Kekurangan protein bisa mengakibatkan gejala seperti tubuh bengkak (edema), rambut rontok, kuku rapuh, kulit kering, massa otot menyusut, lemas, hingga pada anak bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan atau stunting. Ini karena fungsi protein sangat penting, yaitu sebagai nutrisi yang membangun sel, jaringan, hingga hormon. Cara mengatasi kekurangan protein bisa dengan makan kacang-kacangan, daging, hingga ikan.

Kebutuhan protein per hari dapat berbeda pada setiap orang karena dipengaruhi oleh usia, berat badan, tingkat aktivitas fisik, serta tujuan kebugaran. Secara umum, orang dewasa membutuhkan protein dalam jumlah tertentu setiap hari untuk menjaga massa otot, mendukung fungsi organ, dan mempertahankan daya tahan tubuh.
Pada orang dewasa, kebutuhan protein harian umumnya berkisar sekitar 0,8 gram per kilogram berat badan sebagai batas minimum untuk mencegah kehilangan otot. Namun, kebutuhan ini dapat meningkat pada individu yang aktif berolahraga atau ingin membangun massa otot, sehingga asupan protein perlu disesuaikan dengan aktivitas dan kondisi tubuh masing-masing.
Gejala Akibat Kekurangan Protein
Kekurangan protein secara terus menerus dapat mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan karena protein berperan penting dalam pembentukan jaringan, hormon, enzim, dan sistem imun. Kondisi ini bisa terjadi akibat pola makan tidak seimbang, asupan kalori yang rendah, atau penyakit tertentu yang mengganggu penyerapan nutrisi.
Dalam kondisi berat, kekurangan protein akan menyebabkan penyakit yang cukup serius. Berikut ini adalah akibat kekurangan protein yang perlu dikenali sebagai ciri-ciri kekurangan protein dan dampak kekurangan protein pada tubuh. Berikut gejala akibat kekurangan protein yang perlu Anda waspadai:
1. Pembengkakan Tubuh (Edema)
Akibat kekurangan protein, terutama albumin, keseimbangan cairan dalam tubuh terganggu sehingga cairan lebih mudah keluar dari pembuluh darah dan menumpuk di jaringan tubuh. Kondisi ini menyebabkan pembengkakan yang tampak pada kaki, tangan, wajah, atau perut dan sering disertai rasa berat serta tidak nyaman.
Edema merupakan tanda kekurangan protein yang cukup serius karena menunjukkan bahwa tubuh sudah tidak mampu mempertahankan distribusi cairan secara normal. Jika tidak Anda tangani, pembengkakan dapat semakin meluas dan mengganggu aktivitas serta fungsi organ lainnya.
Baca Juga: Catat, 11 Fungsi Protein yang Penting bagi Tubuh dan Otot
2. Perlemakan Hati
Kekurangan protein akan menyebabkan gangguan pada proses pengangkutan dan pemecahan lemak, sehingga lemak menumpuk di dalam sel hati. Penumpukan ini membuat fungsi hati bekerja lebih berat dan menurunkan kemampuannya dalam mengatur metabolisme tubuh.
Dalam jangka panjang, perlemakan hati yang dapat terjadi pada penyakit akibat kekurangan kalori dan protein disebut kwashiorkor. Dampak kekurangan protein ini berisiko mengganggu fungsi detoksifikasi dan keseimbangan zat penting dalam tubuh.
3. Masalah pada Kulit, Rambut, dan Kuku
Protein merupakan komponen utama dalam pembentukan kulit, rambut, dan kuku, sehingga kekurangannya akan langsung terlihat dari perubahan fisik di bagian tubuh tersebut. Kulit dapat menjadi kering, bersisik, mudah iritasi, dan berubah warna karena regenerasi sel tidak berjalan optimal.
Rambut rontoh, rapuh, dan mudah patah, sementara kuku tampak tipis dan mudah pecah karena struktur keratinnya melemah. Ciri-ciri kekurangan protein ini sering menjadi tanda awal yang dapat dikenali secara kasat mata.
4. Kehilangan Massa Otot
Saat asupan protein tidak mencukupi, tubuh akan mengambil protein dari otot untuk mempertahankan fungsi organ vital seperti jantung dan otak. Proses ini menyebabkan massa otot berkurang secara bertahap sehingga tubuh terasa lebih lemah dan cepat lelah.
Kehilangan massa otot akibat kekurangan protein dapat menurunkan kekuatan fisik dan kemampuan bergerak. Jika berlangsung lama, kondisi ini meningkatkan risiko cedera dan gangguan mobilitas, terutama pada usia lanjut.
5. Tulang Menjadi Rapuh
Kesehatan tulang tidak hanya dipengaruhi oleh asupan protein, tetapi juga oleh faktor lain seperti kalsium, vitamin D, aktivitas fisik, serta keseimbangan hormon. Tanpa asupan protein yang cukup, tulang menjadi lebih mudah retak dan tidak mampu menopang beban tubuh dengan baik.
Akibatnya ini meningkatkan risiko patah tulang, bahkan saat terjadi benturan ringan. Kondisi tersebut dapat memperburuk kesehatan tulang dan mempercepat penurunan kepadatan tulang.
6. Pertumbuhan Terhambat pada Anak
Protein sangat penting untuk pertumbuhan jaringan, otot, dan tulang pada anak yang sedang berada dalam masa perkembangan. Kekurangan protein akan menyebabkan tinggi badan dan berat badan anak tidak bertambah sesuai usianya.
Anak dengan asupan protein yang rendah dapat terlihat lebih pendek, lemah, dan perkembangan fisiknya melambat. Dampak kekurangan protein ini berisiko memengaruhi kesehatan dan kualitas hidup anak di masa depan.
7. Sistem Imun Melemah
Protein dibutuhkan untuk membentuk antibodi dan sel imun yang berfungsi melawan infeksi. Kekurangan protein akan menyebabkan daya tahan tubuh menurun sehingga tubuh lebih mudah terserang penyakit.
Infeksi dapat terjadi lebih sering dan proses penyembuhan menjadi lebih lama. Kondisi ini menunjukkan bahwa kekurangan protein dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam mempertahankan kesehatan secara optimal.
8. Nafsu Makan Meningkat Berlebihan
Kekurangan protein dapat memengaruhi regulasi rasa lapar pada beberapa individu. Akibatnya, seseorang cenderung mengonsumsi lebih banyak makanan tinggi karbohidrat dan lemak.
Pola makan ini dapat menyebabkan kelebihan kalori tanpa memenuhi kebutuhan protein yang sebenarnya. Dampak kekurangan protein ini berisiko memicu kenaikan berat badan yang tidak sehat.
9. Penurunan Berat Badan Tidak Sehat
Meskipun nafsu makan dapat meningkat, kekurangan protein sering menyebabkan penurunan berat badan akibat hilangnya massa otot. Berat badan yang turun ini bukan disebabkan oleh berkurangnya lemak, melainkan jaringan otot yang menyusut.
Kondisi ini membuat tubuh terlihat lebih kurus namun terasa lemah dan tidak bertenaga. Dampaknya sering disalahartikan sebagai penurunan berat badan yang normal.
10. Gangguan Fungsi Jantung
Dalam kondisi kekurangan protein yang berat, tubuh dapat menggunakan protein dari otot jantung untuk mempertahankan fungsi dasar tubuh. Akibatnya, kekuatan otot jantung menurun dan kemampuan memompa darah menjadi tidak optimal.
Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat mengganggu kesehatan jantung dan meningkatkan risiko komplikasi serius. Hal ini juga akan menyebabkan penyakit yang berdampak pada fungsi organ vital tubuh.
Baca Juga: 16 Sumber Makanan Tinggi Protein dari Buah hingga Sayur
Cara Mengatasi Kekurangan Protein
Kekurangan protein dapat memengaruhi kekuatan otot, daya tahan tubuh, serta proses pemulihan jaringan sehingga penting untuk segera memperbaiki asupan hariannya. Salah satu langkah utama yang dapat dilakukan adalah memastikan tubuh mendapatkan protein yang cukup dan tersebar merata sepanjang hari.
Cara mengatasi kekurangan protein tidak harus selalu rumit atau mahal karena dapat dimulai dari kebiasaan makan yang lebih terencana. Dengan memilih sumber protein yang tepat dan pola konsumsi yang seimbang, kebutuhan protein harian dapat terpenuhi secara lebih optimal.
1. Sertakan Protein di Setiap Waktu Makan
Memasukkan sumber protein di setiap waktu makan membantu tubuh mendapatkan asupan protein secara konsisten sepanjang hari. Cara ini membuat kebutuhan protein lebih mudah tercapai tanpa harus mengonsumsi dalam jumlah besar sekaligus.
Pembagian protein di pagi, siang, dan malam juga membantu menjaga energi dan rasa kenyang lebih lama. Pola ini mendukung fungsi otot dan metabolisme tubuh agar tetap bekerja secara stabil.
2. Variasikan Sumber Protein Nabati
Sumber protein tidak hanya berasal dari daging atau produk hewani, tetapi juga bisa diperoleh dari bahan nabati. Makanan seperti tahu, tempe, edamame, kacang-kacangan, dan lentil mengandung protein yang cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
Mengombinasikan protein nabati dalam menu harian membantu memperkaya asupan nutrisi. Cara ini juga cocok bagi yang ingin mengurangi konsumsi protein hewani tanpa mengorbankan kebutuhan protein.
3. Gunakan Protein Shake sebagai Pelengkap
Protein shake atau protein bar dapat digunakan sebagai pelengkap jika kebutuhan protein belum terpenuhi dari makanan. Konsumsi ini sebaiknya tidak menjadi satu-satunya sumber protein utama dalam sehari.
Penggunaan protein shake dapat membantu mengisi kekurangan asupan pada kondisi tertentu, seperti jadwal makan yang padat. Dengan tetap mengutamakan makanan utuh, protein tambahan dapat berfungsi sebagai penunjang kebutuhan nutrisi harian.
Baca Juga: Jenis Makanan Sehat dan Bergizi Serta Contoh Menunya
Jika Anda atau keluarga Anda mengalami dampaknya, segera kunjungi Ciputra Hospital. Dapatkan kemudahan untuk konsultasi dan membuat janji dengan dokter pilihan Anda.
Cek informasi lengkap mengenai layanan Ciputra Hospital, mulai dari rawat jalan hingga Medical Check Up (MCU), hanya di situs resmi atau kunjungi langsung fasilitas terdekat sekarang juga.



