Kanker usus tidak menular. Anda tidak bisa tertular kanker usus dari kontak sehari-hari seperti berjabat tangan, berbagi makanan, atau tinggal serumah dengan penderita. Namun, ada beberapa kondisi yang sering disalahpahami sebagai penularan kanker usus, seperti dari infeksi tertentu, riwayat keluarga, hingga yang jarang terkait seperti transplantasi organ dan ibu hamil kepada bayinya.

Penyebab dan Gejala Kanker Usus
Hingga saat ini, penyebab pasti dari sebagian besar kasus kanker usus besar memang belum sepenuhnya Anda ketahui secara jelas. Namun, secara umum kanker usus besar muncul akibat adanya perubahan pada DNA sel-sel di usus besar, yang seharusnya berfungsi mengatur cara kerja sel tersebut.
Perubahan DNA ini membuat sel tumbuh dan membelah diri secara tidak terkendali, bahkan tetap hidup meski seharusnya mati sesuai siklus alaminya. Akibatnya, sel-sel yang menumpuk ini dapat membentuk tumor, merusak jaringan sehat di sekitarnya, dan pada tahap lanjut bisa menyebar ke bagian tubuh lain hingga menjadi kanker metastatik.
Sayangnya, banyak penderita kanker usus besar tidak merasakan gejala apa pun pada tahap awal. Ketika gejala mulai muncul, jenis dan tingkat keparahannya biasanya bergantung pada ukuran serta lokasi kanker di dalam usus besar. Beberapa gejala yang perlu Anda waspadai antara lain:
- Perubahan pola buang air besar, seperti diare atau sembelit yang lebih sering terjadi
- Pendarahan pada rektum atau adanya darah dalam tinja
- Rasa tidak nyaman yang terus-menerus di area perut, seperti kram, kembung, atau nyeri
- Sensasi usus yang tidak sepenuhnya kosong setelah buang air besar
- Tubuh terasa lemas atau mudah lelah
- Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
Baca Juga: Gejala Kanker Usus Besar
Faktor yang Dianggap Bisa Menularkan Kanker Usus
Perlu Anda ketahui bahwa kanker usus bukanlah penyakit menular. Kontak fisik seperti berhubungan seks, bersentuhan, atau sekadar berada di ruangan yang sama tidak akan membuat kanker berpindah dari satu orang ke orang lain, karena sel kanker dari penderita tidak dapat bertahan hidup di tubuh orang lain yang sehat.
Meski secara medis kanker usus tidak menular, beberapa kondisi berikut ini sering orang salahpahami sebagai bentuk penularan kanker usus dari satu orang ke orang lain. Padahal, kondisi-kondisi ini sebenarnya hanya berkaitan dengan peningkatan risiko atau kemiripan mekanisme, Berikut penjelasan lengkapnya:
1. Infeksi yang Meningkatkan Risiko Kanker Usus
Salah satu infeksi yang dapat meningkatkan risiko kanker usus adalah infeksi bakteri Helicobacter pylori. Bakteri Helicobacter pylori dapat menular dari orang ke orang melalui air liur, kontaminasi feses pada makanan atau air, muntahan, dan kebersihan lingkungan yang buruk.
Bakteri Helicobacter pylori yang tertular, awalnya akan menginfeksi perut Anda. Jika sudah demikian, lama kelamaan bakteri bisa merusak jaringan pada perut Anda yang mulainya dari usus. Akibatnya, peradangan akan terjadi pada perut Anda.
Bila infeksi bakteri Helicobacter pylori tidak Anda tangani dengan baik. Kondisi tersebut dapat memungkinkan Anda mengalami kanker usus. Jika Anda merasa terinfeksi bakteri Helicobacter pylori. Segera pergi ke dokter untuk mendapatkan perawatan agar kondisinya tidak semakin parah hingga menyebabkan kanker usus.
2. Transplantasi Organ
Faktor berikutnya yang menyebabkan kanker usus dapat menular dari satu orang ke orang yang lain adalah transplantasi organ. Dilansir dalam sebuah jurnal National Institutes of Health, penerima transplantasi organ memiliki risiko tinggi terkena 32 jenis kanker, termasuk kanker usus.
Para peneliti menemukan bahwa terdapat peningkatan risiko sebesar dua kali lipat bagi mereka yang menerima transplantasi organ. Mereka mencatat, peningkatan risiko untuk 32 jenis kanker yang berbeda terjadi karena adanya infeksi, seperti kanker dubur dan sarkoma kaposi.
Lebih lanjut, sebuah jurnal yang meneliti risiko kanker usus setelah melakukan transplantasi organ. Mengungkapkan bahwa penerima transplantasi organ paru-paru dengan kondisi cystic fibrosis mengalami peningkatan risiko terkena kanker usus. Selain itu, penerima transplantasi organ hati dengan kelainan primary sclerosing cholangitis dan penyakit radang usus juga memiliki peningkatan risiko mengembangkan penyakit kanker usus.
3. Persalinan
Ibu hamil yang mengalami kanker selama kehamilan juga berisiko menularkan sel kanker ke bayinya. Para ahli tidak mengetahui secara pasti bagaimana kanker dapat menular dari ibu ke bayi. Namun, beberapa ahli berpendapat bahwa sel kanker dapat menyebar dari ibu ke bayi melalui plasenta.
Plasenta yang menjadi tempat penyaluran nutrisi dari ibu ke bayi dianggap menjadi jalan masuk bagi sel kanker. Melakukan pengobatan kanker selama kehamilan dapat membahayakan bayi yang belum lahir, terutama pada usia 3 bulan pertama kehamilan.
Meski demikian, penelitian tentang penularan kanker dari ibu ke bayi masih terus Anda lakukan hingga saat ini. Beberapa kanker seperti melanoma atau leukimia dipastikan menyebar dari plasenta ke janin.
Selain itu, risiko kanker lainnya yang dapat menyebar dari ibu ke bayi antara lain kanker payudara, kanker serviks, kanker ovarium, kanker tiroid, dan kanker usus. Kanker lain seperti kanker paru-paru, otak, dan tulang juga bisa terjadi selama kehamilan meskipun jarang terjadi.
Baca Juga: Cara Mengobati Kanker Usus
4. Genetik
Beberapa kanker dapat turun secara genetik. Termasuk kanker usus juga dapat disebabkan oleh mutasi gen yang diturunkan secara genetik. Banyak gen-gen yang diturunkan dapat memicu pertumbuhan kanker, antara lain:
Poliposis adenomatosa familial (FAP)
FAP yang dilemahkan (AFAP), dan sindrom Gardner disebabkan oleh perubahan bawaan pada gen APC. Gen APC adalah gen supresor tumor yang biasanya membantu menjaga pertumbuhan sel agar tetap terkendali.
Orang dengan perubahan bawaan pada gen APC, fungsi gen tersebut akan dilumpuhkan. Akibatnya, polip menjadi mudah tumbuh pada usus besar. Seiring waktu, polip yang muncul dapat berkembang menjadi kanker usus. Selain itu, FAP juga dapat memicu kanker lainnya berkembang.
Sindrom Lynch
Syndrom Lynch disebabkan oleh perubahan gen yang berfungsi membantu sel memperbaiki DNA yang rusak. Adanya mutasi pada salah satu gen perbaikan DNA seperti MLH1, MSH2. MSH6, PMS2, dan E Pcam dapat membuat kesalahan DNA tidak diperbaiki. Akibatnya, akan memicu berkembangnya sel kanker usus. Kelainan gen ini juga dapat menyebabkan kanker lainnya seperti kanker ovarium, kanker ginjal, dan kanker payudara.
Sindrom Peutz-Jeghers
Sindrom Peutz-Jeghers disebabkan oleh perubahan bawaan pada gen STK11 atau LKB1. Perubahan tersebut dapat menyebabkan sel kanker tumbuh dan berkembang, termasuk kanker usus.
Sindrom MYH-associated polyposis
Sindrom MYH-associated polyposis disebabkan oleh mutasi gen MUTYH, yang merupakan gen untuk mengoreksi atau memeriksa DNA dan memperbaiki kesalahan selama proses pembelahan sel. Untuk menemukan dan mengetahui mutasi genetik bawaan yang menyebabkan penyakit kanker usus. Anda harus melakukan tes genetik khusus terlebih dahulu di rumah sakit.
Terutama bagi Anda yang memiliki riwayat keluarga dengan polip atau kanker usus atau gejala lainnya. Melakukan konseling dan pengujian genetik sangat Anda perlukan. Penularan kanker usus sebagian besar dapat Anda cegah. Langkah terpenting dalam mencegah penularan adalah dengan melakukan tes skrining. Terutama jika Anda memiliki faktor-faktor yang dapat memicu pertumbuhan sel kanker.
Kapan Harus ke Dokter
Anda harus menemui dokter ketika memiliki gejala yang berkepanjangan dan tidak kunjung sembuh. Jika Anda atau keluarga Anda mengalami gejala kanker usus, segera kunjungi Ciputra Hospital. Dapatkan kemudahan untuk konsultasi dan membuat janji dengan dokter pilihan Anda.
Cek informasi lengkap mengenai layanan Ciputra Hospital, mulai dari rawat jalan hingga Medical Check Up (MCU), hanya di situs resmi atau kunjungi langsung fasilitas terdekat sekarang juga.


