Komplikasi HMPV dapat berupa penyakit bronkiolitis, bronkitis, radang paru-paru, kambuhnya asma atau PPOK, dan infeksi telinga. Adapun cara mencegahnya dapat Anda lakukan dengan mencuci tangan dengan bersih, tidak menyentuh wajah, membersihkan permukaan wajah secara teratur, dan menghindari kontak langsung dengan orang yang memiliki gejala HMPV.

Penyakit Komplikasi Akibat Virus HMPV
Infeksi HMPV tidak selalu berhenti pada gejala ringan seperti pilek atau batuk biasa. Pada sebagian orang, virus ini bisa memicu gangguan yang lebih serius dan mengharuskan Anda dirawat di rumah sakit. Berikut komplikasi akibat virus HMPV yang perlu Anda ketahui:
1. Bronkiolitis
Bronkiolitis merupakan peradangan pada saluran udara kecil di paru-paru yang bernama bronkiolus, dan kondisi ini paling sering menyerang bayi serta anak di bawah usia dua tahun. Saluran napas yang menyempit membuat anak kesulitan bernapas dan sering muncul suara mengi.
Gejala yang muncul biasanya mirip flu biasa, seperti hidung tersumbat dan batuk, namun muncul gejala napas berbunyi yang menjadi ciri khasnya. Kondisi ini cenderung lebih sering muncul saat musim dingin atau peralihan ke musim semi.
Meski umumnya tergolong ringan, bronkiolitis tetap perlu Anda waspadai karena bisa berkembang menjadi lebih berat. Orang tua sebaikanya untuk terus memantau pola napas anak dan segera memeriksakan diri ke dokter bila kesulitan bernapas semakin terlihat.
Baca Juga: Gejala Virus HMPV yang Harus Diwaspadai dan Pencegahan
2. Bronkitis
Bronkitis terjadi ketika saluran udara menuju paru-paru mengalami peradangan akibat iritasi pada trakea dan bronkus. Saluran yang bengkak ini kemudian dipenuhi lendir sehingga memicu batuk yang menjadi gejala utamanya.
Batuk akibat bronkitis bisa berlangsung singkat, namun tidak jarang bertahan hingga beberapa minggu. Pada banyak kasus, infeksi virus menjadi penyebab utama munculnya bronkitis akut.
Selain virus, paparan asap rokok maupun zat iritan lain juga dapat memicu bronkitis, baik dalam bentuk akut maupun kronis. Karena itu, menghindari faktor pemicu tersebut penting untuk mencegah kondisi ini bertambah parah.
3. Radang Paru-Paru (Pneumonia)
Pneumonia adalah kondisi ketika kantung-kantung udara kecil di paru-paru, yang disebut alveoli, mengalami peradangan dan dipenuhi cairan. Infeksi ini bisa disebabkan oleh bakteri, virus, maupun jamur, dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.
Pneumonia akibat bakteri umumnya menimbulkan gejala yang lebih berat dari pneumonia akibat virus. Pneumonia yang disebabkan oleh virus sendiri sering kali dapat membaik dengan sendirinya seiring waktu.
Peradangan pada pneumonia muncul ketika sistem kekebalan tubuh berusaha melawan infeksi di alveoli, sehingga paru-paru membengkak dan penuh cairan. Kondisi ini bisa terjadi pada satu paru-paru saja atau kedua-duanya sekaligus, yang terkenal dengan istilah pneumonia bilateral.
4. Kambuhnya Asma dan PPOK
Asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) merupakan dua kondisi pernapasan jangka panjang yang gejalanya bisa memburuk saat terpicu infeksi seperti HMPV. Pada asma, saluran napas yang meradang akan menyempit dan penuh lendir ketika terpapar pemicu tertentu, sehingga menimbulkan sesak napas, batuk, atau mengi.
Sementara itu, PPOK muncul dengan kerusakan permanen pada saluran napas dan paru-paru, termasuk hilangnya elastisitas jaringan serta penumpukan lendir kental yang menyumbat pernapasan. Penderita PPOK rentan mengalami eksaserbasi, yaitu perburukan gejala mendadak berupa sesak napas berat dan batuk yang semakin intens.
Baik serangan asma maupun eksaserbasi PPOK dapat menjadi kondisi serius yang membutuhkan perawatan di rumah sakit jika tidak segera Anda tangani. Oleh karena itu, penderita kedua kondisi ini sebaiknya untuk lebih waspada dan segera mencari pertolongan medis saat gejala pernapasan memburuk.
5. Infeksi Telinga (Otitis Media)
Infeksi telinga, atau yang terkenal dengan istilah otitis media akut, terjadi saat virus atau bakteri berkembang biak dalam cairan yang terperangkap di rongga telinga tengah. Kondisi ini kerap menimbulkan rasa nyeri pada telinga serta pendengaran yang terasa teredam.
Anak-anak, terutama yang berusia di bawah dua tahun, menjadi kelompok paling rentan mengalami infeksi ini akibat struktur telinga dan sistem kekebalan tubuh mereka yang belum sepenuhnya berkembang. Di Amerika Serikat saja, jutaan kasus infeksi telinga pada anak terdiagnosis setiap tahunnya.
Kabar baiknya, sebagian besar infeksi telinga dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari tanpa penanganan khusus. Jika gejala tidak kunjung membaik, pemberian antibiotik biasanya cukup efektif untuk mengatasinya.
Baca Juga: Virus HMPV Masuk Indonesia: Ini Fakta yang Perlu Kamu Tahu
Cara Mencegah Infeksi Human Metapneumovirus
Infeksi human merapneumovirus (HMPV) dapat anda cegah dengan beberapa cara. Berikut cara mencegahnya yang dapat Anda lakukan:
- Mencuci tangan dengan bersih menggunakan sabun selama 20 detik. Apabila tidak ada sabun dan air bersih, maka Anda dapat menggunakan pembersih tangan yang memiliki kandungan alkohol dengan minimal 60%.
- Jangan menyentuh wajah Anda seperti mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang belum dibersihkan agar kuman tidak masuk ke tempat-tempat tersebut.
- Membersihkan permukaan wajah Anda secara teratur agar mencegah penyebaran infeksi karena menyentuh permukaan yang terkontaminasi oleh virus.
- Menghindari kontak langsung dengan orang yang memiliki gejala penyakit HMPV.
Baca Juga: Cara Mengatasi Virus HMPV dan Waspadai Penyebabnya
Yuk, jaga kesehatan tubuh dengan rutin melakukan medical check up di Ciputra Hospital. Anda juga bisa konsultasi dan buat janji dengan dokter di Ciputra Hospital terdekat.
Cek layanan rumah sakit Ciputra Hospital mulai dari rawat jalan hingga Medical Check Up (MCU) selengkapnya sekarang juga.







