Ditulis oleh Tim Konten Medis
Alergi parah di sekolah bisa karena berbagai hal, seperti makanan, debu, bulu hewan, dan serbuk sari. Untuk mengatasinya, sekolah dan orang tua perlu bekerja sama dengan mengenali pemicu alergi, menyediakan lingkungan yang aman, serta menyiapkan penanganan darurat jika alergi terjadi.

Bersin bisa menjadi tanda alergi.
Alergi adalah reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh terhadap zat tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya. Jenis-jenis alergi pada anak beragam, mulai dari alergi makanan seperti susu, kacang, dan telur, hingga alergi lingkungan seperti debu, serbuk sari, atau bulu hewan.
Salah satu alergi pada anak yang paling sering terjadi di sekolah adalah alergi makanan yang dapat menyebabkan gejala seperti gatal-gatal, ruam kulit, bengkak, mual, hingga sesak napas. Apakah alergi pada anak berbahaya? Jawabannya tergantung pada tingkat keparahannya.
Beberapa anak hanya mengalami reaksi ringan seperti gatal-gatal atau bersin, tetapi ada juga yang bisa mengalami reaksi parah seperti anafilaksis yang bisa mengancam nyawa. Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan pihak sekolah untuk memahami jenis alergi anak dan mengetahui langkah-langkah pencegahannya.
Dengan kesadaran dan kesiapan yang baik, risiko akibat alergi bisa teratasi sejak dini sehingga anak tetap bisa beraktivitas dengan aman dan nyaman di sekolah.
Penyebab Alergi di Sekolah
Anak-anak menghabiskan banyak waktu di sekolah sehingga mereka berisiko terpapar berbagai pemicu alergi. Oleh karena itu, penting bagi sekolah dan orang tua untuk memahami apa saja yang dapat menyebabkan alergi agar dapat mencegah reaksi yang berbahaya.
Berikut adalah beberapa penyebab alergi yang umum terjadi di sekolah:
1. Alergi dari Lingkungan Sekolah
Beberapa anak memiliki alergi karena faktor lingkungan di sekitar mereka, terutama di luar ruangan. Beberapa contohnya meliputi:
- Alergi musiman, yang terjadi akibat perubahan musim dan dapat menyebabkan bersin, hidung tersumbat, atau mata berair.
- Serbuk sari pohon dan rumput, yang terbawa angin dan dapat memicu reaksi alergi pada anak yang sensitif.
- Serbuk sari ragweed, yang juga menjadi penyebab utama alergi musiman.
- Gigitan serangga, seperti lebah atau semut yang dapat menyebabkan reaksi alergi ringan hingga parah.
Baca Juga: Penyebab Alergi dan Cara Mengobatinya
2. Alergi dari Dalam Ruangan
Selain di luar ruangan, alergi juga karena kondisi di dalam kelas atau lingkungan sekolah, seperti:
- Hewan peliharaan di kelas, misalnya kucing, anjing, atau burung, yang bulu atau kotorannya dapat memicu alergi.
- Jamur, yang tumbuh di tempat lembap seperti kamar mandi atau sudut kelas yang jarang dibersihkan.
- Debu dan tungau debu, yang sering terdapat di karpet, buku lama, atau tirai di ruang kelas.
- Bahan kimia dan logam tertentu, seperti nikel dalam perhiasan atau bahan pembersih yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit.
3. Alergi dari Benda-Benda di Sekolah
Beberapa anak juga dapat mengalami alergi terhadap bahan tertentu yang sering terjadi di sekolah, seperti lateks. Lateks sering digunakan dalam pembuatan sarung tangan, balon, karet gelang, dan peralatan olahraga.
Anak yang memiliki alergi terhadap lateks dapat mengalami gatal-gatal, ruam, atau bahkan kesulitan bernapas. Selain itu, beberapa anak dengan alergi lateks juga dapat mengalami reaksi terhadap makanan tertentu seperti pisang, kiwi, dan alpukat karena adanya kesamaan protein dalam bahan-bahan tersebut.
4. Alergi Makanan
Alergi makanan merupakan salah satu alergi yang paling sering terjadi di sekolah. Jika anak yang memiliki alergi makanan tidak sengaja mengonsumsi makanan yang mengandung alergen, reaksi yang muncul dapat berbahaya.
Oleh karena itu, pihak sekolah perlu mengetahui makanan apa saja yang dapat memicu alergi agar dapat mencegah paparan. Beberapa makanan yang paling sering menyebabkan alergi, antara lain:
- Susu sapi
- Kedelai
- Telur
- Kacang
- Ikan
- Kerang
- Gandum
- Wijen
Cara Mengatasi Alergi di Sekolah
Jika anak memiliki alergi, penting bagi orang tua dan pihak sekolah untuk bekerja sama agar anak tetap aman dan nyaman selama belajar. Beberapa langkah bisa Anda lakukan untuk mencegah anak terpapar alergen dan menangani reaksi alergi dengan cepat jika terjadi.
Berikut beberapa cara yang bisa Anda terapkan:
1. Berkomunikasi dengan Pihak Sekolah
Pastikan pihak sekolah mengetahui kondisi anak yang memiliki alergi. Bicarakan dengan kepala sekolah, guru, dan staf medis sekolah untuk menjelaskan jenis alergi anak, pemicunya, serta langkah pencegahan.
Jangan lupa untuk memastikan bahwa lingkungan sekolah, termasuk kantin sudah memahami risiko alergi yang terjadi pada anak.
2. Siapkan Rencana Darurat untuk Alergi Parah
Jika anak memiliki risiko alergi berat (anafilaksis), penting untuk memiliki rencana darurat yang jelas. Konsultasikan dengan dokter anak dan informasikan kepada pihak sekolah mengenai tanda-tanda alergi yang perlu diwaspadai serta langkah yang harus diambil jika terjadi reaksi alergi.
Simpan salinan rencana ini di ruang kelas, kantor sekolah, dan kantin agar mudah diakses oleh guru dan staf sekolah.
3. Menyediakan Obat Alergi di Sekolah
Bila anak membutuhkan epinefrin atau obat alergi lainnya, pastikan obat tersebut selalu tersedia di sekolah dan bisa diakses dengan cepat. Anak yang sudah cukup besar bisa membawa sendiri obatnya, tetapi jika masih kecil, pastikan staf sekolah memahami cara menggunakannya.
Periksa tanggal kedaluwarsa obat secara berkala agar selalu siap digunakan dalam keadaan darurat. Dengan langkah-langkah ini, anak tetap bisa belajar dan beraktivitas di sekolah dengan aman tanpa khawatir terkena reaksi alergi yang berbahaya.
Baca Juga: Penanganan Alergi Telur pada Anak dan Dewasa
4. Beri Pemahaman kepada Anak tentang Alerginya
Pastikan anak memahami pemicu alerginya dan tahu cara menghindarinya. Jika anak memiliki alergi makanan, ajarkan untuk tidak berbagi makanan, alat makan, atau wadah dengan teman.
Ia juga perlu dibiasakan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan agar tidak terpapar alergen secara tidak sengaja. Jika anak alergi terhadap sengatan serangga, ajarkan untuk memakai pakaian lengan panjang, celana panjang, dan sepatu saat berada di luar ruangan.
5. Kenali Gejala Alergi
Penting bagi anak, guru, dan staf sekolah untuk mengetahui tanda-tanda reaksi alergi agar bisa segera bertindak jika terjadi sesuatu. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai meliputi:
- Munculnya ruam atau gatal-gatal pada kulit
- Kulit menjadi pucat atau kemerahan
- Pembengkakan pada lidah atau tenggorokan
- Kesulitan bernapas, mengi, atau sulit menelan
- Pusing, pingsan, atau detak jantung yang terlalu cepat atau lemah
- Mual, muntah, diare, atau sakit perut
Jika tanda-tanda ini muncul, segera cari bantuan dan lakukan langkah penanganan yang tepat.
6. Siapkan Rencana Darurat
Sekolah harus memiliki rencana tanggap darurat jika anak mengalami reaksi alergi. Pastikan guru dan staf tahu bagaimana menangani kondisi ini, terutama dalam penggunaan epinefrin jika diperlukan.
Dokter dapat membantu menyusun rencana darurat yang mencakup langkah-langkah seperti kapan harus memberikan obat, menghubungi layanan medis darurat, dan memberikan pertolongan pertama hingga bantuan tiba. Dengan pemahaman yang baik, risiko reaksi alergi dapat diminimalkan dan anak dapat belajar dengan lebih aman dan nyaman di lingkungan sekolah.
7. Hindari Penggunaan Bahan Pemicu Alergi dalam Kegiatan Sekolah
Beberapa kegiatan di sekolah, seperti proyek seni dan kelas memasak, sering kali menggunakan bahan yang bisa memicu alergi. Oleh karena itu, penting untuk mengomunikasikan kondisi anak kepada guru dan meminta mereka menghindari penggunaan bahan-bahan berikut dalam kegiatan sekolah:
- Cat tempera berbahan dasar telur, yang bisa memicu alergi bagi anak dengan alergi telur.
- Clay atau adonan yang mengandung selai kacang, yang berbahaya bagi anak dengan alergi kacang.
- Icing atau hiasan kue yang dibuat dari putih telur, yang bisa memicu reaksi alergi pada anak yang sensitif.
Selain itu, penting juga untuk berkomunikasi dengan pihak sekolah mengenai acara sekolah, seperti makan-makan. Orang tua bisa meminta daftar bahan makanan yang akan disajikan agar dapat menentukan apakah anak aman untuk mengonsumsinya atau lebih baik membawa makanan sendiri dari rumah.
8. Mencegah Sengatan Serangga di Sekolah
Bagi anak yang memiliki alergi terhadap sengatan serangga, pencegahan sangat penting. Sekolah dapat mengambil langkah-langkah berikut untuk mengurangi risiko sengatan:
- Menjaga lingkungan sekolah tetap bersih dengan memastikan tidak ada sarang lebah atau serangga di sekitar halaman sekolah.
- Menyimpan tempat sampah dalam kondisi tertutup dan meletakkannya jauh dari area bermain siswa.
- Menyediakan area makan dalam ruangan bagi anak-anak yang berisiko tinggi terkena sengatan, terutama saat musim serangga sedang tinggi.
9. Memberikan Gelang Identitas Medis untuk Anak
Gelang medis dapat menjadi penyelamat jika terjadi reaksi alergi parah di sekolah. Gelang ini berfungsi sebagai pengingat bagi guru, staf sekolah, dan tenaga medis bahwa anak membutuhkan perawatan darurat, seperti epinefrin.
Beberapa gelang medis juga memiliki nomor darurat yang bisa dihubungi untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang kondisi anak.
10. Membawakan Bekal dari Rumah
Jika anak sudah paham untuk tidak menukar makanan dengan teman, membawakan bekal dari rumah bisa menjadi pilihan yang aman. Namun, sekolah juga seharusnya menyediakan makanan bagi anak dengan kebutuhan diet khusus tanpa biaya tambahan.
Staf yang bertanggung jawab terhadap makanan di sekolah perlu memahami makanan apa saja yang bisa memicu alergi dan mengenali bahan-bahan tersebut dalam berbagai bentuknya. Selain itu, peralatan dan meja makan harus selalu dibersihkan untuk mencegah kontak silang dengan alergen.
11. Menciptakan Area Bebas Alergen
Untuk meminimalkan risiko terpapar alergen, sekolah bisa menerapkan kebijakan yang tetap membuat anak dengan alergi merasa nyaman dan tidak merasa dikucilkan. Misalnya:
- Menyediakan meja makan siang khusus yang bebas dari makanan pemicu alergi, namun tetap terbuka bagi teman-teman yang membawa bekal aman untuk dikonsumsi bersama.
- Membuat aturan sekolah agar siswa tidak boleh menukar makanan atau berbagi peralatan makan dan sedotan.
- Menerapkan kebijakan kelas bebas alergen tertentu, seperti larangan membawa camilan yang mengandung kacang jika ada siswa yang alergi kacang.
12. Berkolaborasi dengan Sekolah
Orang tua bisa berperan aktif dalam membantu sekolah menjaga keamanan anak dengan alergi. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:
- Menjadi sukarelawan dalam kegiatan sekolah untuk membantu guru mengawasi makanan dan lingkungan sekitar.
- Terlibat dalam perencanaan acara sekolah, seperti kunjungan lapangan atau pesta kelas, untuk memastikan makanan dan aktivitas yang dipilih aman bagi anak.
- Menulis surat yang dapat dibagikan guru kepada orang tua siswa lain, agar mereka memahami kondisi alergi anak dan dapat mendukung kebijakan sekolah.
- Membantu memberikan edukasi kepada teman-teman sekelas anak tentang alergi dengan cara yang mudah dipahami.
Baca Juga: Cara Mengatasi Alergi Obat dengan Cepat dan Tepat
Dengan langkah-langkah ini, anak yang memiliki alergi bisa tetap menikmati aktivitas sekolah dengan aman tanpa khawatir terkena reaksi alergi yang berbahaya.
Telah direview oleh: dr. Sylvani Gani
Source:
- WebMD. Severe Allergies at School — How to Be Prepared. Maret 2025.
- Allergy & Asthma Network. Managing Allergies in Schools: A Guide for Parents. Maret 2025.