Buat janji Ciputra HospitalWhatsapp Ciputra Hospital

Rumah Sakit Terbaik Berstandarisasi Internasional | Ciputra Hospital

  • Home
  • Rumah Sakit
    • CitraRaya Tangerang
    • CitraGarden City Jakarta
    • Ciputra Mitra Hospital Banjarmasin
    • Ciputra Hospital Surabaya
  • Fasilitas & Layanan
  • Center of Excellence
  • Cari Dokter
  • Artikel
  • Home
  • Artikel Kesehatan
  • Perimenopause: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi
Asifah
Sabtu, 29 November 2025 / Published in Artikel Kesehatan

Perimenopause: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi

Ditulis oleh Tim Konten Medis

Perimenopause adalah masa transisi menuju menopause yang ditandai dengan perubahan hormon dan berbagai gejala fisik maupun emosional. Umumnya, perimenopause terjadi pada usia 40-an atau pertengahan 30.

Perimenopause adalah
Gejala awal perimenopause salah satunya haid yang tidak teratur.

Perimenopause adalah fase transisi menuju menopause di mana tubuh mulai mengalami perubahan hormon dan siklus menstruasi tidak lagi teratur. Sebaliknya, premenopause adalah rentang waktu lebih awal yang dimulai sejak seorang wanita mengalami menstruasi pertama hingga sebelum memasuki perimenopause.

Premenopause ditandai dengan fungsi reproduksi yang masih stabil dan menstruasi yang relatif teratur, sedangkan pada perimenopause terjadi fluktuasi hormon seperti estrogen yang menyebabkan siklus menstruasi bisa memanjang, memendek, atau bahkan beberapa periode tidak terjadi sama sekali. Perimenopause biasa muncul di usia sekitar 40-an hingga awal 50-an, sedangkan premenopause mencakup periode sejak remaja hingga masa matang reproduksi.

Daftar Isi

Toggle
  • Apa Itu Perimenopause?
  • Gejala Perimenopause
    • 1. Menstruasi Tidak Teratur
    • 2. Hot Flashes
    • 3. Gangguan Tidur
    • 4. Perubahan Mood
    • 5. Masalah pada Vagina dan Kandung Kemih
    • 6. Menurunnya Kesuburan
    • 7. Perubahan Fungsi Seksual
    • 8. Kehilangan Massa Tulang
    • 9. Perubahan Kadar Kolesterol
  • Penyebab Perimenopause
  • Cara Mengatasi Perimenopause
  • Perawatan Rumahan untuk Mengatasi Perimenopause
    • 1. Mengurangi Ketidaknyamanan Vagina
    • 2. Menjaga Pola Makan Sehat
    • 3. Tetap Aktif Bergerak
    • 4. Mencukupi Kebutuhan Tidur
    • 5. Melakukan Aktivitas Pengurang Stres
    • Artikel Terkait

Apa Itu Perimenopause?

Fase perimenopause adalah masa transisi alami menuju menopause, ketika produksi hormon mulai menurun dan siklus menstruasi menjadi tidak teratur. Kondisi ini menandakan tubuh bergerak menuju akhir masa reproduksi, biasanya terjadi pada usia pertengahan 30-an hingga pertengahan 50-an.

Meski masa ini bersifat normal, gejalanya bisa menimbulkan ketidaknyamanan baik secara fisik maupun emosional, bahkan pada sebagian orang berlangsung cukup lama. Perimenopause akan berakhir ketika seseorang sudah tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut, yang disebut menopause.

Selama fase ini, meski siklus menstruasi kacau, peluang untuk hamil masih ada. Perimenopause syndrome adalah kumpulan gejala yang muncul akibat perubahan hormon, seperti hot flashes, perubahan suasana hati, dan gangguan tidur, yang sering memengaruhi kualitas hidup sehari-hari.

Baca Juga: Ketahui 8 Gejala Menopause pada Wanita

Gejala Perimenopause

Gejala perimenopause adalah perubahan alami yang muncul seiring tubuh memasuki fase transisi menuju menopause. Setiap orang bisa mengalami tanda yang berbeda, mulai dari yang ringan hingga cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.

Ciri-ciri premenopause ini berkaitan erat dengan fluktuasi hormon, sehingga wajar jika muncul keluhan yang memengaruhi fisik, emosi, hingga kesehatan reproduksi.

1. Menstruasi Tidak Teratur

Salah satu ciri awal perimenopause adalah siklus haid yang mulai kacau. Periode bisa datang lebih cepat, lebih lama, lebih singkat, atau bahkan terlewat sama sekali.

Jika jarak antar menstruasi berbeda lebih dari tujuh hari secara konsisten, kemungkinan Anda sudah memasuki tahap awal perimenopause. Bila jarak antar menstruasi mencapai 60 hari atau lebih, hal itu menandakan fase perimenopause lanjut.

Perubahan ini membuat sebagian wanita kebingungan, terutama karena pola haid yang tidak menentu masih memungkinkan terjadinya kehamilan. Karena itu, penggunaan kontrasepsi tetap dianjurkan sampai benar-benar melewati 12 bulan tanpa menstruasi.

2. Hot Flashes

Hot flashes atau sensasi panas tiba-tiba di tubuh merupakan gejala yang sangat umum pada fase ini. Rasa panas ini biasanya muncul di bagian wajah, leher, hingga dada, yang kadang diikuti dengan keringat berlebih.

Intensitas dan durasinya bervariasi pada setiap orang, ada yang hanya beberapa detik, ada pula yang berlangsung lebih lama. Kondisi ini sering mengganggu kenyamanan, bahkan bisa memicu sulit tidur jika muncul pada malam hari.

Meskipun demikian, hot flashes adalah bagian alami dari ciri-ciri premenopause, yang menandakan tubuh sedang beradaptasi dengan perubahan hormon estrogen.

3. Gangguan Tidur

Perubahan pola tidur juga menjadi salah satu keluhan umum pada masa perimenopause. Banyak wanita sulit tidur nyenyak karena sering terbangun akibat hot flashes atau night sweats.

Namun, masalah tidur juga bisa muncul tanpa gejala penyerta tersebut. Gangguan tidur yang terus-menerus dapat memengaruhi energi dan suasana hati di siang hari.

Menjaga rutinitas tidur yang sehat, seperti tidur lebih awal dan menghindari kafein bisa membantu mengurangi keluhan ini.

4. Perubahan Mood

Mood swings atau perubahan suasana hati sering terjadi saat perimenopause. Anda mungkin merasa lebih mudah tersinggung, cemas, atau bahkan mengalami gejala depresi.

Kondisi ini kerap berkaitan dengan fluktuasi hormon yang memengaruhi keseimbangan emosi. Selain hormon, faktor lain seperti kelelahan akibat kurang tidur atau stres sehari-hari dapat memperburuk perubahan mood.

Dengan menjaga pola hidup sehat, olahraga, dan istirahat cukup, suasana hati biasanya lebih stabil.

5. Masalah pada Vagina dan Kandung Kemih

Penurunan kadar estrogen membuat jaringan vagina menjadi lebih tipis dan kering. Akibatnya, hubungan seksual bisa terasa nyeri, disertai sensasi terbakar saat buang air kecil.

Kekeringan ini juga membuat wanita lebih rentan terhadap infeksi saluran kemih maupun vagina. Selain itu, kontrol kandung kemih bisa berkurang sehingga menyebabkan lebih sering buang air kecil atau sulit menahan kencing.

Kondisi ini merupakan salah satu ciri-ciri premenopause yang cukup mengganggu, tetapi dapat diatasi dengan perawatan medis maupun perubahan gaya hidup.

6. Menurunnya Kesuburan

Ovulasi yang tidak teratur pada fase perimenopause menyebabkan peluang kehamilan menurun. Namun, selama masih ada menstruasi, kehamilan tetap mungkin terjadi.

Inilah sebabnya kontrasepsi tetap penting jika tidak merencanakan kehamilan. Bagi sebagian wanita, menurunnya kesuburan juga bisa memengaruhi kondisi emosional, terutama bagi yang masih memiliki rencana untuk hamil.

Konsultasi dengan tenaga medis dapat membantu menemukan pilihan terbaik.

7. Perubahan Fungsi Seksual

Selama perimenopause, gairah seksual dapat berubah. Ada yang mengalami penurunan minat, namun sebagian justru merasakan peningkatan kepuasan seksual karena tidak lagi khawatir soal kehamilan.

Namun, kekeringan pada vagina dapat membuat hubungan intim kurang nyaman. Dengan komunikasi terbuka bersama pasangan dan perawatan medis bila diperlukan, kualitas hubungan tetap bisa terjaga.

8. Kehilangan Massa Tulang

Turunnya kadar estrogen juga berdampak pada kepadatan tulang. Tulang menjadi lebih rapuh karena tubuh kehilangan massa tulang lebih cepat dibanding proses pembentukan tulang baru.

Hal ini meningkatkan risiko osteoporosis. Jika tidak dicegah, kondisi ini bisa memicu patah tulang bahkan pada cedera ringan.

Menjaga asupan kalsium, vitamin D, serta olahraga beban dapat membantu memperlambat proses kehilangan massa tulang.

9. Perubahan Kadar Kolesterol

Estrogen berperan penting dalam mengatur kadar kolesterol. Saat kadarnya menurun, kadar kolesterol LDL atau “kolesterol jahat” bisa meningkat, sementara kolesterol HDL atau “kolesterol baik” cenderung menurun.

Perubahan ini membuat risiko penyakit jantung meningkat seiring bertambahnya usia. Untuk mencegah komplikasi, penting menerapkan pola makan sehat, rutin berolahraga, dan memeriksa kadar kolesterol secara berkala.

Baca Juga: Kenali Penyebab Penebalan Dinding Rahim dan Gejalanya

Penyebab Perimenopause

Perubahan hormon, terutama estrogen, menjadi penyebab utama munculnya gejala seperti hot flashes, keringat malam, hingga perubahan suasana hati. Naik turunnya kadar hormon inilah yang membuat perimenopause membawa pengalaman berbeda pada setiap wanita.

Selain faktor usia, ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko perimenopause datang lebih cepat, antara lain:

  • Kebiasaan merokok. wanita perokok biasanya mengalami menopause 1 hingga 2 tahun lebih cepat dibanding yang tidak merokok.
  • Riwayat keluarga. jika ada anggota keluarga yang mengalami menopause dini, kemungkinan besar hal yang sama juga bisa terjadi.
  • Pengobatan kanker. terapi seperti kemoterapi atau radiasi di area panggul dapat mempercepat terjadinya menopause.
  • Operasi histerektomi. pengangkatan rahim meskipun tanpa ovarium sering memicu menopause datang lebih cepat, begitu pula jika salah satu ovarium diangkat.
  • Kondisi kesehatan tertentu. penyakit tiroid, artritis reumatoid, atau gangguan autoimun lain juga bisa menjadi pemicu menopause dini.

Cara Mengatasi Perimenopause

Perbedaan pra menopause dan perimenopause sering kali terlihat dari gejala yang penderita alami. Pada pra menopause, siklus haid masih teratur, sementara pada perimenopause, menstruasi menjelang menopause biasanya mulai berubah menjadi tidak teratur, muncul gejala fisik maupun emosional.

Meskipun perimenopause adalah proses alami yang tidak bisa Anda hentikan, ada beberapa cara yang dapat membantu meredakan ketidaknyamanan sehingga kualitas hidup tetap terjaga. Beberapa pilihan penanganan yang bisa Anda lakukan antara lain:

  • Perubahan gaya hidup. bagi sebagian orang, gejala cukup ringan sehingga cukup Anda atasi dengan pola hidup sehat, olahraga rutin, dan menjaga pola tidur.
  • Antidepresan. digunakan untuk membantu mengurangi hot flashes, kecemasan, perubahan suasana hati, atau depresi.
  • Pil KB. dapat menstabilkan kadar hormon dan membuat gejala lebih terkendali.
  • Terapi Hormon Pengganti (HRT). memberikan tambahan estrogen atau kombinasi estrogen dan progesteron, biasanya direkomendasikan jika menopause terjadi lebih cepat dari usia 40 tahun.
  • Terapi Hormon (HT). mirip dengan HRT, namun umumnya diberikan pada mereka yang mengalami menopause secara alami setelah usia 45 tahun.
  • Gabapentin. obat kejang yang juga efektif membantu meredakan hot flashes.
  • Oxybutynin. obat untuk mengatasi kandung kemih overaktif, namun juga dapat mengurangi hot flashes.
  • Fezolinetant. terapi terbaru untuk hot flashes yang lebih berat.
  • Krim atau pelumas vagina. membantu mengurangi kekeringan pada vagina serta rasa sakit saat berhubungan seksual.

Perawatan Rumahan untuk Mengatasi Perimenopause

Perimenopause sering membawa berbagai perubahan pada tubuh yang bisa memengaruhi kenyamanan sehari-hari. Meski begitu, ada beberapa langkah sederhana yang bisa Anda lakukan di rumah untuk membantu meredakan gejalanya sekaligus menjaga kesehatan secara keseluruhan.

Berikut perawatan rumahan untuk mengatasi perimenopause yang bisa Anda lakukan:

1. Mengurangi Ketidaknyamanan Vagina

Menggunakan pelumas berbahan dasar air atau pelembap khusus area kewanitaan dapat membantu mengatasi rasa kering dan tidak nyaman. Pilih produk yang aman tanpa kandungan gliserin maupun paraben agar terhindar dari iritasi.

Selain itu, menjaga aktivitas seksual secara rutin juga bisa meningkatkan aliran darah pada area kewanitaan. Hal ini mendukung kesehatan jaringan serta membantu menjaga elastisitas alami vagina.

2. Menjaga Pola Makan Sehat

Konsumsi makanan rendah lemak, tinggi serat, serta kaya buah, sayur, dan biji-bijian sangat dianjurkan. Tambahkan juga sumber kalsium untuk mendukung kekuatan tulang.

Batasi alkohol dan kafein jika memicu gejala seperti hot flashes. Jika perlu, suplemen kalsium atau vitamin D bisa Anda tambahkan sesuai kebutuhan.

3. Tetap Aktif Bergerak

Olahraga teratur membantu mengontrol berat badan, memperbaiki kualitas tidur, dan menjaga suasana hati tetap stabil. Pilih aktivitas yang menyenangkan seperti jalan kaki, bersepeda, atau berenang.

Latihan beban juga penting karena mampu menjaga kepadatan tulang. Dengan begitu, risiko patah tulang di usia lanjut bisa lebih rendah.

4. Mencukupi Kebutuhan Tidur

Tidur cukup dengan jadwal teratur dapat membuat tubuh lebih bugar dan emosi lebih seimbang. Usahakan tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari.

Hindari konsumsi kafein menjelang malam karena dapat mengganggu kualitas tidur. Alkohol juga sebaiknya dihindari karena bisa memicu tidur tidak nyenyak.

5. Melakukan Aktivitas Pengurang Stres

Meditasi, yoga, atau latihan pernapasan bisa menjadi cara efektif untuk menenangkan pikiran. Aktivitas ini juga membantu menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Selain itu, praktik olahraga ringan seperti tai chi dapat melatih keseimbangan tubuh. Dengan rutinitas yang konsisten, stres bisa lebih mudah Anda kendalikan.

Baca Juga: 10 Penyebab Menstruasi Tidak Teratur dan Cara Mengatasinya

Jika Anda atau keluarga Anda mengalami masa perimenopause, segera kunjungi Ciputra Hospital, dapatkan kemudahan untuk konsultasi dan membuat janji dengan dokter pilihan Anda.

Cek informasi lengkap mengenai layanan Ciputra Hospital, mulai dari rawat jalan hingga Medical Check Up (MCU), hanya di situs resmi atau kunjungi langsung fasilitas terdekat sekarang juga.

Telah Direview oleh Dr. Sony Prabowo, MARS

Source:

  • Cleveland Clinic. Perimenopause. November 2025
  • Mayo Clinic. Perimenopause. November 2025
  • Hopskin Medicine. Perimenopause. November 2025

Artikel Terkait

  • hipotermia adalah
    Penyebab Hipotermia, Gejala, dan Cara Mengatasi
  • Sinusitis
    Penyakit Sinusitis: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi
  • penyakit endometritis adalah
    Endometritis: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi
  • aphasia adalah
    Aphasia: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi
  • Pembengkakan jantung
    Penyebab Pembengkakan Jantung, Gejala, Cara Mengatasi
  • emfisema adalah
    Amfisema: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi, & Pencegahan
  • Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasi Selangkangan Lecet
    Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasi Selangkangan Lecet
Tagged under: Gangguan Penyakit

Artikel Terkait

  • hipotermia adalah
    Penyebab Hipotermia, Gejala, dan Cara Mengatasi
  • Sinusitis
    Penyakit Sinusitis: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi
  • penyakit endometritis adalah
    Endometritis: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi
  • aphasia adalah
    Aphasia: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi
  • Pembengkakan jantung
    Penyebab Pembengkakan Jantung, Gejala, Cara Mengatasi
  • emfisema adalah
    Amfisema: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi, & Pencegahan
  • Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasi Selangkangan Lecet
    Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasi Selangkangan Lecet

Ciputra Hospital

Ciputra Hospital menyediakan layanan kesehatan berkualitas tinggi dengan fasilitas teknologi canggih.

Unit Rumah Sakit:

Ciputra Hospital – CitraRaya Tangerang
Ciputra Hospital – CitraGarden City Jakarta
Ciputra Mitra Hospital Banjarmasin
Ciputra Hospital Surabaya

Unit Klinik:

Ciputra Medical Center
Ciputra SMG Eye Clinic
C Derma
Ciputra IVF

Karir / Lowongan

Lokasi Kami:

CitraRaya – Tangerang
CitraGarden – Jakarta
Banjarmasin
Surabaya

Lowongan

  • GET SOCIAL

© 2025 All rights reserved. Ciputra Hospital

TOP