Ditulis oleh Tim Konten Medis
Depresi bukanlah penyakit keturunan, namun faktor genetik bisa meningkatkan risiko seseorang terkena gangguan mental ini. Seseorang dengan orangtua atau saudara kandungan yang menderita depresi memiliki risiko 2-3 kali lipat lebih tinggi terkena kondisi yang sama, terutama jika depresi tersebut dimulai sejak usia muda. Penyebab depresi lainnya berasal dari lingkungan, kepribadian, hingga peristiwa atau pengalaman di masa lalu.

Depresi tidak hanya disebabkan oleh genetika, tetapi banyak faktor, seperti lingkungan, gaya hidup, dan lainnya.
Hubungan Depresi dengan Faktor Genetik
Sebuah penelitian terkait penyakit turun temurun dari suatu keluarga, ditemukan bahwa anggota keluarga yang kembar identik (monozygotic) menurunkan 100% gen yang sama, sedangkan non-identik (dizygotic) akan menurunkan 50% gen yang sama. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penyakit depresi yang diturunkan melalui gen memiliki kemungkinan sebesar 50%, kecuali pada anggota keluarga kembar identik.
Selain itu, depresi tidak hanya disebabkan oleh genetika, tetapi juga dapat disebabkan oleh lingkungan, gaya hidup, dan pengalaman pribadi. Depresi akibat genetik ini hanya memiliki kemungkinan penularan sebesar 40-50% dan dapat lebih tinggi pada jenis depresi tertentu.
Sejujurnya, dokter dan psikiater tidak dapat menentukan secara pasti apa penyebab depresi, tetapi salah satunya tentu saja dapat disebabkan oleh genetika dan banyak faktor kombinasi lainnya.
Baca Juga: Motivasi untuk Orang Depresi agar Kembali Normal
Penyebab Depresi
Penyebab depresi akibat faktor genetik berhubungan dengan usia. Jika salah satu anggota keluarga menderita depresi pada usia sebelum 20 tahun, maka ada kemungkinan akan menurun pada anggota keluarga lainnya.
Pada kebanyakan kasus, semakin muda seseorang mengalami gangguan kecemasan atau depresi, maka akan semakin besar kemungkinan gangguan tersebut menurun pada keturunan berikutnya.
Gangguan kecemasan dan depresi masih bisa bersifat genetik jika muncul pada anggota keluarga yang lebih tua, seperti orang tua. Sedangkan, kondisi depresi di atas usia 20 tahun lebih banyak berkaitan dengan peristiwa kehidupan yang menyakitkan atau stressful.
Seseorang lebih cenderung mewarisi gangguan kecemasan dan depresi dari anggota keluarga terdekat daripada kerabat jauhnya, seperti saudara kembar, orang tua, atau saudara kandung. Namun, genetika bukanlah penyebab utama depresi, karena pada umumnya depresi disebabkan oleh banyak faktor pendukung lainnya.
Tanda Depresi yang Dipengaruhi oleh Turunan
Tanda depresi penyakit keturunan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Banyak dari penderita depresi tidak menyadari dan melewatkan tanda-tanda tersebut.
Beberapa tanda depresi juga terkadang muncul bersamaan dengan kondisi medis lainnya, sehingga cukup sulit untuk mengenalinya. Tanda depresi akibat genetik dan faktor lainnya memiliki kesamaan. Inilah beberapa tanda-tanda depresi penyakit keturunan yang umum muncul, yaitu:
1. Gangguan Kecemasan
Gangguan kecemasan pada penderita sering terjadi sehingga membuat penderita menjadi sangat gugup, panik, detak jantung terasa lebih cepat, sulit tidur, dan menimbulkan masalah pada pencernaan. Rasa cemas ini meningkat dari waktu ke waktu dan dapat timbul secara tiba-tiba. Penderita cenderung kehilangan konsentrasi dan mengabaikan keadaan atau hal-hal di sekitarnya.
Baca Juga: Pengobatan Depresi Pada Lansia
2. Sering Putus Asa
Rasa putus asa juga sering muncul dan menghantui penderita depresi. Mereka akan merasa kurang berenergi, mudah tersinggung atau marah, kehilangan minat pada hobi, muncul rasa bersalah yang kuat, serta menjadi ceroboh.
Penderita depresi tidak mampu bernalar dengan pikiran mereka serta tidak dapat merasa positif. Pada kasus yang ekstrim, keputusasaan ini dapat memicu penderita melakukan usaha bunuh diri.
3. Mengalami Perubahan Penampilan Fisik
Perubahan penampilan fisik akibat depresi juga kerap terjadi. Penderita akan mengalami penurunan berat badan secara tiba-tiba, nafsu makan berkurang, kekurangan energi, kelelahan berlebihan, kehilangan minat pada hobi, dan pola tidur menjadi tidak teratur. Hal-hal tersebut secara tidak langsung berdampak pada kesehatan fisik penderita, seperti terlihat lebih kurus, murung, dan menarik diri dari lingkungan.
Baca Juga: Penyebab Depresi pada Remaja dan Gejalanya
Cara Mengatasi Depresi
Cara menyembuhkan depresi merupakan pengobatan gabungan dari perawatan medis dan perubahan gaya hidup. Berikut adalah hal-hal yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi gejala depresi:
- Jangkaulah orang-orang atau kelompok pendukung yang mau serta mampu menjadi pendengar yang baik untuk menceritakan perasaan, emosi, serta pikiran mereka.
- Tetap melakukan aktivitas rutin yang Anda sukai
- Minum sesuai resep dokter
- Rutin olahraga
- Membaca buku
- Mendengarkan musik
- Makan makanan yang bergizi
- Konsumsi vitamin
- Menjauhkan pikiran-pikiran negatif
Penyakit depresi akibat keturunan hanya akan memiliki kemungkinan penularan sebesar 50% dari anggota keluarga yang bukan kembar identik. Jika Anda melihat orang lain dengan gejala depresi, maka anjurkan untuk menemui dokter atau psikiater supaya mereka memperoleh pertolongan dengan cepat.
Telah direview oleh dr. Silvia Valentina
Source:
- WebMD. Depression and Anxiety: Are They Hereditary?. Februari 2026
- United We Care. Hereditary Depression: The Role of Genetics in Depression. Februari 2026
- Stanford Medicine. Major Depression and Genetics. Februari 2026




