Obat saraf kejepit yang tersedia di apotek dapat berupa Voltaren Emulgel, Celecoxib, Lexscort, hingga Neuralgin. Namun, perlu Anda ketahui bawah jenis obat ini hanya mampu mengatasi gejala, seperti nyeri dan menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi tidak menyembuhkan penyebab saraf kejepit. Sebelum menggunakan obat, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Saraf kejepit sering kali terasa tidak nyaman.
Saraf kejepit adalah istilah non-medis untuk saraf yang mengalami tekanan terlalu besar dari jaringan di sekitarnya, seperti tulang rawan, otot, tulang, dan tendon. Kondisi ini bisa terjadi bagian tubuh mana pun, mulai dari pergelangan tangan hingga kaki.
Biasanya, gejala saraf kejepit tidak berbahaya dan hanya berlangsung sementara saja. Namun, kondisi ini bisa memicu kerusakan permanen sehingga perlu mendapatkan pengobatan yang tepat sedini mungkin. Anda dapat mengenali ciri-ciri saraf kejepit, seperti kesemutan, mati rasa, dan rasa sakit seperti tertusuk jarum.
Jenis Obat Saraf Kejepit di Apotek
Ada beberapa pilihan obat yang bisa membantu meredakan nyeri akibat saraf kejepit. Di antaranya:
1. Obat Pereda Nyeri yang Dijual Bebas
Obat pereda nyeri seperti asetaminofen dan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) bisa menjadi pilihan awal untuk meredakan nyeri akibat saraf kejepit. Di Indonesia, obat jenis ini bisa Anda temukan dengan mudah di apotek dengan merek seperti Panadol atau Paracetamol, sementara NSAID mencakup kandungan ibuprofen dan naproxen.
Meski tergolong obat bebas, penggunaannya tetap harus mengikuti petunjuk pada kemasan agar aman. Jika nyeri tidak kunjung membaik setelah penggunaan obat ini, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter.
Baca Juga: Olahraga untuk Meredakan Nyeri Saraf Kejepit
2. Kortikosteroid
Jika nyeri cukup parah, dokter mungkin akan meresepkan obat antiinflamasi golongan kortikosteroid, seperti prednison untuk membantu meredakan nyeri sekaligus peradangan. Obat ini biasanya dalam bentuk oral atau melalui suntikan, tergantung pada kondisi dan tingkat keparahan yang dialami pasien.
Penggunaan kortikosteroid umumnya memerlukan pengawasan ketat dari dokter karena berpotensi menimbulkan efek samping tertentu. Oleh karena itu, obat ini tidak dijual bebas dan hanya bisa sesuai resep dokter.
3. Topical
Obat topikal berupa krim, salep, atau plester yang dioleskan langsung ke kulit juga bisa menjadi pilihan untuk meredakan nyeri saraf kejepit. Kandungan aktif di dalamnya akan meresap melalui kulit dan bekerja memengaruhi saraf di area yang mengalami nyeri.
Beberapa pilihan yang umum antara lain plester berbahan lidocaine, yang bekerja sebagai anestesi lokal, dan plester capsaicin yang berasal dari kandungan alami cabai. Meski efektif meredakan nyeri, kedua jenis plester ini berpotensi menimbulkan efek samping seperti ruam, kemerahan, dan rasa gatal pada kulit.
4. Vitamin Neurotropik (Vitamin B1, B6 dan B12)
Vitamin neurotropik, seperti vitamin B1, B6, dan B12 sering digunakan untuk menjaga fungsi saraf serta membantu mengurangi keluhan akibat gangguan saraf.
- Tiamin (Vitamin B1): Berperan dalam produksi energi dengan membantu tubuh mengubah glukosa menjadi ATP. Vitamin ini juga mendukung lapisan mielin yang melindungi saraf. Kekurangan vitamin B1 bisa memicu kesemutan, kelemahan, dan nyeri saraf.
- Piridoksin (Vitamin B6): Dibutuhkan dalam pembentukan neurotransmiter seperti serotonin dan GABA, serta berperan dalam metabolisme protein dan penghantaran sinyal saraf. Kadar vitamin B6 yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi menimbulkan gangguan pada saraf.
- Kobalamin (Vitamin B12): Berperan penting dalam pembentukan DNA dan perbaikan mielin. Vitamin B12 juga membantu mengatur homosistein, yaitu asam amino yang berkaitan dengan kerusakan saraf. Kekurangannya sering muncul mati rasa, perubahan fungsi kognitif, dan gangguan keseimbangan.
Baca Juga: Penyebab Saraf Kejepit dan Cara Mengobatinya
5. Antikonvulsan (Gabapentin atau Pregabalin)
Obat antikejang bekerja dengan menghambat pengiriman sinyal nyeri yang berlebihan dari saraf yang rusak, seperti pada neuropati, atau saraf yang terlalu sensitif seperti pada fibromyalgia. Jenis obat bisa berbeda tergantung kondisi.
Carbamazepine (Carbatrol, Tegretol, dan lainnya), misalnya, banyak dokter resepkan untuk trigeminal neuralgia yang menimbulkan nyeri hebat di wajah seperti tersengat listrik. Sementara itu, gabapentin (Gralise, Neurontin, Horizant) dan pregabalin (Lyrica) untuk meredakan nyeri akibat kerusakan saraf.
Gabapentin dan pregabalin terutama digunakan pada neuralgia pascaherpes, neuropati diabetik, serta nyeri akibat cedera sumsum tulang belakang. Pregabalin juga untuk fibromyalgia.
Gabapentin umumnya dokter resepkan terlebih dulu. Jika belum memberikan hasil, dokter dapat meresepkan pregabalin.
Efek samping bisa terjadi antara lain mengantuk, pusing, kebingungan, serta bengkak pada kaki. Oleh karena itu, dosis biasanya dokter berikan rendah di awal, kemudian dinaikkan secara bertahap.
Gabapentin dan pregabalin keluar dari tubuh melalui ginjal. Pada orang dengan gangguan fungsi ginjal, dosis harus sesuai karena risiko efek samping juga lebih tinggi.
Meski begitu, kedua obat ini tetap dapat digunakan dalam dosis yang lebih rendah pada penderita penyakit ginjal. Penggunaan obat antikejang juga berkaitan dengan sedikit peningkatan risiko munculnya pikiran atau tindakan bunuh diri.
Segera hubungi dokter atau konselor bila muncul depresi atau keinginan untuk menyakiti diri. Jika nyeri belum terkontrol dengan obat antikejang saja, dokter dapat mengombinasikannya dengan obat dari kelompok lain yang bekerja dengan cara berbeda, seperti antidepresan.
Baca Juga: Prosedur Operasi Saraf Kejepit, Manfaat, dan Risikonya
Kapan Harus ke Dokter?
Jika Anda sudah minum atau menggunakan obat saraf kejepit tetapi gejala tidak kunjung sembuh dalam waktu lama, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat dan sesuai kebutuhan. Anda bisa kunjungi rumah sakit Ciputra Hospital terdekat untuk konsultasi kesehatan.
Yuk, jaga kesehatan tubuh dengan rutin melakukan medical check up di Ciputra Hospital. Anda juga bisa konsultasi dan buat janji dengan dokter di Ciputra Hospital terdekat.
Yuk, jaga dan cek kondisi kesehatan Anda sekeluarga bersama Ciputra Hospital!
FAQ
Apakah obat saraf kejepit bisa dibeli tanpa resep dokter?
Ya, Anda dapat membeli sebagian dari obat saraf kejepit tanpa menggunakan resep dokter, seperti obat saraf kejepit yang ringan.
Berapa lama obat saraf kejepit bekerja meredakan nyeri?
Obat saraf kejepit bekerja meredakan nyeri sekitar 30 menit hingga 2 jam setelah Anda meminumnya.
Apakah obat herbal atau alami efektif untuk saraf kejepit?
Ya, obat herbal atau alami efektif untuk saraf kejepit tetapi hanya untuk meredakan gejala nyeri dan peradangan saja, tidak untuk menyembuhkan secara fisik.
Apa obat saraf kejepit yang aman untuk ibu hamil?
Obat saraf kejepit yang aman untuk ibu hamil yaitu obat parasetamol karena dianggap yang paling aman. Akan tetapi, ibu hamil tetap perlu izin ke dokter kandungan sebelum menggunakannya.
Apakah saraf kejepit bisa sembuh total hanya dengan obat?
Tidak, saraf kejepit umumnya tidak dapat sembuh total dengan hanya mengonsumsi obat-obatan.



