mengalami gejala impending eklampsia berupa nyeri kepala frontal, pandangan kabur, dan nyeri epigastrium. Impending eklampsia adalah kondisi serius selama kehamilan yang muncul dengan komplikasi, seperti gagal ginjal, gagal jantung, dan edema paru.
Ibu hamil yang mengidap preeklampsia dan mulai mengalami kejang dapat berakibat menderita eklampsia yang harus segera periksa. Biasanya, kondisi ini terjadi secara tiba-tiba dan perlu Anda waspadai.
Baca Juga: Penyebab Ketuban Pecah Dini pada Ibu Hamil dan Pengobatan
Banyak ibu hamil yang mengalami eklampsia sebelumnya terdeteksi preeklampsia dengan tekanan darah tinggi sekitar 140/90 mmHg atau lebih tinggi dan protein dalam urine. Kondisi ini menandakan ginjal tidak berfungsi dengan baik.
Dokter dapat meresepkan obat antikejang untuk mencegah eklampsia, tetapi pengobatannya tidak selalu efektif. Pengujian diagnostik untuk memastikan tekanan darah tinggi dan protein dalam urine, memeriksa fungsi hati, jumlah sel darah, dan mencari kelainan pembekuan darah.
Selain itu, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan pencitraan, seperti tomografi kranial (CT) yang digunakan untuk menyingkirkan masalah kesehatan lain, seperti pendarahan otak.
Pengobatan Eklampsia
Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengobati eklampsia adalah dengan melahirkan bayi yang dikandungnya. Selain itu, Anda juga bisa melakukan penanganan eklampsia pada ibu hamil untuk mencegah terjadinya komplikasi serius, seperti:
1. Konsumsi Obat
Dokter dapat merekomendasikan obat eklampsia pada ibu hamil, seperti:
- Obat antikonvulsan atau infus magnesium sulfat mampu mengatasi terjadinya kejang
- Obat tekanan darah untuk menurunkan tekanan darah
- Kortikosteroid untuk mengembangkan dan memperkuat paru-paru janin
Jenis obat ini dapat diberikan oleh dokter dan perlu dikonsumsi secara teratur untuk meredakan gejala yang dialami oleh penderita. Penderita juga perlu dibaringkan miring agar terhindar dari risiko aspirasi, yaitu menghirup makanan, muntahan, atau cairan tubuh.
Apabila magnesium sulfat tidak bekerja efektif, dokter dapat memberikan obat antikonvulsan lainnya secara intravena, seperti benzodiazepin (Diazepam atau Lorazepam). Eklampsia yang tidak diobati dengan tepat bisa memicu komplikasi serius berupa plasenta terpisah dari rahim dan masalah pembekuan darah.
2. Istirahat yang Cukup
Dokter atau ahli medis profesional menyarankan untuk istirahat di tempat tidur agar membantu mengobati kondisi kehamilan yang dapat memicu komplikasi. Penelitian membuktikan bahwa istirahat selama kehamilan bisa mencegah persalinan prematur.
Anda juga bisa berbaring miring saat istirahat di tempat tidur dengan kaki ditekuk. Hal ini bisa memaksimalkan aliran darah ke rahim. Selain itu, Anda disarankan untuk melakukan hal-hal, sebagai berikut:
- Menempatkan bantal di antara lutut
- Menaruh bantal di belakang punggung, di bawah perut, atau di bawah pinggul
- Berganti sisi setiap jam untuk mengurangi tekanan pada sendi dan otot
- Pemeriksaan secara berkala
Ibu hamil yang mengalami preeklampsia disarankan untuk melakukan pemeriksaan secara berkala agar terhindari dari tubuh kejang. Anda bisa mengunjungi layanan kesehatan terdekat untuk memantau kondisi janin pada masa kehamilan.
Bagi ibu hamil yang mengidap preeklampsia berat, sebaiknya dianjurkan untuk melakukan persalinan secepatnya. Jika janin belum cukup bulan untuk dilahirnya, dokter dapat memberikan suntikan obat kortikosteroid untuk meningkatkan proses pematangan paru-paru pada janin.
Sementara itu, eklampsia yang terjadi pada usia kehamilan berkisar 30 minggu ke bawah, dokter dapat merekomendasikan persalinan dengan cara operasi caesar.
Baca Juga: Ambeien pada Ibu Hamil, Berbahaya? Ini Pengobatannya
Cara Mencegah Eklampsia pada Ibu Hamil
Adapun sejumlah cara mencegah eklampsia pada ibu hamil, sebagai berikut:
- Mengonsumsi makanan gizi seimbang
- Lakukan aktivitas fisik secara rutin
- Cobalah untuk mengelola stres
- Minum obat sesuai petunjuk dokter
- Memantau kondisi tekanan darah setidaknya 2 minggu setelah melahirkan
Segera kunjungi layanan kesehatan terdekat apabila Anda mengalami kejang selama masa kehamilan. Gejala lain yang memerlukan perhatian medis pada ibu hamil, seperti sakit kepala parah, pendarahan vagina, dan kehilangan penglihatan atau melihat ganda.
Anda bisa kunjungi rumah sakit Ciputra Hospital terdekat untuk konsultasi kesehatan. Yuk, jaga kesehatan tubuh dengan rutin melakukan medical check up di Ciputra Hospital.
Anda juga bisa konsultasi dan buat janji dengan dokter di Ciputra Hospital terdekat. Cek layanan rumah sakit Ciputra Hospital mulai dari rawat jalan hingga Medical Check Up (MCU) selengkapnya sekarang juga.
Telah direview oleh Dr Sony Prabowo, MARS
Source:
- Cleveland Clinic. Pregnancy Bed Rest. November 2024.
- Healthline. Eclampsia. November 2024.