Keloid adalah pertumbuhan jaringan parut yang berlebihan setelah kulit mengalami luka dan dapat terus membesar dari waktu ke waktu. Cara mengatasinya dapat Anda lakukan dengan suntikan steroid, terapi laser, terapi radiasi dosis rendah, tindakan operasi, ligasi, pembekuan jaringan, dan menggunakan lembaran silikon.

Keloid merupakan kondisi penonjolan jaringan parut yang terbentuk akibat proses pemulihan kulit yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi tampilan kulit, tetapi juga dapat menimbulkan ketidaknyamanan fisik maupun emosional.
Benjolan keloid dapat terus membesar melampaui area luka awal dan muncul pada berbagai bagian tubuh. Penanganannya memerlukan metode yang tepat sesuai penyebab, lokasi, ukuran, serta kondisi kulit tiap individu.
Apa Itu Keloid?
Keloid adalah kondisi ketika jaringan parut tumbuh secara berlebihan setelah kulit mengalami luka, seperti terbakar, tertusuk, atau terkena goresan. Benjolan ini biasanya tampak mengilap, padat, halus, dan ukurannya dapat melebar lebih besar dari luka awalnya.
Keloid dapat muncul di berbagai area tubuh, terutama pada dada, punggung, wajah, dan daun telinga. Meskipun tidak membahayakan kesehatan, penyakit ini dapat menimbulkan rasa gatal atau nyeri serta menurunkan rasa percaya diri, namun berbagai metode pengobatan tersedia untuk membantu menguranginya.
Baca Juga: 10 Penyebab Benjolan di Belakang Telinga dan Pengobatan
Penyebab Keloid
Keloid disebabkan oleh proses penyembuhan luka yang tidak normal, di mana tubuh memproduksi kolagen secara berlebihan hingga membentuk jaringan parut yang terus tumbuh. Maka, penyakit ini dapat muncul setelah kulit mengalami luka kecil maupun besar, seperti gigitan kelabang, jerawat, tindikan, suntikan, luka bakar, atau gesekan ringan, dan dalam beberapa kasus muncul tanpa pemicu yang jelas.
Keloid bukan penyakit menular atau kondisi ganas. Kondisi ini berbeda dengan bekas luka hipertrofik yang biasanya tetap sesuai ukuran luka dan dapat memudar seiring waktu. Keloid dapat berkembang dalam jangka panjang dan pertumbuhan jaringan parutnya dapat melebar melebihi area luka awal.
Faktor Risiko
Beberapa faktor berikut seperti karakteristik kulit, riwayat pribadi maupun keluarga, serta rentang usia tertentu dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalaminya.
- Warna kulit lebih gelap. Keloid lebih sering muncul pada individu berkulit sawo matang hingga gelap, sehingga memiliki peluang lebih tinggi mengalami pembentukan jaringan parut berlebih.
- Memiliki riwayat pribadi atau keluarga. Risiko meningkat apabila sebelumnya pernah memiliki keloid atau terdapat anggota keluarga yang mengalami kondisi serupa, karena kecenderungan ini dapat bersifat menurun.
- Usia di bawah 30 tahun. Individu pada rentang usia 20-30 tahun lebih rentan mengalaminya dari pada kelompok usia lainnya.
Gejala Keloid
Ciri-ciri keloid berbahaya dapat Anda kenali melalui perubahan bentuk, warna, serta sensasi pada area bekas luka yang terus berkembang. Pertumbuhannya muncul secara bertahap dan berlangsung dalam jangka panjang sejak kulit mengalami cedera.
- Kulit menebal dan mengeras. Area bekas luka tampak menonjol, terasa padat, dan mengalami penebalan tidak lama setelah kulit mengalami cedera.
- Pertumbuhan berkelanjutan. Ukurannya dapat membesar dalam hitungan bulan hingga lebih dari satu tahun dan bahkan dapat terus berkembang selama beberapa tahun.
- Rasa gatal, nyeri, atau sensasi terbakar. Keloid dapat menimbulkan rasa tidak nyaman seperti perih atau nyeri, terutama saat terjadi gesekan atau pergerakan pada area persendian.
- Perubahan warna kulit. Warna keloid bisa sama, lebih gelap, atau lebih terang dari kulit sekitar, serta dapat tampak merah, pink, atau kecokelatan dan cenderung semakin gelap bila sering terpapar sinar matahari.
- Variasi bentuk dan ukuran. Keloid dapat berbentuk bulat, oval, hingga memanjang, dengan ukuran bervariasi dari kecil seperti jerawat hingga besar menyerupai benjolan.
- Perubahan tekstur. Permukaannya bisa terasa keras dan kenyal atau lebih lembut, kulit tampak halus, berkilau, hingga sedikit berkerut.
Keloid dapat muncul satu atau lebih pada berbagai bagian tubuh, paling banyak menemukannya di telinga, bahu, dada, punggung, perut, dan rahang.
Baca Juga: 17 Cara Cepat Menghilangkan Bekas Luka Menghitam di Kaki
Cara Mendiagnosis Keloid
Diagnosis keloid umumnya dilakukan melalui pemeriksaan fisik untuk menilai bentuk, ukuran, dan perubahan jaringan parut. Proses ini biasanya tidak memerlukan pemeriksaan tambahan karena tampilan keloid cukup khas.
Namun, dokter dapat melakukan biopsi kulit dengan mengambil sedikit sampel jaringan kulit untuk memastikan bahwa benjolan tersebut bukan berasal dari gangguan kulit lainnya
Risiko Komplikasi Keloid
Komplikasinya dapat menimbulkan gangguan fisik maupun emosional, terutama jika ukurannya semakin membesar dan muncul pada area yang terlihat. Kondisi ini juga dapat memengaruhi kenyamanan serta kualitas hidup seseorang dalam jangka panjang.
- Perubahan warna kulit permanen. Jaringannya dapat menggelap secara permanen apabila sering terpapar sinar matahari.
- Rasa nyeri berkelanjutan. Nyeri dapat tetap terasa meskipun pertumbuhannya sudah berhenti.
- Penurunan rasa percaya diri. Penampilannya bisa memicu rasa minder, cemas, hingga membatasi interaksi sosial.
Cara Mengatasi Keloid
Ada berbagai cara menghilangkan keloid yang dapat dipilih sesuai dengan ukuran, lokasi, dan kondisi kulit masing-masing. Penanganan ini bertujuan untuk mengecilkan jaringan parut, mengurangi keluhan, serta memperbaiki penampilan bekas luka agar lebih nyaman dan tidak mengganggu aktivitas.
- Cryotherapy (pembekuan jaringan). Prosedur ini dengan membekukan jaringan keloid dari dalam sehingga ukurannya dapat mengecil, namun dapat menyebabkan warna kulit tampak lebih terang pada beberapa orang.
- Suntikan steroid. Memberikan obat keloid secara bertahap untuk membantu mengecilkan jaringan parut, tetapi dalam beberapa kasus keloid bisa tumbuh kembali setelah beberapa waktu.
- Pemberian obat tertentu. Dokter dapat memberikan obat suntik atau obat oles yang membantu mengurangi pertumbuhan jaringan berlebih, dan terkadang dikombinasikan dengan terapi lain untuk mendapatkan hasil yang lebih efektif.
- Tindakan operasi. Prosedur ini dengan memotong jaringan keloid untuk mengangkatnya, namun biasanya perlu Anda kombinasikan dengan perawatan tambahan agar bekas luka tidak muncul kembali.
- Terapi tekanan. Menggunakan perban khusus, pakaian tekanan, atau alat tertentu yang memberikan tekanan pada area keloid untuk membantu mencegahnya tumbuh kembali setelah tindakan medis.
- Gel atau lembaran silikon. Menggunakannya secara rutin untuk membantu meratakan dan melembutkan keloid, baik saat masih terbentuk maupun setelah tindakan operasi.
- Terapi laser. Melakukan untuk membantu memperkecil ukuran dan memperbaiki warna keloid, dan sering dikombinasikan dengan metode pengobatan lainnya.
- Ligasi (pengikatan benjolan). Keloid diikat menggunakan benang medis khusus untuk menghentikan suplai darah hingga jaringan terlepas secara bertahap.
- Terapi radiasi dosis rendah. Digunakan setelah tindakan medis lain untuk membantu mencegah pertumbuhan ulang jaringan parut, namun memerlukan pertimbangan lebih lanjut karena dapat memengaruhi kesehatan kulit dalam jangka panjang.
Cara Mencegah Keloid
Mencegahnya dapat Anda lakukan terutama bagi Anda yang memiliki kecenderungan mengalami pertumbuhan jaringan parut berlebih. Perawatan luka yang tepat dan pemilihan tindakan medis yang bijak dapat membantu menurunkan risiko terbentuknya keloid.
1. Merawat Luka dengan Benar
Pastikan luka selalu bersih dan lembap dengan mencuci menggunakan sabun lembut serta mengoleskan salep yang dianjurkan. Penggunaan bantalan tekanan atau lembaran silikon selama masa penyembuhan dapat membantu meminimalkan munculnya jaringan parut berlebih.
Bagi yang baru melakukan tindik telinga, penggunaan anting tekanan dapat membantu mencegah pembentukan keloid. Langkah ini dapat terus Anda lakukan hingga proses pemulihan benar-benar selesai.
2. Menghindari Cedera Kulit yang Tidak Perlu
Usahakan untuk tidak melakukan tindakan yang berisiko menimbulkan luka seperti tato, piercing, atau prosedur kosmetik yang tidak mendesak. Bahkan luka kecil seperti garukan, jerawat, dan rambut yang tumbuh ke dalam dapat memicu pembentukan keloid.
Jika harus menjalani operasi, sampaikan kepada dokter bahwa Anda memiliki kecenderungan keloid agar dokter dapat terapkan teknik pencegahan yang sesuai. Ikuti petunjuk perawatan pascaoperasi secara disiplin untuk memaksimalkan proses penyembuhan.
Baca Juga: 12 Penyebab Luka Lama Sembuh, Apa Faktor Risikonya?
Jika Anda atau keluarga Anda mengalami gejala penyakit keloid, segera kunjungi Ciputra Hospital. Dapatkan kemudahan untuk konsultasi dan membuat janji dengan dokter pilihan Anda.
Cek informasi lengkap mengenai layanan Ciputra Hospital, mulai dari rawat jalan hingga Medical Check Up (MCU), hanya di situs resmi atau kunjungi langsung fasilitas terdekat sekarang juga.



