Ditulis oleh Tim Konten Medis
Sindrom Cushing adalah kondisi ketika tubuh menghasilkan hormon kortisol secara berlebihan dalam jangka waktu lama. Gejalanya berupa penumpukan lemak di bagian tubuh, wajah kemerahan, perubahan suasana hati, gangguan menstruasi, pertumbuhan rambut berlebihan, munculnya stretch mark, serta lemahnya otot pada lengan dan kaki.

Tubuh manusia memiliki sistem hormon yang bekerja secara seimbang untuk menjaga kesehatan dan fungsi organ. Namun, ketika keseimbangan ini terganggu, terutama karena produksi hormon kortisol berlebih, berbagai masalah serius dapat muncul.
Salah satu kondisi yang terjadi akibat hal tersebut adalah Sindrom Cushing, gangguan hormonal yang dapat mempengaruhi berat badan, tekanan darah, hingga suasana hati Anda. Penyebabnya bisa terjadi dari dalam maupun luar tubuh, termasuk akibat penggunaan obat kortikosteroid oral dalam jangka panjang dan adanya tumor pada kelenjar pituitari.
Apa Itu Sindrom Cushing?
Sindrom Cushing adalah kondisi langka yang terjadi ketika tubuh memproduksi terlalu banyak hormon kortisol. Hormon ini sebagai hormon stres karena perannya dalam membantu tubuh menghadapi tekanan fisik maupun emosional.
Kelebihan kortisol dalam jangka panjang dapat mengganggu fungsi normal tubuh dan menimbulkan berbagai gejala yang mempengaruhi kesehatan secara menyeluruh. Kortisol sebenarnya memiliki peran penting untuk menjaga keseimbangan tubuh.
Hormon ini membantu mengatur tekanan darah, kadar gula darah, dan metabolisme energi. Namun, saat produksinya berlebihan, baik karena faktor internal seperti tumor maupun karena penggunaan obat tertentu, terjadilah Cushing syndrome.
Baca Juga: Apa Itu Sindrom Dispepsia? Kenali Gejala dan Penyebabnya
Penyebab Cushing Syndrome
Penyakit Cushing terjadi ketika tubuh memiliki kadar hormon kortisol yang terlalu tinggi dalam waktu lama. Kondisi ini bisa karena faktor dari luar tubuh (eksogen) maupun dari dalam tubuh (endogen).
Pada kasus tertentu, penyebabnya berkaitan dengan penggunaan obat-obatan steroid, sedangkan sebagian lainnya oleh adanya tumor atau gangguan pada kelenjar yang mengatur produksi hormon kortisol.
Berikut penyebab lainnya yang perlu Anda ketahui:
1. Penggunaan Obat Glukokortikoid
Salah satu penyebabnya yang paling sering adalah penggunaan obat glukokortikoid dalam jangka panjang. Obat ini biasanya untuk mengobati penyakit peradangan seperti asma, lupus, radang sendi, serta untuk mencegah penolakan organ setelah transplantasi.
Jika Anda gunakan dalam dosis tinggi atau dalam waktu lama, obat ini dapat meningkatkan kadar kortisol secara berlebihan dalam tubuh. Glukokortikoid dapat Anda konsumsi dalam berbagai bentuk seperti tablet, suntikan, salep, atau inhaler.
2. Tumor Penghasil ACTH di Kelenjar Pituitari
Kelenjar pituitari yang terletak di dasar otak dapat mengalami pertumbuhan tumor jinak bernama adenoma. Tumor ini bisa memproduksi terlalu banyak hormon ACTH yang kemudian merangsang kelenjar adrenal menghasilkan lebih banyak kortisol. Kondisi ini sebagai Cushing disease dan merupakan bentuk penyakit Cushing endogen yang paling umum.
Kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita dan dapat menyebabkan berbagai gejala seperti kenaikan berat badan, tekanan darah tinggi, serta gangguan suasana hati. Meskipun tumor ini umumnya tidak bersifat kanker, pengobatan tetap Anda perlukan untuk menormalkan kadar hormon kortisol dalam tubuh Anda.
Baca juga: Jenis Hormon Stres dan Dampaknya pada Tubuh
3. Tumor Penghasil ACTH di Organ Lain
Dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, tumor penghasil ACTH dapat tumbuh di organ yang seharusnya tidak memproduksi hormon tersebut, seperti paru-paru, pankreas, kelenjar tiroid, atau kelenjar timus. Kondisi ini disebut produksi ACTH ektopik dan dapat menyebabkan peningkatan kadar kortisol secara berlebihan.
Sebagian tumor ini bisa bersifat ganas, namun tidak selalu. Peningkatan hormon ACTH dari sumber ektopik ini mengganggu sistem hormonal tubuh Anda, sehingga menyebabkan gejala yang serupa dengan kasus lainnya, seperti wajah membulat dan lemak menumpuk di bagian punggung atas.
4. Tumor atau Gangguan pada Kelenjar Adrenal
Masalah pada kelenjar adrenal juga bisa menjadi penyebab Cushing syndrome. Tumor jinak pada bagian luar kelenjar adrenal, yang bernama adrenal adenoma, dapat memicu produksi kortisol berlebih. Walaupun umumnya tidak bersifat kanker, tumor ini bisa menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang signifikan.
Dalam kasus yang lebih jarang, terdapat tumor ganas bernama adrenocortical carcinoma yang dapat menghasilkan kortisol dalam jumlah besar. Selain itu, beberapa orang mengalami pertumbuhan banyak nodul di kelenjar adrenal (hiperplasia adrenal nodular), yang juga dapat menyebabkan peningkatan kadar kortisol di tubuh Anda.
5. Sindrom Cushing Keturunan
Pada sebagian kecil kasus, penyakit ini bisa terjadi karena faktor genetik. Seseorang dapat mewarisi kecenderungan untuk mengembangkan tumor pada satu atau lebih kelenjar endokrin, yaitu kelenjar yang bertugas memproduksi hormon. Jika tumor tersebut menghasilkan hormon ACTH atau kortisol, maka kondisi sindrom cushing dapat muncul.
Meski sangat jarang, penting bagi Anda yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan hormon atau tumor endokrin untuk melakukan pemeriksaan rutin. Deteksi dini membantu mencegah komplikasi serius dan menjaga keseimbangan hormon tubuh tetap stabil.
Gejala Sindrom Cushing
Gejala Sindrom Cushing dapat berkembang secara perlahan dan sering kali sulit banyak orang kenali pada awalnya. Kondisi ini lebih sering wanita alami daripada pria, dan muncul karena kadar hormon kortisol dalam tubuh terlalu tinggi dalam jangka waktu lama.
Berikut ciri-ciri Sindrom Cushing yang bisa Anda kenali sejak dini:
- Penumpukan lemak di bagian tubuh tertentu
- Wajah tampak bulat dan kemerahan
- Kulit mudah memar dan muncul stretch mark
- Kelemahan otot pada lengan dan kaki
- Penurunan gairah seksual
- Perubahan suasana hati
- Gangguan menstruasi
- Pertumbuhan rambut berlebih
- Pada anak-anak, Sindrom Cushing jarang terjadi, namun dapat menyebabkan obesitas dan pertumbuhan tubuh yang lebih pendek dari usia seharusnya.
Baca Juga: Apa Itu Carpal Tunnel Syndrome? Penyebab hingga Gejalanya
Cara Mendiagnosis Sindrom Cushing
Kondisi ini perlu didiagnosis dengan cermat karena yang terjadi jika hormon kortisol meningkat dapat mempengaruhi berbagai fungsi tubuh, mulai dari berat badan, tekanan darah, hingga sistem kekebalan tubuh. Oleh karena itu, pemeriksaan menyeluruh sangat penting untuk memastikan penyebab dan sumber kelebihan hormon tersebut.
Pemeriksaan yang mungkin dibutuhkan adalah:
- Tes urin 24 jam. Pemeriksaan ini untuk mengukur kadar hormon kortisol dalam urin selama satu hari penuh guna mengetahui apakah tubuh Anda memproduksi hormon secara berlebihan.
- CT Scan. Pemeriksaan ini menggunakan sinar-X dan teknologi komputer untuk menghasilkan gambar detail bagian dalam tubuh Anda, sehingga membantu mendeteksi adanya kelainan atau tumor pada kelenjar adrenal.
- MRI (Magnetic Resonance Imaging). Tes ini menampilkan gambaran organ dan jaringan tubuh dengan lebih jelas untuk mengetahui apakah ada gangguan pada kelenjar hipofisis atau bagian otak lain yang memicu peningkatan hormon kortisol.
- Tes Deksametason Supresi. Tes ini untuk mengetahui apakah tubuh Anda menghasilkan terlalu banyak kortisol. Jika hasilnya menunjukkan kadar tinggi, langkah selanjutnya adalah mencari tahu apakah sumbernya berasal dari kelenjar pituitari atau tumor di bagian tubuh lain.
- Tes Laboratorium Lainnya. Pemeriksaan tambahan, seperti kadar kortisol air liur pada malam hari dan kadar hormon ACTH, dapat membantu menentukan apakah kelebihan hormon kortisol disebabkan oleh gangguan pada kelenjar adrenal atau pituitari.
Cara Mengatasi Sindrom Cushing
Pengobatan Sindrom Cushing bertujuan untuk menurunkan kadar hormon kortisol yang berlebihan di dalam tubuh Anda. Metode pengobatan yang digunakan akan disesuaikan dengan penyebab utamanya, apakah berasal dari penggunaan obat, adanya tumor, atau gangguan pada kelenjar endokrin.
Berikut cara mengatasinya yang dapat Anda lakukan:
1. Mengurangi Penggunaan Glukokortikoid
Jika Sindrom Cushing karena penggunaan obat glukokortikoid jangka panjang, dokter akan membantu Anda menurunkan dosis secara bertahap. Langkah ini dilakukan dengan hati-hati agar tubuh tetap dapat menyesuaikan diri dan memproduksi kortisol dalam jumlah normal.
Menghentikan obat secara tiba-tiba bisa berbahaya karena dapat menyebabkan kekurangan kortisol dalam tubuh. Dengan pengawasan dokter, penurunan dosis perlahan akan membantu tubuh Anda kembali menyeimbangkan kadar hormon secara alami.
2. Tindakan Operasi
Apabila penyebabnya adalah tumor, dokter dapat menyarankan operasi untuk mengangkat tumor tersebut. Operasi bisa dilakukan oleh dokter bedah saraf melalui hidung jika tumor berada di kelenjar pituitari, atau melalui sayatan kecil jika tumor berada di kelenjar adrenal.
Dalam kasus tertentu, bila tumor tidak ditemukan atau tidak dapat diangkat sepenuhnya, dokter mungkin menyarankan pengangkatan kedua kelenjar adrenal. Setelah operasi ini, Anda perlu mengonsumsi obat pengganti hormon kortisol dan aldosteron seumur hidup.
3. Terapi Radiasi
Terapi radiasi dapat menjadi pilihan jika operasi tidak berhasil mengangkat tumor sepenuhnya. Prosedur ini juga digunakan bagi Anda yang tidak memungkinkan untuk menjalani operasi.
Radiasi dilakukan dengan dosis kecil selama beberapa minggu atau dengan satu dosis tinggi yang ditargetkan langsung ke area tumor. Tujuannya adalah menurunkan produksi hormon ACTH tanpa merusak jaringan sehat di sekitar area tersebut.
4. Pengobatan dengan Obat-obatan
Jika operasi dan radiasi tidak efektif, pengobatannya dapat Anda lakukan dengan obat yang mengontrol kadar kortisol. Obat seperti ketoconazole, metyrapone, osilodrostat, atau mitotane dapat membantu menekan produksi hormon di kelenjar adrenal.
Selain itu, mifepristone dapat digunakan untuk penderita Sindrom Cushing dengan diabetes tipe 2 atau kadar gula darah tinggi. Ada juga pasireotide yang diberikan melalui suntikan untuk menurunkan produksi ACTH dari tumor.
5. Terapi Pengganti Hormon
Pada beberapa kasus, tumor atau pengobatannya dapat menyebabkan kelenjar pituitari atau adrenal menghasilkan terlalu sedikit hormon lain. Jika hal ini terjadi, dokter akan memberikan terapi pengganti hormon agar kadar hormon tubuh Anda tetap seimbang.
Terapi ini membantu menjaga fungsi tubuh tetap stabil setelah tindakan medis utama dilakukan. Pemantauan rutin oleh dokter endokrin sangat penting agar dosis obat tetap sesuai dengan kebutuhan tubuh Anda.
Baca Juga: Apa Itu Sindrom Asperger? Penyebab, Gejala, Pengobatan
Yuk kunjungi Ciputra Hospital, dan dapatkan kemudahan untuk konsultasi dan membuat janji dengan dokter pilihan Anda. Cek informasi lengkap mengenai layanan Ciputra Hospital, mulai dari rawat jalan hingga Medical Check Up (MCU), hanya di situs resmi atau kunjungi langsung fasilitas terdekat sekarang juga.
Telah Direview oleh dr. Florencia Natasya
Source
- Cleveland Clinic. Cushing Syndrome. Februari 2026
- Mayo Clinic. Cushing Syndrome. Februari 2026
- NHS. Cushing’s syndrome. Februari 2026



