Ditulis oleh Tim Konten Medis
Obesitas sentral adalah penumpukan lemak berlebih di area perut, terutama lemak viseral yang mengelilingi organ sehingga umumnya kondisi ini ditandai dengan perut buncit. Seseorang dikatakan berisiko mengalami obesitas sentral apabila lingkar perutnya pada wanita lebih dari 80 cm dan lebih dari 90 cm pada pria. Obesitas sentral lebih berbahaya daripada obesitas umum karena bisa meningkatkan risiko penyakit seperti jantung, diabetes, dan stroke. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari pola makan tidak sehat, kurang aktivitas, sampai faktor lain seperti usia dan pekerjaan.

Obesitas memiliki lingkar perut di atas 90 cm.
Apa itu Obesitas Sentral?
Obesitas sentral adalah penumpukan lemak berlebih di area perut yang berbahaya karena lemak tersebut merupakan lemak viseral yang aktif secara metabolik dan dapat meningkatkan risiko penyakit kronis, seperti penyakit jantung, stroke, dan diabetes. Lemak ini berada di sekitar organ dalam dan bisa mengganggu kerja tubuh bila jumlahnya terlalu banyak.
Setiap orang memiliki lemak viseral dalam jumlah tertentu dan itu masih tergolong normal. Namun, jika menumpuk berlebihan di perut, risiko gangguan kesehatan akan meningkat.
Jumlah lemak viseral terpengaruhi oleh faktor genetik dan bentuk tubuh. Pola makan tinggi lemak dan gula, serta kurang aktivitas fisik, juga membuat lemak di perut lebih mudah bertambah.
Selain itu, stres turut berperan sebagai faktor risiko obesitas sentral. Hormon stres atau kortisol dapat mendorong tubuh menyimpan lebih banyak lemak di area perut.
Cara Mendeteksi Obesitas Sentral
Obesitas sentral sering tidak disadari meski berat badan terlihat normal. Untuk mengetahuinya, diperlukan cara khusus yang fokus pada lemak di area perut.
Berikut beberapa cara mendeteksi obesitas sentral:
1. Lingkar Pinggang
Cara mendeteksi obesitas sentral yang paling sederhana adalah dengan mengukur lingkar perut. Metode ini mudah Anda lakukan dan bisa membantu mengetahui apakah lemak di area perut sudah berisiko bagi kesehatan.
Pengukuran dilakukan dengan berdiri tegak, kaki dibuka selebar pinggul, dan perut dalam kondisi rileks. Lingkarkan pita ukur di tengah antara tulang rusuk paling bawah dan tulang pinggul, lalu ukur saat bernapas normal dan catat hasilnya.
Berikut batas lingkar perut yang menandakan kriteria obesitas sentral:
| Kelompok | Risiko Meningkat | Risiko Tinggi / Diagnostik |
|---|---|---|
| Pria (Eropa/AS) | ≥ 94 cm | ≥ 102 cm |
| Wanita (Eropa/AS) | ≥ 80 cm | ≥ 88 cm |
| Pria (Asia) | ≥ 90 cm | ≥ 90 cm |
| Wanita (Asia) | ≥ 80 cm | ≥ 80 cm |
Baca Juga: 3 Cara Mudah Diet Sehat untuk Wanita
2. Waist-to-Hip Ratio (WHR)
Cara mendeteksi obesitas sentral berikutnya adalah dengan menghitung perbandingan lingkar pinggang dan lingkar pinggul. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat seberapa besar penumpukan lemak di perut daripada bagian tubuh bawah.
Rumusnya sederhana, yaitu lingkar pinggang dibagi dengan lingkar pinggul. Jika hasilnya lebih dari 0,90 pada pria atau lebih dari 0,85 pada wanita, maka risiko obesitas sentral sudah meningkat.
3. Waist-to-Height Ratio (WHtR)
Metode lain yang bisa Anda lakukan adalah membandingkan lingkar pinggang dengan tinggi badan. Cara ini membantu menilai apakah ukuran perut sudah tidak seimbang dengan tinggi tubuh.
Rumusnya adalah lingkar pinggang dibagi tinggi badan. Jika hasilnya lebih dari 0,5, baik pada pria maupun wanita, itu menandakan risiko gangguan kesehatan akibat obesitas sentral semakin tinggi.
4. Pemeriksaan DEXA (Gold Standard)
Cara paling akurat untuk mendeteksi obesitas sentral adalah dengan pemeriksaan DEXA. Pemeriksaan ini bisa langsung mengukur lemak visceral di sekitar organ dalam, bukan sekadar perkiraan seperti pita ukur.
DEXA membantu dokter melihat jumlah lemak tubuh secara detail dan objektif. Hasilnya juga bisa menunjukkan posisi Anda daripada orang lain dengan usia dan jenis kelamin yang sama.
Keunggulan pemeriksaan DEXA:
- Mengukur lemak visceral secara langsung dan sangat akurat.
- Hasilnya stabil dan konsisten, sehingga kecil kemungkinan salah ukur.
- Telah dibandingkan dengan CT scan dan MRI, dengan tingkat kesesuaian yang sangat tinggi.
Pemeriksaan DEXA biasanya hanya memerlukan waktu sekitar 10 menit. Dengan hasil ini, tenaga kesehatan bisa menentukan risiko obesitas sentral secara lebih tepat dan menyarankan penanganan yang sesuai.
5. Perbandingan BMI dan Lemak Visceral
BMI untuk menilai berat badan, tetapi angka ini tidak selalu menunjukkan jumlah lemak berbahaya di perut. Berdasarkan analisis lebih dari 10.000 hasil pemeriksaan DEXA, BMI hanya menggambarkan sekitar sepertiga perbedaan kadar lemak visceral pada seseorang.
Artinya, dua orang dengan BMI yang sama bisa memiliki jumlah lemak perut yang sangat berbeda. Bahkan pada kelompok tertentu, seperti wanita Asia, BMI hanya sedikit mencerminkan kondisi lemak visceral.
Mengapa BMI kurang tepat untuk mendeteksi obesitas sentral:
- BMI hanya menghitung berat dan tinggi badan, bukan lemak perut.
- Orang dengan BMI normal tetap bisa memiliki lemak visceral tinggi.
- Lemak visceral baru bisa diketahui dengan pemeriksaan langsung seperti DEXA.
Kesimpulannya, BMI saja tidak cukup untuk mendeteksi obesitas sentral. Untuk hasil yang lebih akurat, pemeriksaan yang bisa mengukur lemak visceral secara langsung sangat dokter sarankan.
Risiko Penyebab Obesitas Sentral
Obesitas sentral terjadi akibat penumpukan lemak berlebih di area perut. Kondisi ini dapat terpicu oleh gaya hidup kurang aktif, ketidakseimbangan hormon, dan pola makan yang tidak sehat.
1. Konsumsi Makanan Tidak Sehat
Makanan dan minuman manis seperti kue, makanan kemasan, soda, dan minuman berpemanis dapat meningkatkan lemak perut. Asupan gula berlebihan tanpa diimbangi serat dan protein membuat lemak mudah menumpuk di area perut.
Untuk mencegah obesitas sentral, sebaiknya kurangi konsumsi gula harian. Pilih minuman tanpa pemanis dan perbanyak makanan tinggi serat seperti sayur dan buah.
Baca Juga: 13 Makanan Pengganti Nasi Sumber Karbohidrat untuk Diet
2. Konsumsi Alkohol Berlebihan
Konsumsi alkohol secara berlebihan dapat menyebabkan kenaikan berat badan dan penumpukan lemak perut. Alkohol mengandung kalori tinggi dan dapat menghambat proses pembakaran lemak tubuh.
Minum alkohol lebih dari dua gelas per hari meningkatkan risiko perut buncit. Kebiasaan ini juga berhubungan dengan berbagai masalah kesehatan lainnya.
3. Lemak Tidak Sehat
Lemak trans termasuk jenis lemak yang tidak sehat dan sering ditemukan pada makanan kemasan dan produk panggang. Hal ini dapat memicu peradangan dan meningkatkan risiko penyakit jantung serta resistensi insulin.
Lemak trans alami juga terdapat pada produk susu dan daging, tetapi dalam jumlah kecil. Konsumsi berlebihan tetap perlu dihindari demi kesehatan tubuh.
4. Gaya Hidup Sedentari
Gaya hidup tidak aktif merupakan salah satu penyebab utama obesitas sentral. Duduk terlalu lama, jarang bergerak, dan kurang olahraga membuat kalori tidak terbakar dengan baik.
Kurangnya aktivitas fisik menyebabkan lemak lebih mudah menumpuk di perut. Oleh karena itu, lakukan olahraga atau aktivitas fisik minimal 150 menit setiap minggu.
5. Kurang Konsumsi Protein
Asupan protein yang cukup membantu menjaga berat badan tetap ideal. Protein juga membantu meningkatkan metabolisme dan membakar lebih banyak kalori.
Protein membuat tubuh merasa kenyang lebih lama sehingga mencegah makan berlebihan. Pilih sumber protein sehat seperti ikan, telur, tahu, kacang-kacangan, dan lentil.
6. Menopause
Wanita yang memasuki masa menopause cenderung mengalami peningkatan berat badan. Lemak tubuh lebih banyak tersimpan di area perut akibat perubahan hormon.
Sebelum menopause, lemak biasanya tersimpan di pinggul dan paha. Setelah menopause, penyimpanan lemak bergeser ke area perut.
7. Faktor Genetik
Faktor keturunan berperan dalam risiko seseorang mengalami obesitas. Jika salah satu orang tua obesitas, risiko anak mengalami obesitas meningkat hingga 50%.
Jika kedua orang tua obesitas, risikonya bisa mencapai 70–80%. Gen tertentu juga memengaruhi hormon pengatur nafsu makan dan berat badan.
8. Stres
Stres berkepanjangan dapat meningkatkan hormon kortisol dalam tubuh. Hormon ini berperan dalam penumpukan lemak di area perut.
Saat stres, seseorang cenderung memilih makanan tinggi kalori untuk mencari kenyamanan. Kebiasaan ini dapat menyebabkan kenaikan berat badan.
Perilaku lain akibat stres seperti kurang tidur dan konsumsi alkohol juga memperburuk kondisi ini. Oleh karena itu, kelola stres dengan gaya hidup sehat dan bantuan profesional bila diperlukan.
9. Kurang Tidur
Kurang tidur dapat meningkatkan hormon lapar dalam tubuh. Kondisi ini membuat seseorang lebih sering makan, terutama di malam hari.
Orang yang kurang tidur cenderung mengonsumsi lebih banyak kalori setiap hari. Akibatnya, risiko penumpukan lemak perut menjadi lebih tinggi.
Bahaya Obesitas Sentral
Bahaya obesitas sentral perlu Anda waspadai karena lemak yang menumpuk di perut adalah lemak visceral yang aktif dan berbahaya. Lemak ini lebih berisiko daripada lemak di bawah kulit karena dapat memicu berbagai penyakit serius.
Lemak visceral menghasilkan zat yang dapat menyebabkan peradangan dan menyempitkan pembuluh darah. Akibatnya, tekanan darah bisa meningkat dan organ tubuh bekerja lebih berat.
Beberapa bahaya obesitas sentral yang perlu Anda ketahui:
- Penyakit jantung: Lemak visceral meningkatkan risiko penyakit jantung karena memengaruhi pembuluh darah dan tekanan darah.
- Alzheimer dan demensia: Penumpukan lemak di perut berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan daya ingat.
- Kanker: Lemak visceral berhubungan dengan beberapa jenis kanker, terutama kanker usus besar.
- Diabetes tipe 2: Lemak perut berlebih menyebabkan resistensi insulin yang memicu diabetes.
- Stroke: Orang dengan lemak visceral tinggi lebih berisiko mengalami stroke, bahkan di usia lebih muda.
- Kolesterol tinggi: Lemak visceral dapat meningkatkan kolesterol jahat (LDL) dalam darah.
- Tekanan darah tinggi: Penumpukan lemak di perut berkaitan erat dengan hipertensi.
Cara Mengatasi Obesitas Sentral
Obesitas sentral tidak hanya memengaruhi penampilan, tetapi juga berdampak serius pada kesehatan. Kabar baiknya, kondisi ini bisa Anda kurangi dengan langkah yang tepat dan dilakukan secara konsisten.
Berikut beberapa cara mengatasi obesitas sentral:
1. Olahraga (Exercise)
Olahraga secara rutin membantu mengurangi lemak di perut. Usahakan berolahraga minimal 30 menit setiap hari agar hasilnya terasa.
Pilih olahraga kardio seperti jalan cepat, bersepeda, lari, atau circuit training karena efektif membakar lemak. Kardio sebaiknya dilakukan sekitar 30 menit sebanyak 5 kali dalam seminggu.
Selain itu, lakukan latihan kekuatan untuk membentuk otot. Latihan ini membantu tubuh membakar lebih banyak kalori dalam jangka panjang dan idealnya dilakukan 3 kali seminggu.
2. Pola Makan (Diet)
Pola makan sehat dan seimbang sangat penting untuk mengatasi obesitas sentral. Kurangi makanan olahan dan tinggi gula karena dapat mempercepat penumpukan lemak perut.
Perbanyak konsumsi protein tanpa lemak, sayuran, dan karbohidrat kompleks seperti ubi, kacang-kacangan, dan lentil. Pola makan rendah karbohidrat juga bisa membantu mengurangi lemak visceral bila Anda jalani dengan benar.
Baca Juga: Pola Makan Diet Dash, Contoh Menu, dan Cara Menerapkan
3. Gaya Hidup (Lifestyle)
Stres berlebihan dapat meningkatkan hormon kortisol yang memicu penumpukan lemak di perut. Oleh karena itu, mengelola stres sangat penting untuk membantu menurunkan lemak visceral.
Lakukan aktivitas yang menenangkan seperti meditasi, latihan pernapasan, atau menjalani hobi yang Anda sukai. Istirahat cukup dan pola hidup teratur juga mendukung proses penurunan obesitas sentral.
Obesitas sebaiknya segera periksa dokter karena dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius jika tidak tertangani dengan tepat. Anda bisa kunjungi rumah sakit Ciputra Hospital terdekat untuk konsultasi kesehatan.
Yuk, jaga kesehatan tubuh dengan rutin melakukan medical check up di Ciputra Hospital. Anda juga bisa konsultasi dan buat janji dengan dokter di Ciputra Hospital terdekat.
Cek layanan rumah sakit Ciputra Hospital mulai dari rawat jalan hingga Medical Check Up (MCU) selengkapnya sekarang juga.
Telah direview oleh dr. Sony Prabowo
Source:
- Cleveland Clinic. Visceral Fat. Desember 2025.
- WebMD. Visceral Fat: What Is It?. Desember 2025.
- Healthline. Visceral Fat. Desember 2025.







