Ditulis oleh Tim Konten Medis
Cedera kepala adalah kerusakan pada kulit, tengkorak, atau otak akibat terkena benturan atau guncangan. Jenis cedera kepala bisa bervariasi, termasuk ringan hingga cedera kepala berat. Gejala cedera kepala berat bisa menyebabkan pusing, kebingungan, mual, hingga hilang kesadaran.

Cedera kepala dapat terbagi menjadi dua, cedera ringan dan berat.
Cedera kepala bisa terjadi karena benturan, jatuh, atau kecelakaan, dan sering kali dianggap sepele. Padahal, kondisi ini dapat berdampak serius, mulai dari pusing berkepanjangan, mual, gangguan konsentrasi, hingga penurunan kesadaran.
Penanganan kondisi ini bergantung pada tingkat keparahannya, mulai dari istirahat dan pemantauan di rumah hingga perawatan medis di rumah sakit. Pemeriksaan dokter sangat penting untuk memastikan tidak ada perdarahan atau cedera otak yang berbahaya dan untuk menentukan pengobatan yang tepat.
Apa Itu Cedera Kepala?
Cedera kepala adalah kondisi ketika fungsi otak, tulang tengkorak, atau kulit kepala terganggu akibat benturan atau pukulan dari luar. Kondisi ini dapat menimbulkan keluhan ringan hingga cedera otak yang serius.
Cedera kepala dapat berupa benjolan, memar ringan, gegar otak, patah tulang tengkorak, hingga luka pada kulit kepala. Jenis cedera ini sering terjadi akibat jatuh, kecelakaan, atau benturan keras.
Cedera kepala terbagi menjadi dua jenis, yaitu tertutup dan terbuka. Cedera kepala tertutup tidak menyebabkan tulang tengkorak pecah atau terbuka.
Sebaliknya, jenis terbuka menimbulkan luka hingga tulang tengkorak rusak dan dapat mengenai jaringan otak. Kondisi ini berisiko tinggi dan memerlukan penanganan medis segera.
Tingkat keparahan cedera kepala tidak selalu bisa terlihat dari tampilan luarnya. Ada cedera ringan yang tampak berdarah banyak, tetapi ada juga cedera berat yang tidak menunjukkan perdarahan.
Oleh karena itu, kondisi ini harus tertangani dengan serius. Pemeriksaan dokter perluk untuk memastikan kondisi dan menentukan penanganan yang tepat.
Baca Juga: Penyebab Pendarahan Otak dan Tanda-Tandanya
Jenis Cedera Kepala
Dokter membagi cedera kepala menjadi dua jenis utama, yaitu tertutup dan cedera kepala terbuka. Cedera kepala tertutup terjadi ketika kepala mengalami benturan tetapi tulang tengkorak tidak pecah, dan jenis ini paling sering orang alami.
Sementara itu, jenis terbuka terjadi ketika ada benda yang menembus tulang tengkorak hingga mengenai otak. Kondisi ini biasanya karena adanya benturan atau kecelakaan yang sangat keras dan termasuk cedera serius.
Cedera kepala terbagi dalam beberapa jenis. Berikut diantaranya:
1. Hematoma
Hematoma terjadi ketika darah berkumpul di luar pembuluh darah akibat cedera. Kondisi ini bisa berbahaya jika darah menekan otak dan meningkatkan tekanan di dalam tengkorak.
Tekanan yang meningkat dapat menyebabkan penderitanya kehilangan kesadaran. Jika tidak segera tertangani, kondisi ini bisa berujung pada kerusakan otak permanen.
2. Pendarahan di Dalam dan Sekitar Otak
Pendarahan di otak terjadi ketika pembuluh darah di dalam atau sekitar otak pecah dan darah keluar tanpa terkontrol. Kondisi ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu perdarahan subarachnoid dan perdarahan intraserebral.
Perdarahan subarachnoid terjadi di sekitar otak dan sering menimbulkan sakit kepala hebat serta muntah. Sementara itu, perdarahan intraserebral terjadi di jaringan otak dan dapat meningkatkan tekanan otak, terutama jika kondisinya sudah parah.
3. Gegar Otak
Gegar otak terjadi saat kepala mengalami benturan keras hingga fungsi otak terganggu. Gangguan ini biasanya bersifat sementara, tetapi tetap perlu Anda waspadai.
Jika benturan terjadi berulang kali, gegar otak dapat menyebabkan kerusakan otak permanen. Kondisi ini dapat memengaruhi daya ingat, konsentrasi, dan keseimbangan tubuh.
4. Pembengkakan Otak
Cedera pada otak dapat menyebabkan pembengkakan atau edema. Pembengkakan ini membuat tekanan di dalam tengkorak meningkat.
Tekanan yang terus bertambah dapat menekan jaringan otak dan tulang tengkorak. Akibatnya, fungsi otak bisa terganggu dan kondisi penderita dapat memburuk.
5. Fraktur Tengkorak
Tulang tengkorak sangat kuat, tetapi benturan keras tetap dapat menyebabkan patah tulang. Jika tengkorak retak atau patah, fungsi otak dapat ikut terganggu.
Pecahan tulang yang patah bisa melukai jaringan otak dan menyebabkan pendarahan. Kondisi ini termasuk cedera serius dan membutuhkan penanganan medis segera.
6. Cedera Aksonal Difus
Cedera aksonal difus terjadi ketika sel-sel otak rusak tanpa disertai pendarahan yang terlihat. Kerusakan ini menyebabkan fungsi otak terganggu dan dapat disertai pembengkakan.
Meski tidak tampak jelas dari luar, cedera ini sangat berbahaya. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan otak permanen hingga berisiko mengancam nyawa.
Baca Juga: Penyebab Pecah Pembuluh Darah di Otak dan Cara Mengatasi
Penyebab Cedera Kepala
Cedera kepala bisa terjadi akibat benturan atau gaya yang sangat kuat pada kepala. Guncangan keras pada tubuh juga dapat membuat kepala bergerak tiba-tiba dan menimbulkan cedera, meskipun tidak ada benda yang langsung mengenai.
Penyebab cedera kepala yang paling sering meliputi:
- Jatuh
- Kecelakaan kendaraan
- Kekerasan fisik
- Cedera saat berolahraga
Cedera kepala dapat dialami oleh siapa saja, tetapi risikonya lebih tinggi pada kelompok tertentu. Faktor risiko kondisi ini antara lain:
- Usia di atas 65 tahun atau anak di bawah 4 tahun
- Pekerjaan dengan aktivitas fisik berat
- Atlet olahraga fisik atau olahraga kontak
Gejala Cedera Kepala Ringan
Cedera kepala dapat terbagi menjadi dua, ringan dan berat. Keduanya memiliki ciri yang berbeda dan penanganannya juga berbeda.
Berikut ciri-ciri cedera kepala ringan yang mungkin Anda alami:
- Terdapat benjolan atau pembengkakan di area kepala Anda
- Pusing dan sakit kepala
- Mudah peka terhadap suara bising dan cahaya
- Mengalami kebingungan
- Mual
- Sulit berkonsentrasi dan mudah lupa
- Keseimbangan terganggu
- Penglihatan kabur dan terasa lelah
- Telinga berdenging
- Mudah lelah dan sulit mengontrol emosi
Gejala Cedera Kepala Berat
Jenis berat memiliki beberapa kondisi yang dapat diamati. Jika Anda mengalaminya, segera pergi ke dokter untuk mendapatkan bantuan professional.
Adapun ciri cedera kepala berat adalah:
- Penurunan tingkat kesadaran
- Mual dan muntah hebat
- Memori jangka pendek bermasalah, sehingga sulit mengingat terlebih pada peristiwa yang sifatnya traumatis.
- Bicara cadel
- Kesulitan berjalan
- Sulit menjaga keseimbangan, lemah di salah satu sisi
- Warna kulit menjadi pucat
- Kejang
- Darah atau cairan bening mengalir dari telinga atau hidung
- Pupil mata tidak bekerja semestinya. Saat terkena cahaya tidak bereaksi mengecil
- Terdapat luka atau robekan di kepala
- Hilang kesadaran atau koma
- Tidak dapat bicara atau bergerak sama sekali
Beberapa gejala mungkin mirip dengan masalah atau kondisi medis lain. Selalu konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis terbaik.
Pengobatan Cedera Kepala
Pengobatan cedera kepala disesuaikan dengan tingkat keparahan dan kondisi pasien. Tujuan utama pengobatan adalah mencegah kerusakan otak bertambah parah dan membantu pemulihan fungsi otak.
Dokter akan menentukan langkah perawatan yang paling aman dan tepat untuk setiap pasien. Berikut beberapa pengobatan cedera kepala yang umum dokter lakukan:
1. Obat-obatan (Medication)
Pada cedera otak berat, dokter dapat memberikan obat antikejang untuk mencegah kejang yang berisiko muncul dalam minggu pertama setelah cedera. Obat ini membantu melindungi otak dari gangguan aktivitas listrik yang berlebihan.
Jika cedera menyebabkan peningkatan tekanan di otak, dokter bisa memberikan obat diuretik. Obat ini membantu tubuh membuang cairan berlebih sehingga tekanan di dalam otak dapat berkurang.
Pada kondisi yang sangat serius, pasien dapat diberikan obat untuk membuat koma buatan. Tujuannya agar otak beristirahat dan membutuhkan lebih sedikit oksigen serta nutrisi selama proses penyembuhan.
2. Operasi (Surgery)
Operasi darurat dapat diperlukan untuk mencegah kerusakan otak yang lebih berat. Tindakan ini dilakukan bila terdapat masalah serius di dalam tengkorak.
Tujuan operasi dapat meliputi:
- Mengangkat hematoma
- Memperbaiki tulang tengkorak
- Mengurangi tekanan di dalam tengkorak
3. Rehabilitasi (Rehabilitation)
Pasien dengan cedera otak berat biasanya memerlukan rehabilitasi untuk memulihkan fungsi otak secara maksimal. Jenis rehabilitasi disesuaikan dengan kemampuan tubuh yang terganggu akibat cedera.
Rehabilitasi dapat membantu pasien melatih kembali gerakan tubuh dan kemampuan berbicara. Proses ini dilakukan secara bertahap dan membutuhkan waktu serta pendampingan tenaga medis.
Baca Juga: Penyebab Cerebral Atrophy, Gejala, dan Pengobatannya
Komplikasi Cedera Kepala
Komplikasi cedera kepala dapat terjadi ketika terjadi perdarahan di dalam tengkorak, seperti hematoma subdural. Penumpukan darah ini bisa menekan otak dan menyebabkan kerusakan serius bila tidak segera ditangani.
Kondisi ini juga dapat memicu perdarahan di dalam otak yang termasuk jenis stroke. Kondisi ini dapat menimbulkan kerusakan otak, baik sementara maupun permanen, tergantung tingkat keparahannya.
Pada cedera ringan, sebagian pasien dapat mengalami gangguan ingatan sementara dan sulit mengingat kejadian benturan. Namun pada cedera yang lebih berat, fungsi otak bisa terganggu permanen, mulai dari masalah ingatan, gangguan mental, keterbatasan gerak, hingga kondisi yang mengancam nyawa jika otak tidak mampu mengatur fungsi vital seperti pernapasan dan detak jantung.
Gejala cedera kepala yang harus segera diperiksakan ke dokter meliputi pingsan, muntah berulang, sakit kepala hebat, kejang, bingung, atau penurunan kesadaran. Anda bisa segera kunjungi Ciputra Hospital.
Dapatkan kemudahan untuk konsultasi dan membuat janji dengan dokter pilihan Anda. Cek informasi lengkap mengenai layanan Ciputra Hospital, mulai dari rawat jalan hingga Medical Check Up (MCU), hanya di situs resmi atau kunjungi langsung fasilitas terdekat sekarang juga.
Telah direview oleh dr. Valda Garcia
Source:
- Healthline. Head Injury. Januari 2026.
- Cleveland Clinic. Head Injury. Januari 2026.





