Trombosit turun (trombositopenia) terjadi ketika jumlah sel darah trombosit, yang membantu pembekuan darah berada di bawah normal, yaitu kurang dari 150.000 per mikroliter darah. Penyebab trombosit turun bisa terjadi karena berbagai faktor, termasuk infeksi virus seperti hepatitis C, HIV, gangguan autoimun, efek samping obat, hingga pengaruh gaya hidup tidak sehat seperti terlalu banyak konsumsi alkohol.

Trombosit turun adalah kondisi di saat kadar trombosit dalam tubuh berada di bawah batas normalnya. Pada orang yang sehat, jumlah trombosit normal adalah 150.000 hingga 450.000. Jika seseorang memiliki trombosit yang kurang dari 150.000 ribu per mikro liter. Maka orang tersebut mengalami yang namanya trombositopenia. Ketika jumlah trombosit seseorang terlalu rendah, maka berisiko menyebabkan pendarahan internal dan eksternal yang dapat berbahaya.
Penyebab Trombosit Turun
Trombositopenia bisa terjadi karena faktor keturunan atau genetik. Selain itu, dapat disebabkan oleh obat-obatan dan kondisi medis lainnya. Jumlah trombosit dalam aliran darah akan mengalami penurunan karena beberapa proses dalam tubuh, antara lain:
1. Tubuh Tidak Memproduksi Cukup Trombosit
Trombosit diproduksi di sumsum tulang, sehingga jika jumlahnya kurang, penyebabnya sering kali berkaitan dengan gangguan pada sumsum tulang itu sendiri. Beberapa faktor yang dapat menghambat produksi trombosit antara lain:
- Leukemia atau limfoma merusak sumsum tulang dan menghancurkan sel induk darah
- Jenis anemia tertentu seperti anemia aplastik, terjadi karena sumsum tulang gagal menghasilkan cukup sel darah baru
- Infeksi virus seperti cacar air, hepatitis C, atau HIV
- Obat kemoterapi dapat merusak sumsum tulang, meski umumnya bersifat sementara
- Konsumsi alkohol berlebihan memperlambat produksi trombosit untuk sementara waktu, terutama pada orang dengan kadar vitamin B12 atau folat yang rendah
- Paparan bahan kimia beracun seperti pestisida, arsenik, atau benzena
2. Tubuh Terlalu Banyak Menggunakan Trombosit
Kondisi dan obat-obatan tertentu dapat menyebabkan tubuh dengan cepat menghancurkan atau menggunakan trombosit lebih cepat daripada yang di produksi. Akibat kondisi tersebut, jumlah trombosit dalam aliran darah akan berkurang. Kondisi yang dapat meningkatkan penghancuran trombosit antara lain:
- Kehamilan. Kehamilan dapat memengaruhi jumlah trombosit di dalam tubuh. Namun, kondisi ini tergolong cukup normal dan biasanya membaik dengan segera setelah melahirkan.
- Penyakit trombositopenia imun. Penyakit autoimun seperti lupus atau rheumatoid arthritis dapat menyebabkan tubuh menyerang dan menghancurkan trombositnya sendiri.
- Thrombotic thrombocytopenic purpura. Thrombotic thrombocytopenic purpura merupakan kelainan pada darah yang membuat darah lebih cepat menggumpal. Penyakit ini akan membuat aliran darah ke seluruh tubuh tersumbat.
- Sindrom uremik Hemolitik. Sindrom uremik hemolitik terjadi ketika terdapat infeksi pada sistem pencernaan. Infeksi yang terjadi akan merusak sel-sel darah merah. Kondisi tersebut memengaruhi darah dan pembuluh darah. Kondisi ini mengakibatkan penghancuran trombosit dan sel darah merah. Jika dibiarkan terjadi, dapat menyebabkan gagal ginjal.
- Obat-obatan. Beberapa obat tertentu dapat mengurangi jumlah trombosit dalam darah. Misalnya, obat heparin, kina, antibiotik yang mengandung sulfa dan antikonvulsan, rifampisin, acetaminophen, dan carbamazepine. Obat tersebut dapat menginduksi respons imun terhadap trombosit yang mengakibatkan penghancuran trombosit secara cepat dan parah.
- Transfusi darah dan transplantasi organ. Transfusi darah dan transplantasi organ terkadang dapat menyebabkan gangguan imunologi yang mengakibatkan penurunan jumlah trombosit dalam darah.
- Cedera atau radang pembuluh darah. Mengalami cedera atau radang pembuluh darah dapat menyebabkan peningkatan penghancuran trombosit. Hal lain seperti operasi jantung juga dapat memicu penurunan jumlah trombosit.
- Infeksi berat. Beberapa infeksi berat, seperti sepsis terkadang juga dapat menyebabkan penurunan jumlah trombosit dalam tubuh.
- Kanker. Merusak sumsum tulang dan menghancurkan sel induk darah yang seharusnya berkembang menjadi trombosit sehat
3. Limpa Terlalu Banyak Menyimpan Trombosit
Limpa merupakan organ berbentuk menyerupai kepalan tangan berwarna keunguan yang terletak di sisi kiri perut, tepat di bawah tulang rusuk. Ukurannya bervariasi pada setiap orang, namun umumnya memiliki panjang sekitar 10 cm.
Organ ini berperan sebagai penyaring darah sekaligus membantu tubuh melawan bakteri, dengan cara mendaur ulang sel darah merah yang sudah tua serta menyimpan trombosit dan sel darah putih. Ketika limpa bekerja secara normal, jumlah trombosit yang beredar di seluruh tubuh pun tetap terjaga.
Namun, ketika limpa membesar akibat penyakit hati yang sudah parah atau kanker darah, organ ini dapat menahan trombosit dalam jumlah berlebihan. Akibatnya, jumlah trombosit yang beredar di dalam aliran darah menjadi berkurang dari yang seharusnya.
4. Sindrom Trombosis dengan Trombositopenia (TTS)
Sindrom trombosis dengan trombositopenia (TTS) adalah kelainan pembekuan darah yang sangat langka dan pernah dikaitkan dengan vaksin COVID-19 AstraZeneca. Kondisi ini ditandai dengan munculnya trombosis atau bekuan darah yang dapat terjadi di berbagai bagian tubuh, disertai jumlah trombosit yang rendah, dan juga dikenal dengan istilah vaccine-induced immune thrombotic thrombocytopenia (VITT).
Penyebab pasti terjadinya TTS masih belum sepenuhnya dipahami, namun diduga berkaitan dengan reaksi sistem kekebalan tubuh. Sebagian besar kasus muncul setelah dosis vaksin pertama, dan cenderung lebih berat ketika dialami oleh wanita usia muda.
5. Penyakit Demam Berdarah (DBD)
Penurunan jumlah trombosit saat demam berdarah terjadi karena beberapa hal yang saling berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh. Penyebabnya antara lain:
- Aktivitas sumsum tulang yang bertugas memproduksi trombosit menjadi tertekan akibat infeksi virus dengue
- Virus dengue secara langsung merusak trombosit, sehingga memengaruhi fungsi dan jumlahnya
- Antibodi yang terbentuk selama masa infeksi turut menghancurkan sejumlah besar trombosit
Jumlah trombosit biasanya mulai menurun drastis pada hari keempat sejak gejala muncul, dan pada orang dewasa yang tidak mengalami syok, penurunan ini berlangsung ringan hingga sedang antara hari ketiga sampai ketujuh sebelum kembali normal pada hari kedelapan atau kesembilan. Pada anak-anak, jumlah trombosit tidak selalu berbanding lurus dengan gejala perdarahan atau tingkat keparahan penyakit, sehingga tetap perlu diwaspadai tanda-tanda trombosit turun seperti bintik merah di kulit, tinja berwarna hitam, darah dalam urine, hingga penurunan kesadaran yang menandakan risiko komplikasi lebih serius.
Baca Juga: Penyebab Trombosit Tinggi
Apa yang Terjadi Jika Jumlah Trombosit Menurun dan Tidak Diobati?
Ketika jumlah trombosit terus berada di bawah batas normal dan dibiarkan tanpa penanganan, kondisi ini dapat menimbulkan berbagai risiko serius bagi kesehatan tubuh. Berikut beberapa bahaya yang bisa muncul akibat kadar trombosit rendah yang tidak segera diatasi:
- Perdarahan berlebihan dapat terjadi akibat luka ringan atau bahkan muncul secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas
- Kondisi darurat medis seperti kekurangan trombosit yang parah berisiko memicu perdarahan spontan di otak atau saluran pencernaan
- Proses penyembuhan luka yang terhambat karena trombosit berperan penting dalam pembekuan darah, kadar yang rendah dapat memperlambat penyembuhan
Meski begitu, hidup dengan kondisi trombosit rendah tetap bisa dijalani dengan baik selama dibarengi kewaspadaan dan penanganan yang tepat. Beberapa langkah yang dapat membantu mengelola kondisi ini antara lain:
- Hindari aktivitas berisiko tinggi untuk mencegah cedera yang dapat memicu perdarahan atau memar
- Kenali gejalanya seperti memar berlebihan, luka kecil yang sulit berhenti berdarah, atau adanya darah dalam urine maupun tinja
- Rutin periksa ke dokter untuk memantau kadar trombosit dan kondisi kesehatan secara berkala melalui tes darah
- Terapkan pola hidup sehat dengan makan bergizi, berolahraga teratur, dan menjaga waktu tidur yang cukup
- Batasi konsumsi alkohol karena dapat mengganggu fungsi trombosit dan menurunkan jumlahnya
Baca Juga: Fungsi Trombosit Tubuh dan Cara Menjaga Kesehatannya
Kapan Harus ke Dokter
Jika mengalami ciri-ciri trombosit turun seperti perdarahan yang tidak kunjung berhenti meski sudah ditangani sendiri, segera cari pertolongan medis tanpa menunda waktu. Kondisi ini bisa menjadi tanda bahaya yang memerlukan penanganan cepat dari tenaga medis profesional.
Segeralah pergi ke unit gawat darurat terdekat atau hubungi layanan ambulans untuk mendapatkan pertolongan segera. Semakin cepat penanganan dilakukan, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi yang lebih serius akibat perdarahan tersebut.
Baca Juga: 4 Cara Menurunkan Trombosit untuk Penderita Trombositosis
Jika keluarga dan kerabat Anda memiliki gejala-gejala tersebut, segera kunjungi dokter saraf Ciputra Hospital terdekat. Dapatkan kemudahan untuk konsultasi dan membuat janji dengan dokter pilihan Anda.
Cek informasi lengkap mengenai layanan Ciputra Hospital mulai dari rawat jalan hingga Medical Check Up (MCU), hanya di situs resmi atau kunjungi langsung fasilitas terdekat sekarang juga.




