Ditulis oleh Tim Konten Medis
Gejala skizofrenia terdiri dari gejala positif yang meliputi halusinasi, delusi, hingga gangguan bicara yang tidak teratur dan gejala negatif yang terdiri dari kurang inisiatif, keterbatasan bicara, hingga anhedonia. Cara mendeteksi penyakit ini bisa dengan pemeriksaan fisik hingga tes dan skrining gejala.

Penyakit skizofrenia adalah gangguan kesehatan mental yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku. Kondisi ini dapat mengganggu kemampuan seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari karena kesulitan membedakan antara kenyataan dan hal yang ada dalam pikirannya.
Penyebab skizofrenia belum diketahui secara pasti, namun bisa terjadi karena beberapa faktor seperti genetik, kelainan struktur dan kimia otak, hingga penyalahgunaan narkotika. Penanganan yang tepat dapat membantu penderita menjalani hidup lebih stabil dan produktif melalui proses pengobatan skizofrenia yang berkelanjutan.
Gejala Positif Skizofrenia
Gejala positif skizofrenia adalah kondisi ketika seseorang mengalami penambahan perilaku atau persepsi yang tidak biasa dan tidak dialami oleh orang lain. Kondisi ini membuat penderitanya kesulitan membedakan antara kenyataan dan hal yang hanya terjadi dalam pikiran.
1. Halusinasi
Halusinasi adalah pengalaman sensorik yang dirasakan seseorang tanpa adanya rangsangan nyata dari lingkungan. Ini dapat membuat penderitanya merespons sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi di dunia nyata.
Jenis halusinasi yang sering muncul adalah halusinasi pendengaran, yaitu mendengar suara yang tidak didengar oleh orang lain. Suara tersebut dapat terdengar seperti bisikan maupun perintah yang mendesak, sehingga memengaruhi perilaku penderita.
2. Halusinasi Visual
Halusinasi visual terjadi ketika seseorang melihat bentuk, cahaya, bayangan, atau sosok yang sebenarnya tidak ada. Gambaran yang muncul bisa berupa sosok orang terdekat yang sudah meninggal atau objek lain tanpa bentuk yang jelas.
Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan penderita dalam menilai jarak atau kedalaman objek di sekitar mereka. Akibatnya, aktivitas sehari-hari dapat terganggu karena pandangan yang tidak sesuai dengan kenyataan.
3. Halusinasi Penciuman dan Pengecapan
Halusinasi penciuman dan pengecapan adalah kondisi ketika seseorang merasakan bau atau rasa yang tidak nyata. Sensasi ini bisa baik atau buruk, namun seringkali muncul rasa atau bau tidak sedap yang membuat penderita tidak nyaman.
Dalam beberapa kasus, penderita merasa seolah-olah sedang diracuni karena merasakan rasa atau aroma tertentu. Hal ini bisa membuat mereka menolak makanan dan menyebabkan masalah kesehatan tambahan.
4. Halusinasi Sentuhan
Halusinasi sentuhan menciptakan sensasi fisik pada tubuh tanpa penyebab yang jelas. Penderitanya bisa merasa seperti ada sesuatu yang merayap, menyentuh, atau menggerakkan bagian tubuhnya.
Sensasi ini menimbulkan ketakutan dan kebingungan karena terasa sangat nyata bagi penderita. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang menjadi waspada berlebihan dan sulit beristirahat dengan tenang.
Baca Juga: Ciri-Ciri Orang yang Harus ke Psikiater, Ini Gejalanya
Gejala Negatif Skizofrenia
Gejala negatif skizofrenia menggambarkan hilangnya kemampuan atau respon alami yang biasanya dimiliki seseorang dalam aktivitas sehari-hari. Kondisi ini sering membuat penderitanya tampak menarik diri dan kesulitan menjalankan fungsi sosial maupun emosional.
1. Flattened Affect
Flattened affect adalah keadaan ketika seseorang terlihat tidak menunjukkan ekspresi emosional, baik melalui wajah, suara, maupun bahasa tubuh. Mereka tampak datar dan tidak menunjukkan reaksi pada situasi yang biasanya memunculkan emosi.
Kondisi ini dapat membuat komunikasi dengan orang sekitar menjadi terasa kaku dan sulit dipahami. Minimnya ekspresi sering menimbulkan kesan seolah penderitanya tidak peduli, padahal mereka sebenarnya kesulitan mengekspresikan perasaan.
2. Anhedonia
Anhedonia adalah hilangnya kemampuan merasakan kebahagiaan dari aktivitas yang sebelumnya menyenangkan. Kegiatan seperti hobi, berkumpul dengan keluarga, atau aktivitas sosial lainnya tidak lagi memberikan rasa puas.
Perubahan ini membuat penderita cenderung menarik diri dan menghindari interaksi sosial. Kondisi ini sering tampak jelas bagi orang terdekat karena perubahan perilakunya cukup signifikan.
3. Penurunan Bicara
Penurunan bicara ditandai dengan semakin sedikitnya kata yang diucapkan atau jawaban yang sangat singkat dalam percakapan. Penderita terlihat tidak memiliki inisiatif untuk memulai pembicaraan atau mempertahankan dialog.
Hal ini membuat komunikasi menjadi sulit dan tidak mengalir dengan natural. Orang sekitar bisa merasa kebingungan karena respon yang terbatas dan tidak konsisten.
4. Kurangnya Inisiatif
Kurangnya inisiatif adalah hilangnya motivasi untuk melakukan kegiatan sehari-hari, seperti merawat diri, bekerja, atau menyelesaikan tugas. Penderita tampak pasif dan tidak memiliki keinginan untuk memulai sesuatu.
Kondisi ini dikenal juga sebagai avolition dan sering menyulitkan penderita untuk menjalani rutinitas normal. Dalam beberapa kasus gangguan skizofrenia, gejala ini dapat berdampak besar pada kualitas hidup.
Baca Juga: Perbedaan Demensia dan Alzheimer: Gejala dan Pengobatan
Gejala Skizofrenia pada Anak dan Remaja
Skizofrenia yang muncul sebelum usia 18 tahun dikenal sebagai early-onset schizophrenia dan dapat memengaruhi perkembangan emosional serta sosial anak. Kondisi yang terjadi sebelum usia 13 tahun sangat jarang, namun tetap mungkin terjadi.
Gejala awal yang muncul pada anak dan remaja dapat berupa:
- Pikiran yang tidak biasa
- Kesulitan membedakan antara kenyataan dan imajinasi
- Mengalami gangguan dalam berkonsentrasi
- Menunjukkan perubahan suasana hati yang ekstrem
- Berperilaku aneh
- Menarik diri dari lingkungan sosial
- Mengalami halusinasi pendengaran lebih sering daripada orang dewasa.
Meskipun gejala pada anak mirip dengan orang dewasa, munculnya delusi dan gangguan pola pikir biasanya terlihat saat memasuki masa remaja atau awal dewasa. Memahami tanda-tanda skizofrenia sejak awal dapat membantu orang tua atau pengasuh mencari bantuan profesional secepatnya.
Cara Mendiagnosis Skizofrenia
Diagnosis skizofrenia dilakukan dengan memastikan bahwa gejala yang muncul bukan disebabkan oleh kondisi medis lain atau penyalahgunaan zat tertentu. Proses evaluasi dilakukan secara menyeluruh agar hasilnya akurat dan membantu menentukan penanganan yang tepat, terutama ketika muncul ciri-ciri skizofrenia yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Berikut cara mendiagnosis skizofrenia:
- Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain yang dapat menimbulkan gejala serupa. Langkah ini juga membantu mengetahui apakah ada komplikasi kesehatan yang menyertai.
- Tes dan pemeriksaan penunjang. Tes laboratorium atau skrining dapat dilakukan untuk mengevaluasi kemungkinan penggunaan alkohol atau obat-obatan. Dokter juga dapat merekomendasikan pemeriksaan seperti MRI atau CT scan untuk melihat kondisi otak secara lebih detail.
- Evaluasi kesehatan mental. Pemeriksaan ini mencakup observasi perilaku, cara berbicara, suasana hati, serta pertanyaan mengenai halusinasi, delusi, dan pikiran yang berisiko. Riwayat pribadi dan keluarga juga menjadi bagian penting dalam proses diagnosis.
Baca Juga: Penyebab Narkolepsi, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Jika Anda atau keluarga Anda mengalami gejala skizofrenia, segera kunjungi Ciputra Hospital. Dapatkan kemudahan untuk konsultasi dan membuat janji dengan dokter pilihan Anda.
Cek informasi lengkap mengenai layanan Ciputra Hospital, mulai dari rawat jalan hingga Medical Check Up (MCU), hanya di situs resmi atau kunjungi langsung fasilitas terdekat sekarang juga.
Telah direview oleh dr. Sony Prabowo
Source:
- WebMD. Schizophrenia Symptoms. Januari 2026
- Verywell mind. Signs and Symptoms of Schizophrenia. Januari 2026
- Mayo Clinic. Schizophrenia. Januari 2026





