Pada bayi eksklusif usia 0-5 bulan, BAB seminggu sekali masih terbilang normal. Bayi dikatakan susah BAB atau sembelit ketika buang air besar kurang dari 2 kali dalam seminggu dengan ciri-ciri tinja keras. Penyebab susah BAB pada bayi umumnya karena dehidrasi, tidak cocok dengan susu formula, MPASI rendah serat, hingga mengalami kondisi medis tertentu. Segera berkonsultasi ke dokter apabila bayi tidak BAB lebih dari 2 minggu dengan darah pada tinja, perut kembung, atau muntah.

Bayi susah BAB menunjukkan berbagai gejala.
Berapa Kali Normalnya Bayi BAB?
Pada 24-48 jam pertama setelah lahir, bayi akan mengeluarkan mekonium, yaitu feses pertama yang berwarna hijau tua hingga kehitaman. Feses ini berasal dari sisa zat yang masuk ke tubuh bayi selama masih berada di dalam kandungan.
Setelah itu, frekuensi buang air besar dan buang air kecil bayi akan mulai berubah menjadi lebih teratur. Bayi yang minum ASI biasanya lebih sering buang air besar dibandingkan bayi yang minum susu formula.
Hingga usia 6 minggu, bayi umumnya buang air besar sekitar 2-5 kali sehari. Sebagian bayi juga dapat buang air besar setiap kali selesai menyusu.
Setelah usia 6 minggu hingga 3 bulan, frekuensi buang air besar biasanya mulai berkurang. Ada bayi yang buang air besar satu kali sehari, bahkan hanya satu kali dalam seminggu. Selama berat badan bayi tetap naik dan tidak tampak rewel atau kesakitan, kondisi ini masih tergolong normal.
Gejala Bayi Susah BAB
Bayi susah BAB atau mengalami sembelit bisa menunjukkan berbagai gejala. Berikut adalah beberapa gejala yang mungkin muncul pada bayi yang mengalami kesulitan buang air besar:
- Sembelit
- Kesulitan saat BAB
- Perut kencang dan tegang
- Menangis atau gelisah
- Kotoran yang keras
- Berkembangnya wasir (hemoroid)
- Nafsu makan berkurang
- Bayi mungkin tampak lebih mudah marah dan sulit dikendalikan
- Menggigil atau berkeringat
- Ada bercak darah pada tinja
Baca Juga: Catat! Ini 7 Cara Mengatasi Diare yang Efektif
Penyebab Bayi Susah BAB
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab bayi susah BAB. Berikut penjelasan lengkapnya:
1. Efek Dehidrasi
Dehidrasi dapat menjadi salah satu penyebab utama ketika bayi mengalami kesulitan buang air besar. Bayi yang tidak mendapatkan cukup cairan dalam tubuhnya dapat mengalami feses yang keras dan kering.
Hal ini karena tubuh mereka mencoba untuk menyerap lebih banyak air dari feses, membuatnya lebih padat dan sulit untuk dikeluarkan. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan dehidrasi pada bayi termasuk kurangnya konsumsi ASI atau susu formula yang cukup, terutama saat cuaca panas atau jika bayi mengalami demam. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memantau asupan cairan bayi mereka dan memastikan mereka mendapatkan cukup cairan untuk mencegah dehidrasi yang dapat memperparah masalah sembelit.
2. Pencernaan Masih dalam Tahap Perkembangan
Pencernaan bayi adalah sistem yang kompleks terus berkembang seiring pertumbuhan mereka. Sistem pencernaan bayi mungkin belum sepenuhnya matang pada awal kehidupan mereka.
Sebagai hasilnya, proses pencernaan makanan bisa berjalan lebih lambat dan kurang efisien yang dapat menyebabkan feses menjadi lebih keras dan sulit untuk dikeluarkan. Namun, seiring berjalannya waktu, sistem pencernaan bayi akan menjadi lebih matang dan efisien dan masalah sembelit akibat faktor ini akan berkurang secara alami seiring perkembangan bayi. Orang tua dapat membantu dengan memberikan nutrisi yang sesuai dan memberikan waktu yang diperlukan untuk sistem pencernaan bayi berkembang dengan baik.
3. Konsumsi Makanan Padat
Ketika bayi mulai memperkenalkan makanan padat ke dalam diet mereka, seperti sereal atau makanan bayi pertama, terkadang feses mereka dapat menjadi keras dan menyebabkan sembelit. Ini terjadi karena makanan padat umumnya memiliki kadar serat rendah yang diperlukan untuk merangsang pergerakan usus sehat.
Penting untuk mengenalkan makanan padat secara bertahap dan memilih makanan yang kaya serat, seperti buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian, saat bayi siap. Dengan demikian, Anda dapat membantu mencegah perkembangan sembelit saat memulai proses ini dan memastikan bayi mendapatkan nutrisi yang seimbang.
4. Kondisi Medis atau Penyakit Tertentu
Terkadang, bayi susah BAB bisa mengalami masalah lebih serius yang disebabkan oleh kondisi medis atau penyakit tertentu. Misalnya, penyakit Hirschsprung adalah gangguan saluran pencernaan langka yang dapat mengganggu gerakan usus dan menyebabkan sembelit berat.
Selain itu, hipotiroidisme, yaitu gangguan tiroid yang kurang aktif dapat memperlambat sistem pencernaan dan menyebabkan sembelit. Jika bayi Anda memiliki gejala yang mencurigakan atau gejala sembelit yang tidak merespon perawatan rumah, segera konsultasikan dengan dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Baca Juga: Mengenal Infeksi Rotavirus, Penyebab Anak-Anak Mengalami Diare Akut
5. Menelan Udara saat Menyusu
Ketika bayi menyusu, proses menyusunya yang tidak tepat bisa mengakibatkan mereka menelan sejumlah besar udara. Ini dapat menyebabkan gangguan dalam pencernaan dan merupakan salah satu penyebab umum bayi susah BAB. Bayi yang menelan udara lebih dari seharusnya mungkin mengalami perut kembung, gas, dan ketidaknyamanan.
Untuk menghindari masalah ini, penting memastikan bayi melekat dengan baik saat menyusu. Memastikan bayi mengambil areola (bagian putih pada payudara yang mengelilingi puting) dengan baik dan memastikan puting tidak masuk terlalu dalam ke mulut bayi adalah langkah-langkah penting untuk mencegahnya menelan udara berlebihan selama makan.
6. Tidak Cocok dengan Susu Formula yang Dikonsumsi
Ketika bayi mengonsumsi susu formula, ada kemungkinan bahwa mereka mungkin tidak cocok dengan jenis atau merek susu formula tertentu. Beberapa bayi bisa mengalami sembelit atau bahkan alergi terhadap komponen-komponen tertentu dalam susu formula.
Hal ini bisa mencakup protein susu sapi atau bahan-bahan lain dalam susu formula. Jika bayi menunjukkan gejala sembelit yang berkepanjangan atau reaksi alergi setelah mengonsumsi susu formula tertentu, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi anak. Dokter akan membantu mengevaluasi masalah ini dan mungkin merekomendasikan penggantian dengan jenis susu formula yang lebih cocok dengan kebutuhan bayi Anda untuk mencegah masalah sembelit.
7. Lahir Prematur
Bayi yang lahir prematur lebih berisiko mengalami konstipasi atau sembelit karena sistem pencernaannya belum berkembang dengan sempurna. Akibatnya, ASI dapat bergerak lebih lambat melalui saluran pencernaan sehingga proses pengolahan makanan belum berjalan optimal. Kondisi ini bisa membuat feses menjadi lebih keras dan kering sehingga bayi mengalami kesulitan buang air besar.
Cara Mengatasi Bayi Susah BAB
Mengatasi bayi susah BAB bisa menjadi tugas yang menantang, tetapi dengan beberapa perubahan dalam perawatan dan pola makan bayi, Anda dapat membantu bayi Anda merasa lebih nyaman. Berikut adalah beberapa cara untuk mengatasi bayi yang susah BAB:
1. Perubahan Diet
Bila bayi Anda sedang susah BAB, pertimbangkan untuk membuat perubahan pada dietnya. Jika bayi masih dalam usia ASI atau susu formula, pastikan mereka mendapatkan cukup cairan.
Setelah bayi mulai mengonsumsi makanan padat, perkenalkan makanan yang tinggi serat, seperti buah-buahan, sayuran, atau bubur gandum. Hindari makanan yang mungkin memperparah sembelit, seperti pisang atau makanan olahan.
2. Pemberian Air Putih (Sesuai Usia)
Untuk bayi yang sudah cukup besar, memberikan sedikit air putih setelah pemberian ASI atau susu formula dapat membantu mencegah dehidrasi dan melunakkan feses. Namun, perlu berkonsultasi dengan dokter anak terlebih dahulu untuk memastikan jumlah dan waktu yang tepat.
3. Pijatan Perut
Melakukan pijatan perut lembut dengan gerakan melingkar searah jarum jam bisa membantu merangsang pergerakan usus bayi. Ini dapat membantu mendorong feses agar lebih mudah dikeluarkan dan mengurangi ketidaknyamanan.
Baca Juga: Gejala Diare pada Anak dan Cara Cepat Menghentikannya
4. Latihan Kaki
Gerakan kaki seperti bersepeda atau menekuk lututnya ke dada dapat membantu merangsang peristaltik usus. Gerakan ini dapat membantu mendorong feses ke bawah dan memudahkan bayi buang air besar.
Kapan Harus ke Dokter
Bayi bisa mengalami sembelit jika jarang buang air besar dan feses yang keluar bertekstur keras. Beberapa gerakan sederhana dapat membantu merangsang bayi untuk buang air besar.
Salah satunya dengan membaringkan bayi dalam posisi telentang, lalu menggerakkan kedua kakinya secara perlahan. Segera konsultasikan ke dokter jika sembelit tidak membaik setelah perawatan di rumah atau disertai beberapa tanda berikut:
- Bayi lebih mudah rewel
- Bayi tampak mengalami nyeri atau tidak nyaman pada perut
- Feses berwarna hitam
- Bayi tidak nafsu menyusu atau makan
- Perut bayi terasa keras
Jika bayi Anda terus mengalami masalah sembelit yang serius atau berkepanjangan, sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter anak di Ciputra Hospital. Dokter dapat melakukan evaluasi lebih lanjut dan memberikan saran medis yang sesuai. Mereka juga dapat memeriksa apakah ada kondisi medis yang mendasari yang perlu mendapatkan penanganan.
FAQ
Apakah Bayi Susah BAB Berbahaya?
Pada umumnya, kesulitan buang air besar pada bayi bukanlah hal yang berbahaya. Bayi sering mengejan, wajah memerah, atau menangis saat BAB karena otot perutnya masih berkembang dan belum terbiasa mengendurkan otot di sekitar anus. Jika feses yang keluar masih lunak, kondisi ini biasanya normal.
Namun, feses yang keras, kering, atau berbentuk seperti butiran kecil dapat menjadi tanda bayi mengalami sembelit.
Apakah Pisang Bisa Menyebabkan Bayi Susah BAB?
Ya. Pisang dapat menyebabkan atau memperparah sembelit pada sebagian bayi, terutama jika pisang yang diberikan masih mentah, dikonsumsi dalam jumlah banyak, atau diberikan saat sistem pencernaan bayi belum siap.
Kapan Bayi Susah BAB Perlu Dibawa ke Dokter?
Sembelit pada bayi lebih dilihat dari kondisi feses, bukan hanya dari seberapa sering bayi BAB. Bayi dapat dikatakan mengalami sembelit jika fesesnya keras, kering, atau berbentuk seperti butiran kecil. Segera bawa bayi ke dokter bila usianya masih di bawah 2 bulan, mengalami nyeri yang berat, terdapat darah pada feses, muntah, atau perut terlihat membesar.



