Buat janji Ciputra HospitalWhatsapp Ciputra Hospital

Rumah Sakit Terbaik Berstandarisasi Internasional | Ciputra Hospital

  • Home
  • Rumah Sakit
    • CitraRaya Tangerang
    • CitraGarden City Jakarta
    • Ciputra Mitra Hospital Banjarmasin
    • Ciputra Hospital Surabaya
  • Fasilitas & Layanan
  • Center of Excellence
  • Cari Dokter
  • Artikel
  • Home
  • Artikel Kesehatan
  • Perilaku Agresif: Jenis, Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi
Asifah
Selasa, 24 Februari 2026 / Published in Artikel Kesehatan

Perilaku Agresif: Jenis, Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi

Ditulis oleh Tim Konten Medis

Perilaku agresif adalah bentuk tindakan atau perilaku sengaja yang bertujuan untuk menyakiti seseorang, hewan, atau merusak benda. Contoh perilaku agresif di antaranya adalah melakukan kekerasan fisik, berteriak, mengumpat, mengucapkan bahasa kasar, hingga melakukan tindakan kekerasan pada seseorang.

perilaku agresif adalah
Perilaku agresif ditandai dengan tidak terkontrolnya emosi seseorang.

Perilaku agresif dapat muncul akibat berbagai faktor, mulai dari tekanan emosional, lingkungan yang penuh konflik, hingga kesulitan mengelola emosi secara sehat. Jika tidak Anda sadari sejak awal, agresif dapat berkembang menjadi kebiasaan yang merugikan diri sendiri, orang lain, serta hubungan sosial dalam jangka panjang.

Mengatasi perilaku agresif perlu Anda lakukan dengan memahami pemicunya dan melatih respons yang lebih terkendali terhadap situasi pemicu emosi. Melalui pengelolaan emosi, dukungan lingkungan yang tepat, serta bantuan profesional bila perlu, perilaku agresif dapat terkendali dan mengarah ke cara yang lebih positif.

Daftar Isi

Toggle
  • Apa Itu Perilaku Agresif?
  • Gejala Perilaku Agresif 
    • Tanda Perilaku Agresif pada Anak dan Remaja
  • Penyebab Perilaku Agresif
    • 1. Faktor Biologis
    • 2. Faktor Lingkungan
    • 3. Faktor Psikologis
  • Jenis Perilaku Agresif
    • 1. Agresi Impulsif
    • 2. Agresi Instrumental
    • 3. Agresi Fisik
    • 4. Agresi Verbal
  • Cara Mengatasi Perilaku Agresif
  • Jenis Terapi untuk Mengatasi Perilaku Agresif

Apa Itu Perilaku Agresif?

Perilaku agresif sering berkaitan dengan luapan emosi seperti marah, frustrasi, atau kecewa yang tidak terkelola dengan baik sehingga mengekspresikannya secara merugikan. Yang di maksud dengan perilaku agresif adalah tindakan atau sikap yang bertujuan untuk menyakiti orang lain, hewan, atau merusak benda, baik secara fisik maupun verbal.

Contoh perilaku agresif tidak selalu berupa kekerasan fisik, tetapi juga bisa muncul dalam bentuk teriakan, kata-kata kasar, ancaman, menyebarkan gosip, atau merusak barang milik orang lain. Penting untuk Anda pahami bahwa agresif dan kekerasan bukanlah hal yang sepenuhnya sama karena tidak semua agresi berujung pada kekerasan fisik berat.

Baca Juga: Ciri-Ciri Orang yang Harus ke Psikiater, Ini Gejalanya

Gejala Perilaku Agresif 

Perilaku agresif dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari yang terlihat jelas hingga yang tersembunyi dan sulit Anda sadari. Mengenali ciri-ciri orang yang agresif sejak dini penting agar perilaku ini tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar dan mengganggu hubungan sosial maupun kesehatan emosional. Berikut tanda-tanda perilaku agresif:

  • Agresi fisik. Muncul dengan tindakan yang melibatkan kontak fisik untuk menyakiti, seperti memukul, menendang, mendorong, atau menampar. Perilaku ini biasanya dengan sadar dan bertujuan melukai orang lain.
  • Agresi verbal. Muncul dalam bentuk teriakan, kata-kata kasar, hinaan, makian, atau ucapan menyakitkan untuk melukai perasaan orang lain. Bentuk ini sering orang anggap sepele, padahal dampaknya bisa sangat mendalam.
  • Agresi relasional. Dengan cara merusak hubungan atau reputasi seseorang, misalnya menyebarkan gosip, memfitnah, atau memecah pertemanan. Agresi ini sering terjadi secara diam-diam dan sulit Anda kenali secara langsung.
  • Agresi bermusuhan. Merupakan luapan emosi yang bersifat spontan dan reaktif, biasanya karena rasa marah atau frustrasi yang kuat. Tujuan utamanya adalah melampiaskan emosi dengan cara menyakiti orang atau merusak benda.
  • Agresi pasif. Melalui sikap tidak langsung, seperti diam berkepanjangan, sindiran, komentar sarkastik, atau menyalahkan orang lain secara halus. Meski tidak terlihat kasar, bentuk ini tetap menyimpan niat negatif.
  • Agresi yang dipicu kondisi emosional. Perilaku agresif sering muncul saat seseorang merasa marah, kesal, bosan, atau emosinya sulit terkendali. Situasi yang terasa tidak adil, menekan, atau di luar kendali juga dapat memicu reaksi agresif.

Tanda Perilaku Agresif pada Anak dan Remaja

  • Ledakan emosi berlebihan, tantrum ekstrem, atau kemarahan yang sulit terkendali
  • Memukul, menendang, mendorong, atau menggunakan benda sebagai alat untuk melukai
  • Mengejek, menghina, atau memprovokasi teman sebaya
  • Mengancam akan menyakiti orang lain atau diri sendiri
  • Menyakiti hewan atau merusak barang milik orang lain
  • Berbohong dan mencuri
  • Sering membentak orang tua atau saudara
  • Mudah tersinggung, sangat impulsif, dan cepat marah
  • Merusak properti atau barang di rumah maupun lingkungan sekitar
  • Melakukan perundungan, mengucilkan, atau menyebarkan gosip
  • Menggunakan manipulasi untuk mengontrol atau mempertahankan status sosial
  • Mengucapkan ancaman terhadap orang lain atau diri sendiri

Penyebab Perilaku Agresif

Perilaku agresif tidak muncul begitu saja, melainkan karena kombinasi berbagai faktor yang saling berkaitan satu sama lain. Memahami penyebab perilaku agresif dapat membantu seseorang mengenali pemicunya lebih awal dan mengambil langkah tepat untuk mengelola emosi serta perilaku sehari-hari. Berikut penyebab perilaku agresif:

1. Faktor Biologis

Faktor biologis berkaitan dengan kondisi tubuh dan fungsi otak yang dapat memengaruhi respons emosi dan perilaku seseorang. Ketidakseimbangan hormon tertentu serta zat kimia di otak dapat membuat seseorang lebih mudah marah, impulsif, dan sulit mengendalikan dorongan agresif dalam situasi tertentu.

Selain itu, perbedaan struktur atau fungsi pada bagian otak yang berperan dalam pengaturan emosi dan reaksi stres juga dapat meningkatkan kecenderungan perilaku agresif. Kondisi ini bisa terbentuk sejak lahir atau berkembang seiring waktu akibat faktor genetik maupun kondisi kesehatan tertentu.

2. Faktor Lingkungan

Lingkungan tempat seseorang tumbuh dan berinteraksi memiliki peran besar dalam membentuk pola perilaku agresif. Seseorang yang sering menyaksikan kekerasan, pertengkaran, atau sikap bermusuhan di sekitarnya cenderung menganggap perilaku tersebut sebagai hal yang wajar.

Pengalaman traumatis, tekanan sosial, serta pola asuh yang keras atau tidak konsisten juga dapat memicu munculnya agresi di kemudian hari. Lingkungan yang penuh stres dan minim dukungan emosional membuat seseorang lebih rentan meluapkan emosi secara negatif.

3. Faktor Psikologis

Faktor psikologis berkaitan dengan kondisi mental dan kestabilan emosi yang memengaruhi cara seseorang bereaksi terhadap situasi tertentu. Gangguan kesehatan mental tertentu dapat meningkatkan risiko munculnya perilaku agresif, terutama jika tidak terkelola dengan baik.

Kondisi ini dapat membuat seseorang lebih impulsif, mudah tersinggung, dan kesulitan mengontrol amarah saat menghadapi konflik atau tekanan emosional. Beberapa kondisi psikologis yang sering berkaitan dengan perilaku agresif antara lain:

  • Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD)
  • Gangguan bipolar
  • Gangguan kepribadian ambang (Borderline Personality Disorder)
  • Sifat narsistik yang berlebihan
  • Gangguan stres pascatrauma (PTSD)

Baca Juga: Depresi dan Kecemasan: Gangguan Kesehatan Mental yang Perlu Kita Waspadai

Jenis Perilaku Agresif

Perilaku agresif dapat muncul dalam berbagai bentuk dengan latar belakang emosi, tujuan, dan cara penyaluran yang berbeda-beda. Dengan memahami jenis perilaku agresif, seseorang dapat lebih mudah mengenali situasi yang berpotensi memicu konflik serta menentukan respons yang lebih tepat dan aman.

1. Agresi Impulsif

Agresi impulsif adalah perilaku agresif yang muncul secara spontan akibat luapan emosi yang kuat seperti marah, kecewa, atau frustrasi. Tindakan ini biasanya terjadi tanpa perencanaan dan dipicu oleh situasi yang dirasakan sangat mengganggu atau menyakitkan secara emosional.

Pada kondisi ini, seseorang mungkin tidak berniat melukai orang lain sejak awal, tetapi bereaksi secara kasar karena sulit mengendalikan emosi sesaat. Agresi impulsif bersifat reaktif dan bisa muncul sendiri atau berkaitan dengan kondisi emosional tertentu yang membuat kontrol diri menjadi lebih lemah.

2. Agresi Instrumental

Agresi instrumental adalah perilaku agresif dengan tujuan tertentu, seperti mendapatkan kekuasaan, uang, perhatian, atau keuntungan lainnya. Dalam jenis ini, agresis sebagai alat untuk mencapai sesuatu yang diinginkan, bukan semata-mata karena dorongan emosi.

Perilaku ini biasanya dengan pertimbangan dan perencanaan, terutama ketika seseorang merasa tidak memiliki pilihan lain untuk mencapai tujuannya. Dampak negatif terhadap orang lain bisa menjadi konsekuensi yang dianggap wajar selama tujuan utama berhasil dicapai.

3. Agresi Fisik

Agresi fisik merupakan bentuk perilaku agresif yang melibatkan tindakan langsung untuk melukai tubuh seseorang. Bentuknya dapat berupa memukul, menendang, mendorong, menusuk, atau tindakan lain yang berpotensi menyebabkan cedera.

Selain menyasar orang lain, agresi fisik juga bisa mengarah pada diri sendiri dalam bentuk menyakiti tubuh secara sengaja. Jenis agresi ini paling mudah dikenali karena dampaknya terlihat secara nyata dan sering menimbulkan konsekuensi serius.

4. Agresi Verbal

Agresi verbal adalah perilaku agresif yang dilakukan melalui kata-kata untuk menyakiti, merendahkan, atau mengintimidasi orang lain. Contohnya meliputi berteriak, memaki, menghina, mengancam, menyebarkan gosip, atau melontarkan tuduhan tanpa dasar.

Meskipun tidak melibatkan kekerasan fisik, agresi verbal dapat menimbulkan luka emosional yang mendalam dan berkepanjangan. Dampaknya sering kali memengaruhi rasa percaya diri, kesehatan mental, serta kualitas hubungan sosial seseorang.

Cara Mengatasi Perilaku Agresif

Perilaku agresif dapat Anda kelola dengan pendekatan yang tepat agar emosi tidak meledak dan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Dengan belajar mengenali pemicu emosi serta melatih cara merespons yang lebih sehat, Anda bisa menyalurkan kemarahan secara lebih konstruktif dan terkendali. Berikut beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi perilaku agresif secara lebih efektif:

  • Mengenali tanda awal kemarahan, seperti rahang menegang, detak jantung meningkat, atau tubuh mulai berkeringat, agar Anda bisa segera mengendalikan diri sebelum emosi memuncak.
  • Melatih teknik relaksasi, seperti pernapasan dalam, meditasi singkat, atau relaksasi otot bertahap untuk membantu tubuh kembali tenang.
  • Fokus pada pancaindra, dengan menyadari apa yang Anda lihat, dengar, cium, sentuh, atau rasakan guna mengalihkan perhatian dari emosi negatif.
  • Menjauh sementara dari situasi pemicu, terutama jika kondisi memungkinkan, agar emosi tidak semakin meningkat.
  • Berolahraga ringan hingga sedang, seperti berjalan kaki atau stretching, untuk melepaskan energi berlebih akibat kemarahan.
  • Menghubungi orang tepercaya, seperti teman atau anggota keluarga, untuk mendapatkan dukungan emosional.
  • Mengalihkan perhatian dengan aktivitas lain, misalnya mendengarkan musik, membaca, atau melakukan hobi yang menenangkan.
  • Mengubah pola pikir negatif, dengan mencoba melihat situasi dari sudut pandang yang lebih rasional dan tenang.
  • Mengenali serta menerima emosi yang mendasari agresi, seperti rasa takut, kecewa, atau sedih, agar dapat diproses dengan lebih sehat.

Jenis Terapi untuk Mengatasi Perilaku Agresif

Terapi dapat menjadi pilihan yang efektif untuk membantu mengelola perilaku agresif, terutama jika kemarahan dan emosi negatif sulit Anda kendalikan. Jenis terapi yang dipilih biasanya sesuai dengan kondisi emosional, pola perilaku, serta masalah yang mendasari agresi tersebut agar hasilnya lebih optimal dan berkelanjutan. Berikut beberapa jenis terapi yang umum untuk mengatasi perilaku agresif:

  • Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Terapi ini membantu mengenali pola pikir dan perilaku yang memicu agresi, lalu menggantinya dengan respons yang lebih sehat. CBT juga melatih keterampilan coping agar emosi dapat Anda kelola dengan cara yang lebih tenang dan rasional.
  • Psychodynamic Therapy. Pendekatan ini berfokus pada pemahaman pengalaman masa lalu yang mungkin memengaruhi emosi dan perilaku agresif saat ini. Dengan mengenali akar masalah emosional, seseorang dapat memproses perasaan terpendam secara lebih mendalam.
  • Dialectical Behavior Therapy (DBT). Terapi ini menekankan pengembangan keterampilan mengatur emosi, menoleransi stres, dan memperbaiki hubungan interpersonal. DBT sangat membantu bagi individu yang mudah bereaksi berlebihan saat menghadapi tekanan emosional.
  • Interpersonal Therapy. Terapi ini membantu mengevaluasi pola hubungan yang memicu konflik dan agresi. Dengan memperbaiki cara berinteraksi dan berkomunikasi, suasana emosional dan hubungan sosial dapat menjadi lebih sehat.
  • Parent Management Training. Terapi ini untuk orang tua agar dapat mengelola pola asuh dan dinamika keluarga yang berkontribusi pada perilaku agresif anak. Pendekatan ini membantu menciptakan lingkungan rumah yang lebih positif dan mendukung perubahan perilaku.

Baca Juga: 4 Jenis Pola Asuh Orangtua, Bagaimana Cara Menentukannya?

Jika Anda atau keluarga Anda memiliki perilaku agresif, segera kunjungi Ciputra Hospital. Dapatkan kemudahan untuk konsultasi dan membuat janji dengan dokter pilihan Anda. 

Cek informasi lengkap mengenai layanan Ciputra Hospital, mulai dari rawat jalan hingga Medical Check Up (MCU), hanya di situs resmi atau kunjungi langsung fasilitas terdekat sekarang juga.

Telah Direview oleh dr. Dedari

Source:

  • betterhelp. How To Recognize Aggressive Behavior. Februari 2026
  • verywell mind. Aggression Explained: What It Is and How to Recognize It. Februari 2026
  • healthline. Aggressive Behavior: Understanding Aggression and How to Treat It. Februari 2026

Diperbarui pada 24 Februari 2026

Artikel Terkait

  • cara bangkit dari depresi
    10 Cara Bangkit dari Depresi
  • Cara Menghibur Orang Depresi
    10 Cara Menghibur Orang Depresi
  • Anak Depresi karena Orang Tua
    Anak Depresi karena Orangtua, Ini Penyebab dan Gejalanya
  • Tes psikologi depresi
    Inilah Rekomendasi 10 Tes Psikologi Depresi
Tagged under: Kesehatan Mental

Artikel Terkait

  • cara bangkit dari depresi
    10 Cara Bangkit dari Depresi
  • Cara Menghibur Orang Depresi
    10 Cara Menghibur Orang Depresi
  • Anak Depresi karena Orang Tua
    Anak Depresi karena Orangtua, Ini Penyebab dan Gejalanya
  • Tes psikologi depresi
    Inilah Rekomendasi 10 Tes Psikologi Depresi

Ciputra Hospital

Ciputra Hospital menyediakan layanan kesehatan berkualitas tinggi dengan fasilitas teknologi canggih.

Unit Rumah Sakit:

Ciputra Hospital – CitraRaya Tangerang
Ciputra Hospital – CitraGarden City Jakarta
Ciputra Mitra Hospital Banjarmasin
Ciputra Hospital Surabaya

Unit Klinik:

Ciputra Medical Center
Ciputra SMG Eye Clinic
C Derma
Ciputra IVF

Karir / Lowongan

  • GET SOCIAL

© 2025 All rights reserved. Ciputra Hospital

TOP