Ditulis oleh Tim Konten Medis
Stroke ringan adalah kondisi ketika aliran darah ke otak terhambat sementara, sehingga menimbulkan gejala mirip stroke namun biasanya berlangsung singkat. Gejalanya bisa berupa kelemahan di satu sisi tubuh, kesulitan berbicara, pandangan kabur, hingga rasa kebas mendadak.

Gejala stroke ringan yaitu mati rasa pada tangan.
Stroke ringan biasanya disebabkan oleh penyumbatan sementara pada pembuluh darah otak akibat gumpalan darah atau penumpukan lemak. Meskipun gejalanya bisa hilang dalam waktu singkat, kondisi ini tidak boleh diremehkan karena bisa menjadi tanda awal risiko stroke lebih berat.
Bahaya stroke ringan terletak pada peluang kambuh dan berkembang menjadi stroke permanen yang berakibat fatal. Pilihan pengobatannya meliputi pemberian obat pengencer darah, pengendalian tekanan darah, perubahan gaya hidup, hingga tindakan medis untuk mencegah kerusakan otak lebih lanjut.
Apa Itu Stroke Ringan?
Stroke ringan adalah kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke bagian otak terganggu untuk sementara waktu. Ini dapat terjadi karena adanya penyumbatan sementara pada pembuluh darah yang menyuplai otak.
Namun, penyumbatan ini tidak berlangsung cukup lama untuk menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan otak. Perbedaan stroke ringan dengan stroke biasa adalah pada durasi dan dampaknya.
Stroke ringan atau TIA (Transient Ischemic Attack) terjadi karena aliran darah ke otak terhenti sementara, sehingga gejalanya mirip stroke tetapi hanya berlangsung beberapa menit hingga maksimal 24 jam, tanpa menimbulkan kerusakan permanen pada otak. Sementara itu, stroke biasa terjadi ketika sumbatan berlangsung lama sehingga menyebabkan kerusakan otak permanen dan bisa berujung pada cacat atau disabilitas.
Gejala TIA maupun stroke pada dasarnya sama, misalnya mati rasa atau kelemahan otot pada salah satu sisi tubuh, sulit berbicara, pusing atau hilang keseimbangan, serta gangguan penglihatan. Bedanya, gejala TIA akan hilang dalam waktu singkat, tetapi tetap berbahaya karena menjadi tanda awal risiko stroke yang lebih berat.
Bahkan, 1 dari 3 orang yang mengalami TIA bisa terkena stroke, dengan risiko tertinggi dalam 48 jam setelah TIA terjadi.
Baca Juga: 4 Macam-macam Stroke yang Bisa Membahayakan Nyawa Anda
Gejala Stroke Ringan
Gejala TIA dapat bervariasi tergantung pada area otak yang terpengaruh dan seberapa parah penyumbatan aliran darahnya. Beberapa gejala umum yang mungkin muncul selama TIA meliputi:
- Mati rasa atau kelemahan pada satu sisi tubuh: Ini bisa melibatkan tangan, kaki, atau wajah. Misalnya, seseorang mungkin merasa kesulitan menggerakkan tangan atau kaki pada satu sisi tubuh.
- Kehilangan penglihatan: Penglihatan ganda, kabur, atau hilangnya penglihatan pada salah satu mata atau kedua mata bisa menjadi gejala TIA.
- Kesulitan berbicara atau memahami ucapan: Penderita TIA mungkin mengalami gangguan berbicara atau kesulitan memahami apa yang orang lain katakan.
- Gangguan keseimbangan atau koordinasi: Penderita TIA bisa merasa pusing, sulit berjalan, atau mengalami masalah keseimbangan.
- Ketidakmampuan untuk mengontrol gerakan mata dengan benar: Gerakan mata yang tidak normal atau sulit untuk mengontrol gerakan mata juga bisa terjadi.
- Gangguan ingatan jangka pendek: Kadang sulit mengingat hal-hal yang baru saja terjadi, misalnya lupa instruksi yang baru diberikan, meskipun masih ingat kejadian lama.
- Penurunan kemampuan berpikir atau menalar: Aktivitas yang dulu mudah, seperti main teka-teki atau memahami alasan orang lain, kini jadi lebih sulit dan bikin cepat frustrasi.
- Perubahan suasana hati: Tiba-tiba mudah marah, cemas, sedih, atau bahkan tertawa dan menangis tanpa alasan yang jelas.
- Gangguan psikologis: Bisa muncul halusinasi, delusi, atau perilaku aneh yang tidak biasa dilakukan, seperti gerakan berulang atau tindakan tidak wajar.
- Gangguan buang air (inkontinensia): Lebih sering ingin buang air kecil, sulit menahan, atau tanpa sadar mengompol saat siang atau malam hari.
- Sakit kepala atau migrain: Sering muncul sakit kepala lebih parah dari biasanya, bahkan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Gejala stroke ringan memang bersifat sementara dan tidak menyebabkan kerusakan permanen. Namun, TIA tidak boleh diabaikan karena seringkali bisa menjadi tanda peringatan bahwa risiko stroke yang lebih serius akan terjadi.
Penyebab Stroke Ringan
Arteri adalah pembuluh darah yang memasok oksigen dan nutrisi ke otak. Penumpukan plak ini dapat mengurangi aliran darah ke arteri atau berpotensi menyebabkan pembekuan darah.
Gumpalan tersebut kemudian bergerak ke arteri di otak yang dapat menyebabkan stroke ringan. Gumpalan darah ini dapat berpindah dari pembuluh darah di jantung atau bagian tubuh lainnya.
Akibatnya, banyak penderita penyakit jantung juga mengalami stroke. Adapun beberapa faktor risiko penyebab stroke ringan, di antaranya:
1. Keturunan
Riwayat keluarga dapat menjadi salah satu risiko stroke ringan. Jika ada anggota keluarga yang pernah mengalami TIA atau stroke, risiko Anda bisa lebih tinggi.
Faktor genetik juga dapat memengaruhi kecenderungan terhadap gangguan pembuluh darah dan penyakit yang berhubungan dengan TIA.
2. Gaya Hidup
Gaya hidup tidak sehat dapat meningkatkan risiko TIA. Merokok, konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol, serta kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan penyempitan arteri dan pembentukan plak kolesterol.
Ini meningkatkan kemungkinan pembentukan gumpalan darah yang dapat menyebabkan TIA.
3. Penyakit Tertentu
Beberapa kondisi medis seperti diabetes, tekanan darah tinggi (hipertensi), penyakit jantung, kolestrol, dan gangguan irama jantung (seperti fibrilasi atrium) dapat meningkatkan risiko terjadinya TIA. Diabetes dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan pembentukan plak, sedangkan penyakit jantung dapat memengaruhi aliran darah ke otak.
Baca Juga: Gejala Stroke, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
4. Usia
Risiko TIA dan stroke secara umum meningkat seiring bertambahnya usia. Proses penuaan dapat menyebabkan perubahan pada pembuluh darah dan meningkatkan kemungkinan pembentukan plak kolesterol serta risiko terjadinya gangguan aliran darah.
Cara Mengobati Stroke Ringan
Pengobatan stroke ringan penting dilakukan untuk mencegah kemungkinan terjadinya stroke yang lebih serius di masa depan. Pengobatan dapat melibatkan berbagai pendekatan, termasuk penggunaan obat-obatan, intervensi karotis invasif minimal, dan perubahan gaya hidup.
Berikut adalah informasi umum mengenai opsi pengobatan TIA:
1. Obat-obatan
- Antiplatelet: Obat seperti aspirin atau clopidogrel dapat diresepkan untuk mencegah pembentukan gumpalan darah dalam arteri sehingga mengurangi risiko TIA dan stroke.
- Antikoagulan: Pada beberapa kasus, antikoagulan seperti warfarin atau apixaban dapat diberikan jika ada riwayat fibrilasi atrium atau kondisi lain yang memerlukan pencegahan pembentukan gumpalan darah yang lebih kuat.
- Pengendalian Tekanan Darah: Jika tekanan darah tinggi adalah faktor penyebab atau risiko TIA, obat-obatan pengendalian tekanan darah dapat diresepkan oleh dokter.
- Pengendalian Kolesterol: Obat-obatan untuk mengatur kadar kolesterol juga dapat direkomendasikan untuk mencegah pembentukan plak kolesterol di arteri.
2. Intervensi Karotis Invasif Minimal
Jika penyebab TIA berkaitan dengan penyempitan arteri karotis (pembuluh darah utama yang membawa darah ke otak), dokter dapat merekomendasikan prosedur invasif minimal untuk mengatasi penyempitan tersebut:
- Carotid Endarterectomy: Prosedur ini melibatkan pengangkatan plak dari dinding arteri karotis untuk memulihkan aliran darah yang normal.
- Angioplasty Karotis dan Stent: Pada prosedur ini, dokter dapat memasang stent (struktur kecil berbentuk tabung) di dalam arteri untuk menjaga pembuluh darah tetap terbuka dan aliran darah lancar.
3. Perubahan Gaya Hidup
- Berhenti Merokok: Merokok merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyempitan arteri. Berhenti merokok dapat membantu meningkatkan kesehatan pembuluh darah dan mengurangi risiko TIA.
- Menerapkan Pola Makan Sehat: Mengonsumsi makanan rendah lemak jenuh, kolesterol, dan sodium, serta kaya serat, dapat membantu mengendalikan faktor risiko TIA seperti tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi.
- Aktivitas Fisik Teratur: Berolahraga secara teratur dapat membantu menjaga kesehatan pembuluh darah, mengendalikan berat badan, dan meningkatkan sirkulasi darah.
Cara Diagnosis Stroke Ringan
Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami stroke ringan, dokter biasanya akan melakukan beberapa pemeriksaan medis. Pemeriksaan ini membantu memastikan kondisi otak, pembuluh darah, serta faktor lain yang berhubungan dengan risiko stroke.
Berikut cara mendiagnosis stroke ringan:
- Pemeriksaan fisik: Dokter akan melakukan pemeriksaan seperti mendengarkan detak jantung, mengecek tekanan darah, serta tes neurologis untuk melihat pengaruh stroke pada sistem saraf.
- Tes darah: Dilakukan untuk mengetahui kecepatan pembekuan darah, kadar gula, serta mengecek apakah ada infeksi dalam tubuh.
- CT Scan (Computerized Tomography): Menggunakan sinar-X untuk membuat gambar detail otak. CT Scan bisa menunjukkan adanya perdarahan, stroke iskemik, tumor, atau kondisi lain.
- MRI (Magnetic Resonance Imaging): Menggunakan gelombang radio dan medan magnet untuk menghasilkan gambar detail otak. MRI bisa mendeteksi kerusakan jaringan otak akibat stroke iskemik maupun perdarahan.
- USG Karotis (Carotid Ultrasound): Pemeriksaan dengan gelombang suara untuk melihat bagian dalam arteri karotis di leher.
- Angiogram otak (Cerebral Angiogram): Jarang dilakukan, tapi bisa memberikan gambaran detail pembuluh darah di otak dan leher.
- Ekokardiogram (Echocardiogram): Menggunakan gelombang suara untuk membuat gambar jantung. Tes ini membantu menemukan gumpalan darah di jantung yang bisa saja berpindah ke otak dan menyebabkan stroke.
Baca Juga: Wajib Tahu! Ini 8 Pertolongan Pertama Stroke yang Tepat
Cara Mencegah Stroke Ringan
Mencegah stroke ringan bisa dilakukan dengan pola hidup sehat dan pengelolaan kondisi medis sangat penting. Dengan langkah sederhana sehari-hari, risiko stroke bisa ditekan sejak dini.
Berikut cara mencegah stroke ringan yang bisa dilakukan:
- Pilih makanan dan minuman sehat
- Jaga berat badan ideal
- Rutin beraktivitas fisik
- Hindari merokok
- Batasi konsumsi alkohol
- Cek kadar kolesterol secara berkala
- Kontrol tekanan darah
- Atur kadar gula darah (diabetes)
- Rawat kesehatan jantung
- Minum obat sesuai anjuran dokter
Jika muncul gejala seperti wajah mencong, bicara pelo, atau kelemahan pada salah satu sisi tubuh, segera periksa ke dokter karena bisa jadi tanda stroke ringan. Anda bisa kunjungi rumah sakit Ciputra Hospital terdekat untuk konsultasi kesehatan.
Yuk, jaga kesehatan tubuh dengan rutin melakukan medical check up di Ciputra Hospital. Anda juga bisa konsultasi dan buat janji dengan dokter di Ciputra Hospital terdekat.
Cek layanan rumah sakit Ciputra Hospital mulai dari rawat jalan hingga Medical Check Up (MCU) selengkapnya sekarang juga.
Telah direview oleh dr Steffe Lie
Source:
- Cleveland Clinic. Transient Ischemic Attack (TIA). Agustus 2025.
- Mayo Clinic. Stroke. Agustus 2025.